The Queen Azzura

The Queen Azzura
Bab 43


__ADS_3

Felix kembali meletakkan teh nya dimeja samping mereka dan berjalan memandangi kuda-kuda yang siap dimasukkan kekandang.


“Kau lihat sekarang Azzura, Ayah mu benar-benar menjadi seorang Raja.” Felix menghela nafas panjang dan memandang langit dengan sendu.


Azzura ikut merasakan kekhawatiran Pamannya. Dia juga ingat jika Pamannya ini bukan tipe yang suka berbagi pada orang lain namun tidak juga terlalu tertutup.


Tidak lama Azzura mengingat buku pemberian Kakek nya dan pengetahuan Sihir sang Paman. “Paman, apa kakek seorang Ahli Sihir?” Tanya Azzura yang membuat Felix tertawa.


Azzura merasa bingung dengan sikap Pamannya, Felix kembali duduk dikursinya. “Aku mempelajari tentang Pengetahuan Sihir, bukan menggunakan Sihir. Kakek mu juga seperti itu. Hanya Ayah mu saja yang malas dan tidak mau berhubungan dengan sihir sama sekali.” Ucapnya dengan pelan.


“Ah, iya. Besok Andres akan datang. Sepertinya ada kabar baik tentang Sihir Nyonya Galenia.” Ucapnya mengalihkan topik.


“Apa benar?” Azzura senang sekaligus heran.


“Sepertinya kau tidak yakin,”


“Bukan, hanya saja mengapa harus dia yang datang langsung. Bukankah bisa menitipkan pesan pada seseorang yang dipercaya.” Azzura merasa inj terlalu berlebihan.


“Ketika kita sudah membahas masalah ini, banyak yang ingin tahu dan mungkin saja pohon ini juga memiliki telinga,” Ucap Felix dengan mengangkat kedua bahunya.


Azzura terdiam. “Memang benar. Jika memerintahkan orang lain. Resiko akan tersebar dan menjadi masalah semakin besar. Lagi pula untuk apa ada orang suruhan dari Timur menemui mereka, tapi jika itu Pangeran Andres langsung mereka tidak akan terlalu dicurigai.” batinnya.


Azzura kembali melihat Pamannya yang santai. “Apa Paman tahu kita sedang menjadi bahan pergunjingan?” Tanya Azzura.


“Hem… bukan kah kau sudah menyelesaikannya.” Dia tersenyum dan berdiri.


“Sudah hampir malam dan udara semakin dingin. Kembalilah segera.” Felix pergi meninggalkan Azzura yang masih terdiam.


Selir Luisa sudah mendapatkan kabar bahwa Bibi Ula sudah datang dan menuju kamarnya. Bibi Ula disambut dengan baik oleh Selir Luisa dan juga Putrinya.


"Mari duduk lah dulu," ajak Selir Luisa dengan ramah.


Bibi Ula duduk disamping Selir Azzura. dan menatap semua orang yang ada disitu satu persatu.


Selir Luisa langsung membuka pembicaraan tanpa basa-basi.

__ADS_1


“Ah, Bibi. Apa kau bisa melihat apa yang terjadi pada Putri Mahkota?” tanya Selir Luisa.


Bibi Ula menengok dan menatap Selir Luisa. “Memangnya apa yang terjadi dengan Putri Mahkota?” Dia merasa bingung.


“Entahlah, aku merasa ada yang berbeda dari dirinya. Sekarang dia menjadi lebih berani, seperti bisa membaca masa depan.” Ucap Selir Luisa.


Bibi Ula tersenyum sinis. “Bukan hal sulit, jika dia memakai Sihir akan lebih mudah mengetahuinya.” Ucapnya tertawa.


Selir Luisa dan Vanesa saling pandang dengan tersenyum. Akhirnya mereka merencanakan bagaimana bisa mendekati Azzura tanpa dicurigainya.


Keesokan harinya Azzura yang sedang asik menata taman pribadinya diberitahu Anita bahwa Selir Luisa mengajaknya minum teh ditaman kerajaan. “Bilang padanya aku sedang sibuk,” Acuh Azzura dan dijawab anggukan oleh Anita yang langsung pergi.


Selir Luisa yang mendapat penolakan dari Azzura menjadi kesal. “Beraninya dia menolak undangan ku,” Dengan mengepalkan tangan merasa kesal.


“Ibu, Azzura benar-benar sudah meremehkan kita. Bagaimana jika kita mengguna-gunanya lebih dulu supaya dia menurut dengan kita.” Saran Vanesa.


"Tidak, aku lebih suka menyiksanya dari pada membuatnya menurut pada ku, " dengan tersenyum licik Selir Luisa memikirkan sebuah rencana.


Selir Luisa tersenyum dan langsung memanggil Bibi Ula. “Aku bisa mengaturnya Selir,” Ucap Bibi Ula yang pergi mempersiapkan apa yang diminta Selir Luisa.


“Orang itu...” Azzura merasa pernah melihat wanita Tua itu tapi dimana dia sedikit lupa.


Azzura mengacuhkannya dan lamgsung pergi keruang kerja sang Paman yang ternyata sudah ada Pangeran Andres disana. “Selamat siang Pangeran.” Sapa Azzura yang langsung masuk.


Andres terkejut dan langsung memberi hormat. “Tuan Putri anda sudah disini?” Tanya nya.


Felix yang sedang mencari sebuah buku langsung melihat Azzura. “Cepat sekali kau datang?” Tanyanya dengan sedikit menyindir.


“Jika aku tidak datang dengan cepat. Aku bisa mati penasaran.” Dengan melirik sinis sang Paman. Sedangkan Felix dan Andres tersenyum mendengar ucapan Azzura.


“Ah, dimana pula buku itu.” Ucap Felix yang kebingungan.


“Buku apa yang kau cari?” Azzura mendekatinya.


“Ada buku pedoman tentang sihir dan macam-macamnya. Tapi aku lupa dimana meletakkannya,” Dengan panik dia berfikir.

__ADS_1


“Jika buku itu tidak aku temukan segera, bisa sangat gawat.” Ucap Felix dengan terus mencoba mengingat dia meletakkannya dimana.


“Mau ku bantu cari?” Tawar Azzura.


“Aku juga akan membantu. Tapi sebelumnya kita tutup pintu ruangan ini untuk berjaga-jaga.” Ucap Pangeran Andres dengan waspada.


“Mereka bertiga sibuk dalam ruangan itu mencari buku yang hilang, setelah dua jam Azzura yang sedang sedikit menunduk melihat ada Buku yang terselip dibawah lemari paling ujung. Setelah dia berusaha menunduk lebih rendah dan merogohnya dengan tangan akhirnya berhasil mengambil buku itu.


“Paman, aku menemukan sebuah buku,” Teriaknya.


Felix dan Andres segera mendekati Azzura. Felix mengambil buku tersebut dan melihatnya. “Ini dia,” Senyum dibibirnya langsung terukir.


Karena lelah serta sangat berkeringat Azzura mencari minum dan duduk agak jauh dari mereka berdua yang sibuk membuka buku tersebut.


Azzura duduk didekat jendela Ruangan Pamannya itu, karena Ruangan itu ada dilantai atas dan menghadap ke taman yang berada ditengah kastil jadi Azzura bisa melihat dengan luas kegiatan orang-orang dibawah dari jendela itu.


Saat memperhatikan diluar dia melihat sosok Bibi Ula dan pelayan lain sedang berjalan menuju kamar Ratu yang berada di ujung lorong tengah Kastil.


“Wajah itu…” Azzura mencoba menyipitkan matanya dan mengingat wajah Bibi Ula, serta memperhatikan hiasan dikepalanya.


“Dia,” Teriak nya membuat yang lain terkejut.


“Ada apa Azzura?” Felix melihat Azzura yang langsung berdiri.


“Paman, apa ada perekrutan pelayan baru?” Tanya Azzura cepat.


“Bukan kah urusan itu bisa kau tanyakan pada Selir Maya atau Inez?” Jawab Felix. Membuat Azzura kembali menatap keluar dan pergi meninggalkan Ruang kerja Felix.


“Ada apa dengannya,” Heran Felix dengan menggeleng.


Andres merasa ada sesuatu dan langsung ikut menyusul Azzura. “Hei mengapa kau pergi juga.” Kesal Felix yang tidak ditanggapi Andres.


Azzura yang memakai gaun panjang berlari dengan kencang kearah kamar Ibunya. Pikirannya sudah kemana-mana. Diingatan Azzura, wanita paruh baya itulah yang berada disamping sang ibu saat dinyatakan meninggal dunia, bahkan dia juga yang mengatur pemakaman Ibunya.


Kecurigaannya muncul karena wanita itu memakai tusuk konde yang khas, berbentuk bunga berwarna merah ang sangat khas dan diujungnya ada rumbai, Itulah yang membuka kembali ingatan Azzura.

__ADS_1


Sedang kan Pengeran Andres tetap mengikuti dari belakang tanpa memanggilnya.


__ADS_2