
Penyusup itu bangun tapi hampir terjatuh lagi, darah dari punggungnya sudah mengalir deras dan dia juga sudah kelelahan, dengan menatap tajam Azzura menekan penyusup itu.
“Siapa yang mengirim mu?” dengan nada penuh penekanan Azzura berjalan semakin mendekat.
Dengan senyum sinis penyusup itu berkata. “Yang jelas dia adalah orang yang tidak menginginkan mu hidup!” Tegasnya.
Saat Azzura ingin Kembali menghajar penyusup itu, pintu kamar nya di buka dan muncul Anita Bersama Teyo dan beberapa pengawal. Dengan cepat dan memiliki kesempatan penyusup itu menerobos jendela lalu berlari dengan sekuat tenaga lalu menghilang.
“Kejar!” Teriak Teyo.
Semua pengawal pergi mengejar penyusup itu dengan kekuatan penuh.
“Anda baik-baik saja Tuan Putri?” Khawatir Teyo.
Anita langsung menggandeng tangan Azzura dan membimbingnya untuk duduk. “Anda tidak terluka Tuan Putri?” Anita lebih sangat khawatir.
Sebelum penyusup itu masuk tadi,Azzura memerintahkan Anita untuk mengendap-endap keluar kamar mencari Teyo dan membawanya kemari supaya bisa menangkap Si Penyusup.
Namun Anita kesulitan mencari Teyo, jika bukan karena seorang pelayan yang memberitahu bahwa Teyo ada dikandang kuda mungkin Anita akan langsung Kembali dan membantu Tuan Putrinya.
Sedangkan Jarak Kandang Kuda dan kamar Azzura yang ada didepan cukup jauh dan memakan waktu.
“Maafkan aku Tuan Putri, ini salah ku. Aku lengah.” Teyo merasa bersalah dan menyesal.
“Tidak apa-apa, hanya saja aku belum tahu siapa yang menyuruh penyusup itu untuk membunuh ku.” Sesal Azzura.
__ADS_1
“Membunuh?” Serempak Anita dan Teyo.
“Benar, penyusup itu yang mengatakannya.” Jawab Azzura dengan menatap kosong ke depan.
Dikehidupan dulu terlalu banyak orang yang ingin membunuhnya, sehingga saat ini untuk pertama kalinya sifat asli mereka keluar dia jadi bingung menentukan siapa diantara salah satu penghianat itu.
“Aku akan memeriksa sekeliling dan memperketat penjagaan,” Saat akan berbalik seorang pengawal datang dengan nafas tersengal-sengal.
“Maaf tuan, yang mulia. Penyusup itu berhasil melarikan diri, kami kehilangan jejak. Hanya saja kami menemukan bambu ini dibawah jendela kamar anda.” Dengan menunjukan bambu itu Pada Teyo, lalu Teyo mengambilnya.
“Perlihatkan pada ku,” Minta Azzura.
Teyo memberikan bambu kecil itu dan Azzura menerimanya. Azzura sangat memperhatikan bambu itu dengan seksama lalu melihat dibagian ujungnya ada ukiran tanda namun Azzura sulit membacanya karena terlalu gelap.
"Simpan ini Anita, ini bisa menjadi barang bukti.” Perintah Azzura.
“Aku Lelah, kalian boleh pergi.” Azzura berkata.
Semua orang keluar kecuali Anita. Yang membantu Azzura Kembali keranjang. “Aku akan berjaga semalaman Tuan Putri.” Ucap Azzura.
“Baiklah.” Jawab Azzura yang langsung merebahkan badan lalu tertidur.
Sementara Anita duduk dengan tenang namun tetap waspada seraya membaca buku di kursi Sofa.
Keesokan paginya setelah sarapan mereka semua sudah bersiap dan langsung hendak berangkat melanjutkan perjalanan. Pemilik penginapan tersenyum namun terlihat khawatir, Azzura menyadari hal itu langsung menyapanya.
__ADS_1
“Ada apa Tuan? Anda Seperti orang yang kebingungan?” Tanya Azzura.
Tiba-Tiba Pemilik penginapan dan beberapa orang langsung berlutut memohon ampun. “Hamba benar-benar meminta maaf Yang Mulia, aku sudah mendengar kejadian semalam. Ini kelalaian ku dan juga kesalahan ku.” Dengan menangis pemilik Penginapan mengakui kesalahannya Ketika mendengar Azzura hampir terbunuh saat menginap di sana.
“Sudahlah, lagi pula aku juga lengah, dan lupa akan status ku sehingga membahayakan diri sendiri dan orang lain.” Ucap Azzura dengan bijak.
“Bangun lah, Aku sudah akan berangkat. Lebih baik doakan aku sampai dengan selamat.” Ucap Azzura lagi.
“tentu, tentu Tuan Putri, kembalilah kekerajaan dengan selamat, sehat dan tetap baik-baik saja.” Tidak lama Rombongan itu berangkat melanjutkan perjalanannya.
Selama perjalanan Azzura dan yang lain tidak membuka percakapan yang berarti sampai menjelang sore mereka sampai di Gerbang Kerajaan Timur. Rencana kedatangan mereka sudah didengar sejak beberapa hari yang lalu.
Jadi penyambutan mereka juga sudah dipersipkan, Vargas secara langsung menyambut Rombongan Azzura dipintu gerbang Utama Kerajaan. Dengan tersenyum dia mendekati Teyo yang turun dari Kuda.
Vargas menyalami Teyo dan melirik sekilas kearah Kereta Kuda milik Azzura. Lalu mempersilahkan mereka untuk berjalan masuk. Semua Rakyat Timur berdiri dipinggir jalan untuk melihat Putri Kerajaan Barat yang terkenal akan kecantikannya.
Azzura membuka tirai kereta kudanya lalu menengok keluar jendela, para rakyat yang melihat langsung bersorak. “Tuan Putri, Tuan Putri…” Panggil mereka.
Azzura tersenyum manis membuat orang-orang yang melihat semakin Bahagia, mereka sangat berharap jika Tuan Putri kerajaan Barat menjadi Ratu mereka kelak, karena Mereka hanya memiliki Pangeran saja.
Sesampainya di Gerbang Istana Raja Dan Ratu yang langsung menyambut Azzura. Terutama Raja Alanzo, sejak pertemuan mereka yang pertama waktu itu, Raja Alanzo langsung menaruh perhatian dan harapan besar pada Azzura.
Reyna pun melihat itu hanya menggeleng, dia pernah berkata Azzura harus memilih salah satu Putra nya untuk menikah dengan nya. Supaya kelak dapat menyatukan Kerajaan Barat dan Timur dengan baik.
Azzura turun dari kereta Kuda dengan bantuan Anita. “Akhirnya kau sampai Juga Tuan Putri.” Sapa Raja Alanzo dengan tidak sabaran.
__ADS_1
Azzura yang mendengar hanya tersenyum dan memberi hormat pada mereka Berdua. “Apa kabar Paman, Bibi?” Sapa Azzura.
Ratu Reyna langsung memandang Suaminya terkejut, baru ini Azzura memanggil mereka dengan santai. “Baik, Baik… Ayo segera masuk kau pasti sudah Lelah.” Ajak Ratu Reyna langsung dengan memegang tangannya dan Azzura mengikutinya.