The Queen Azzura

The Queen Azzura
Bab 35


__ADS_3

Ini adalah malam pertama Azzura tidur sebagai Putri Mahkota, ia langsung tidur dan bermimpi sangat aneh, didalam mimpi itu dia seperti dikejar-kejar seseorang ditengah hutan dan tidak ada yang bisa menolongnya. Berlari dengan kencang sampai dia terpojok ke ujung jurang yang sangat dalam, sedangkan orang yang mengejarnya tetap berlari dengan membawa senjata untuk membunuhnya.


Saat terdesak Azzura memilih untuk lompat kedalam jurang yang berujung pada air laut yang dalam. Dengan pakaian kerajaan yang berat membuat Azzura kesulitan berenang dan hampir tenggelam. Namun dari kejauhan dia melihat ada yang mengulurkan tangan untuk menolongnya. Ketika dia akan menggapai tangan itu dan mendekati penolongnya dia melihat wajah Pangeran Andres.


Azzura langsung terbangun dari tidurnya karena terkejut. Nafasnya tersengal-sengal dan dia memegang dadanya yang terasa sesak seperti benar-benar baru saja tenggelam. Dia mencari minum karena merasa sangat haus, lalu duduk dikursi dan mencoba untuk tenang.


”Mengapa sekarang aku sering bermimpi aneh dan seperti sangat nyata?” bisiknya.


“Mengapa juga wajah Pangeran Andres yang muncul?” dengan masih banyak pertanyaan yang membingungkan, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.


“Nona apakan anda sudah bangun?” Panggil seorang pelayan.


Azzura merapihkan rambut dan pakaian tidurnya lalu membukakan pintu. Ada lima pelayan yang sudah berdiri didepan pintu kamarnya.


Dia hanya mengenal Kepala pelayan wanita yaitu Bibi Leya. Sedangkan yang lainnya pelayan dengan wajah sangat muda dia tidak mengenali mereka. Azzura memepersilahkan mereka berlima masuk sedangkan dia duduk dikursi.


Bibi Leya menjelaskan padanya mengenai semua pelayan yang dibawa. Sebelumnya Azzura sudah mengatakan pada Ibunya bahwa Lola sudah dia kirim ke Camp Pelatihan dengan alasan dia membutuhkan Pengawal wanita yang handal.


Dan Ratu Elena menyetujui itu, karena Lola masih muda kemungkinan dalam waktu singkat dia bisa menjadi pengawal setia Azzura yang saat ini menjadi Putri Mahkota.


“Nona, kami diutus Ratu untuk melayani anda. Empat orang pelayan muda ini akan bertanggung jawab pada semua kerperluan anda.” Ucap Bibi Leya dengan lembut.


Azzura hanya memandangi mereka tanpa menjawab apa-apa. Setelah memperhatikan mereka Azzura langsung berkata. “Aku hanya membutuhkan dua orang pelayan, Kau dan kau. Siapa nama kalian?” Azzura menunjuk kepada Gadis dengan tubuh sedikit gemuk dan wajah bulat. Sedangkan satunya Gadis dengan wajah yang berjerawat dan giginya gingsul.


Bibi Leya heran dan langsung melihat kearah Ana dan Anita yang ditunjuk Azzura. “Apa anda yakin Tuan Putri?” tanya Bibi Leya yang bingung Azzura hanya butuh dua pelayan.


Azzura mengangguk dan menyuruh mereka berdua maju. “Siapa nama mu?” Tanya nya kepada Ana.

__ADS_1


Ana gugup, dia adalah pelayan baru dikediaman Kerajaan. Jadi ketika langsung mendapatkan tugas melayani Putri Mahkota tidak henti-hentinya merasa takut. “Aku-Aku… Ana Tuan Putri.” Jawabnya tergagap.


“Kau?” Menunjuk kearah Anita.


“Hamba Anita Tuan Putri Azzura.” Dengan sangat sopan dan santun dia menjawab.


“Baiklah Bibi, yang lain boleh pergi. Aku tidak suka terlalu banyak orang dikamar ku.” Ucap Azzura seraya berdiri dan melihat tumpukan kota-kotak pakaiannya.


“Baik Tuan Putri, Kami permisi.” Bibi Leya dan dua pelayan lainnya langsung pergi meninggalkan kamar Azzura.


“Ana, susun kotak-kotak ini berjajar.” Perintah Azzura dan Ana langsung bergegas mengerjakannya.


“Anita, siapkan air panas untuk aku mandi.” Lanjutnya.


“Baik Tuan Putri.”


Kamar Putri Mahkota sangat besar dan ada banyak lemari disini, bahkan Azzura memiliki Ruang belajar sendiri. Dengan cepat dia memerintahkan mereka membereskan semua kotak-kotak itu sesuai arahan Azzura.


Lola sudah menyusun pakaianya sesuia dengan apa yang dia mau. Jadi ketika melihat kotak nya saja dia langsung tahu apa isinya.


Azzura juga telah menyimpan Kotak berisi peninggalan sang Kakek. Tidak ada yang boleh membuka dan mengetahui isinya selain Dia dan Lola. Hanya Lola yang dipercayanya saat ini, jadi dia berharap Lola dapat dengan cepat menyelesaikan pelatihannya dan kembali bersamanya lagi.


Setelah selesai membersihkan diri Azzura bersiap untuk sarapan pertama kalinya dengan Raja dan Ratu serta keluarga lainnya. Raja Cariann sangat menjunjung tinggi nilai kekeluargaan jadi sejak dulu dia sudah mewajibkan setiap jam makan harus duduk bersama.


Semua Selir dan anak-anak mereka juga memiliki kamar sendiri-sendiri. Saat semua nya sudah bersiap akan pergi sarapan, Lily masih saja mengoceh karena semua pakaian yang dibawa tidak sesuai dengan yang dibutuhkannya. Saat ini kamar nya sangat berantakan dan para pelayan yang melayaninya menjadi susah dan bingung.


Selir Inez mendengar keramaian dikamar Lily mendatangi Putrinya tersebut. “Ada apa lagi Lily?” Tanya sang Ibu.

__ADS_1


”Aku tidak bisa menemukan pakaian yang ku inginkan bu,” Rengeknya dan kembali duduk diranjang dengan masih mengenakan pakaian dalam.


“Kalian keluarlah,” Perintaj Selir Inez kepada beberapa orang pelayan dikamar itu.


Selir Inez menghampirinya dan duduk bersebelahan dengan Lily. “Dengar, mulai sekarang kau harus menjaga sikap mu. ini bukan lagi di Mansion yang bisa dengan seenaknya kau berprilaku.” Ucap Selir Inez karena tidak mau Putrinya direndahkan dengan tingkah dia.


“Tapi bu, aku benar-benar tidak mau mengenakan pakaian-pakaian ini di Kerajaan. Pakaian ini membuat ku terlihat tidak cantik,” Dengan tetap bersikeras Lily memohon pada Ibunya.


“Nanti siang penjahit kerjaan akan datang untuk mengukur pakaian mu, jadi pakai dulu yang ada.” Selir Inez berjalan dan mengambil satu gaun untuk dikenakan Lily.


Dia memberikannya dan diterima Lily dengan malas. “Pakai ini, dan segera pergi keruang makan.” Selir Inez pergi tanpa menunggu jawaban Lily yang masih enggan memakai baju itu.


Tapi dengan terpaksa Lily tetap mengenakan pakaian lamanya, dia tidak mengira jika Kerajaan belum menyiapkan baju untuknya. “Apa-apaan ini,” Kesalnya dan terpaksa menganti pakaiannya dengan bantuan pelayan yang sudah kembali masuk kekamarnya.


Azzura dengan anggunnya berjalan, aura Putri Mahkota sudah terlihat didirinya dan membuatnya sangat bersinar dari yang lain. Semua orang memperhatikan dia tanpa berkedip karena kagum. Tidak terkecuali Raja dan Ratu yang melihat Putri mereka itu sudah sangat siap untuk menjadi Putri Mahkota dan membantu sang Ayah memimpin kerajaan.


Sampai Azzura duduk semua orang masih memandangnya, bereda dengan Selir Luisa, Vanesa Dan Selir Inez yang acuh dan enggan melihat kearah Azzura.


“Menjijikkan,” Bisik Vanesa meremehkan.


Azzura mengerti tatapan remeh Vanesa padanya. “Kakak mengapa kau duduk disana? Kenapa tidak duduk disamping ku supaya kau terlihat.” Maksud ucapan Azzura yang menyindir jika Vanesa sangat jauh berbeda dari pada dirinya yang saat ini.


Vanesa geram dengan ucapan Azzura dan matanya berbinar menandakan sangat marah, Namun Raja Cariann mendengar ucapan Azzura langsung memerintahkan Vanesa untuk bergabung dengan Azzura.


“Benar Vanesa kau dan Lily duduklah berjajar dengan Azzura. Kalian semua Putri ku." Dengan tersenyum lebar Raja Cariann memerintahkannya pindah, begitu juga dengan Lily yang baru datang.


Azzura hanya diam tersenyum manis tanpa menatap mereka. Dengan terpaksa Vanesa dan Lily duduk bersebelahan dengan Azzura.

__ADS_1


__ADS_2