The Queen Azzura

The Queen Azzura
Bab 69


__ADS_3

Azzura dipapah dengan hati-hati oleh mereka dan langsung dinaikan keatas kereta dorong. “Hati-hati,” Ucap Selir Maya yang masih memegangnya.


“Kita ke arah selatan,” Selir Maya memberi tahu kusir karena disebalah Selatan Kereta kuda mereka menunggu. Azzura dan Selir Maya naik di kereta sementara yang lain berlari mengikuti.


Ditengah perjalanan saat suasana sudah tidak terlalu ramai bahkan hampir tidak ada orang sama sekali, tiba-tiba kereta dorong merek dihentikan oleh beberapa orang di sebuah gang sempit.


“Siapa kalian?” Teriak Selir Maya.


“Aduh Nyonya, mengapa anda teriak seperti itu, kami hanya ingin melihat-lihat saja.” Lelaki itu mendekati kereta dorong mereka.


Kusir itu maju. “Tuan tolong jangan rampok mereka, aku juga butuh makan.” Keluhnya.


“Ah, minggir! Berisik sekali.” Lelaki itu mendorong kusir tuan itu dan terjatuh.


Azzura yang merasakan sakit kepalanya menjadi kesal dengan adegan itu, dia langsung menatap beberapa lelaki yang mendekat.


Dua orang pengawal Azzura langsung menghadang dan berjaga untuk melindungi Azzura, dari jumlah jelas kalah. Kelompok preman itu terdiri dari sepuluh laki-laki berbadan tegap dan kekar.


Sementara meski para pengawal tidak kalah tegap dan kekar namun jumlah mereka sangat jauh.


“Nona, kau bangsawan dari mana? Aku tidak pernah melihat mu.” Ucapnya dengan gaya menggoda.


“Apa seperti ini keadaan Kota? Sungguh mengerikan.” Batinnya kesal saat melihat preman-preman itu ingin merampoknya.


“Apa kalian tidak ada kerjaan lain?” ucap Azzura yang merubah nada bicaranya.


Para lelaki itu tertawa dan semakin mendekat kearah Azzura, namun dua pengawal tadi menghalangi dengan senjata mereka.

__ADS_1


“Aduh, kalian ini sudah tidak takut mati? Sudahlah lebih baik kalian lari dan tinggalkan Nona dan Nyonya cantik itu Bersama kami.” Mereka semua tertawa lebar dengan sangat Bahagia.


“Menjijikkan,” Batin Azzura. Sedangkan Selir Maya memegang kuat lengan Azzura dan merasa takut.


Pertaruangan para pengawal dan preman itu terjadi, awalnya satu orang bisa mereka lumpuhkan. Namun Ketika beberapa orang mulai melakukan penyerangan para pengawal Azzura kalah dan terjatuh tepat di roda keretanya.


Azzura hanya menghela nafasnya. Sedangkan Selir Maya semakin gemetaran ketakutan. “Azzura bagaimana ini?” Ucapnya dengan nada yang bergetar.


Tiba-tiba salah satu preman itu sudah ada disamping Azzura dan mencoba memegang wajahnya. Azzura langsung waspada dan menangkap tangan preman itu lalu memelintirnya dengan kuat.


Preman itu teriak kesakitan, dan Azzura melempar tangannya dengan kasar membuat preman itu mundur dengan cepat dan memegang tangannya yang sangat sakit, seperti dipatahkan.


Saat Azzura ingin turun tiba-tiba Anita maju dan menendang Preman itu. “Kalian jangan berani menyentuh Nona ku.” Ucapnya dengan nada tinggi.


Azzura langsung terkejut dan memandang Anita yang berani melawan preman-preman itu. “Gadis kecil mundur lah, kau bisa mati meski hanya ku dorong.” Ucap salah satunya lagi yang datang mendekat.


Namun tanpa diduga, Anita menghalanginya dan memukul wajah preman itu dengan kuat sehingga preman yang satunya merintih kesakitan. “Beraninya kau!” beberapa maju untuk menghajar Anita.


Azzura melihat keahlian bela diri Anita menjadi kagum dan semakin bertanya-tanya. “Siapa sebenarnya kau Anita?” Batin Azzura yang tidak lepas memandang setiap pergerakan dalam pertarungan Anita.


Sementara Selir Maya hanya menutup mulut dan sesekali menutup matanya melihat Anita yang bertarung dengan sengit dan lincah melawan semua preman tadi.


Tanpa diduga juga Anita bisa melumpuhkan semua preman tadi dan membuat mereka lari terbirit-birit dengan ketakutan.


“Anita,” panggil Azzura yang melihat Anita sudah kelelahan.


Anita menengok kearah Azzura dengan nafas tersengal-sengal. “Tuan Putri, anda tidak apa-apa?” dia bertanya.

__ADS_1


Azzura turun dari kereta dan menyambut Anita yang kelelahan. “Kau ini bodoh atau apa? Nekat melawan mereka sendirian.” Kesal Azzura dan tiba-tiba Anita pingsan.


“Anita!” Teriak Azzura membuat semua orang terkejut.


Disaat bersamaan beberapa pengawal kerajaan tiba, mereka mendapat kabar dari Kepala toko yang melaporkan Putri Mahkota tadi seperti kelelahan dan pergi dengan kereta dorong menuju kereta kerajaannya.


Awalnya mereka kebingungan mencari dimana Putri Mahkota, namun saat mendengar pertarungan dari selah Lorong dan juga mendengar teriakan Azzura. Mereka semua langsung berlari menghampiri sumber suara.


Akhirnya semua Kembali dengan selamat ke Istana, dan tidak ada yang boleh memberitahu kan kejadian tadi pada yang mulia Ratu atau Raja.


“Ada apa ini?” Ratu Elena yang mendengar jika Azzura dan rombongan sudah pulang langsung menghampirinya, namun dia melihat Anita yang dibopong oleh beberapa pengawal menjadi khawatir.


“Ibu,” Sapa Azzura dengan senyuman.


“Yang Mulia,” Selir Maya juga memberi hormat.


“Ada apa dengan pelayan mu Putri?” Tanya Ratu Elena.


“Anita kelelahan Ibu, di Pusat Kota sangat ramai sehingga dia mabuk keramaian.” Jelas Azzura.


“Hah, mabuk keramaian? Apa maksudnya?” Ratu Elena bingung dengan jawaban Azzura.


“Selir apa itu mabuk keramaian, tolong jelaskan pada Ibu Ratu, aku akan melihat pelayan ku dulu.” Azzura langsung pergi dan menyerahkan semua pada Selir Maya yang kebingungan.


“Selir?” Ratu Elena menatapnya dengan tajam.


Selir Maya bingung dan menghela nafas pelan. “Lebih baik kita bicara didalam yang mulia,” Ajak Selir Maya.

__ADS_1


Mereka datang di saat hampir menjelang sore hari, karena waktu mereka pergi tadi sudah mendekati jam makan siang. Membuat Selir Maya juga sedikit kelelahan dan ingin duduk untuk minum segelas air.


Mereka masuk dan duduk diruang aula pertemuan para Selir dan Ratu. Sedangkan Anita dibawa keruang perawatan agar segera ditangani Dokter.


__ADS_2