The Queen Azzura

The Queen Azzura
Bab 84


__ADS_3

“Bertaruh?” Vanesa berfikir.


“Benar, ini akan membuat seru pesta kali ini, siapa yang kalah harus minum tiga sampai lima teguk anggur langsung dari botolnya.” Tantang salah satunya lagi.


“Benar Vanesa, ini adalah malam mu, jangan mau kau dikalahkan oleh Tuan Putri dimalam ini.” Hasut yang lain.


Vanesa semakin terpancing dan menyetujui permainan itu, dia langsung maju dan berdiri tepat dihadapan Azzura.


“Tuan Putri,” Sapa Vanesa.


“Kakak,” Azzura menjawab.


“Apa kau mau bermain dengan ku Tuan Putri?” Ajak Vanesa dengan gaya menantang.


Azzura tersenyum tipis. “Permainan apa itu kak? Mengapa kau mengajak ku?” tanya Azzura.


“Apa anda setuju?” Tanya Vanesa meyakinkan.


“Aku harus mengetahui permainan apa dulu itu kak,” Azzura tidak mau gegabah.


Vanesa terlihat kesal karena Azzura sangat hati-hati. Dengan terpaksa dia memanggil pelayan untuk membawakan apa yang dimintanya tadi.


“Aku mempunyai bola ini, siapa yang bisa melempar dan menahannya dikaki paling lama dialah pemenangnya, yang kalah harus minum anggur ini langsung dari botolnya dalam lima teguk,” Tantang Vanesa dengan yakin seraya menunjukan bola seperti Ping Pong.


Azzura menatap tajam Vanesa yang terlihat sangat ingin mempermalukan dirinya, karena dia tahu Azzura tidak kuat minum.


“Aku yang akan maju terlebih dahulu,” tiba-tiba Nidia maju tanpa diminta.


“Anda sepertinya harus melawan seseorang yang sebanding dengan mu Nona Vanesa,” Ejek Nidia, dia tahu jika Azzura belum berumur delapan belas tahun jelas saja akan kalah.

__ADS_1


“Nidia berani nya kau menyela Nona Vanesa,” Ucap salah satu Putri bangsawan.


“Aku tidak menyela Nona Nona dan Tuan Putri, ini sangat tidak pantas seharusnya Nona Vanesa tahu mana lawan yang seimbang dengannya. Dan kalian semua tahu Tuan Putri Azzura belum berusia tujuh belas tahun, jika Ratu mengetahuinya kira-kira siapa yang disalahkan?” tegas Nidia.


Pemandangan itu menjadi perhatian semua orang. “Bagaimana Nona Vanesa?” tekan Nidia.


“Benar apa kata Nidia, Vanesa ingin membahayakan Putri Mahkota, ckck…” Singgung yang lainnya lagi.


“Tidak seperti itu, ini pesta ku, jadi aku hanya ingin bersenang-senang sedikit sebelum menikah. Lagi pula untuk apa Putri Mahkota ikut bergabung disini jika tidak bisa minum?” Ejek Vanesa.


Azzura maju dan menyuruh Nidia menyingkir. “Kakak, sebegitu bencinya kah kau pada ku? Aku datang karena ingin ikut berbahagia dengan mu. Apa tidak boleh?” Dengan wajah sedih Azzura berkata.


Mendengar perkataan Azzura, wajah Vanesa menjadi panas. Kata-kata Azzura menusuk dan mempermalukan dirinya, selama ini Vanesa terkenal dengan Gadis yang lembut, baik hati dan sayang pada adik-adiknya.


“Azzura, apa maksud mu berkata seperti itu?” Tanya Vanesa kebingungan.


“Kau mengajakku bermain tapi kau tidak memikirkan Kesehatan ku, kau tahu jika aku tidak bisa minum bukan,” Sekali lagi kata-kata Azzura membuat pandangan sinis semua orang tertuju pada Vanesa.


Azzura dan yang lainnya terdiam. “Ayo lanjutkan musik dansanya,” teriak Lily pada pemain musik.


Semua orang Kembali pada kesibukan berbincangnya dengan yang lain. Azzura duduk di kursi yang berada disamping orchestra. Sedangkan Vanesa duduk di singgasana khusus karena dia Ratu pesta malam ini.


Lily berdiri disamping Vanesa dan berbisik padanya. “Kak, kau jangan ceroboh. Aku tahu kau ingin memberi pelajaran pada Azzura,” Bisik Lily dari samping Vanesa.


“Diam kau, aku tidak butuh nasehat mu.” Dengan marah Vanesa berbicara pada Lily.


“Aku tahu kau tidak senang dengan ucapan ku, tetapi aku punya ide bagus jika kau mau mendengarkannya.” Hasut Lily sekali lagi.


Kali ini Vanesa diam dan berfikir. Tidak lama dia menatap kearah Lily. “Apa ide mu?” Tanya nya penasaran.

__ADS_1


Lily tersenyum lalu berbisik pada telinga Vanesa. Vanesa tersenyum senang dan menatap Azzura yang sedang berbincang dengan Gadis-gadis yang lain.


“Aku setuju.” Jawab Vanesa selesai Lily berbisik.


Malam pesta lajang berlangsung dengan sukses, Vanesa sangat Bahagia, rangkaian acara yang dibuat oleh Protokol kerajaan juga berjalan lancar, para Gadis sudah Kembali ke penginapan yang disediakan oleh kerajaan.


Mereka tiba dikamar masing-masing termasuk Azzura, dia tiba dikamar Bersama Ana. “Anita dimana?” Tanya Azzura sebelum masuk ke kamar.


“Kemungkinan di kamarnya Tuan Putri, karena ini sudah larut.” Jawab Ana.


“Hemm.. kau bantu aku untuk salin.” Ucap Azzura.


“Baik,” Ketika dia membuka pintu langsung tercium aroma yang aneh oleh Azzura. “Bau apa ini?” Kesal Azzura seperti mencium bau busuk dan langsung menutup hidungnya.


"Ada apa tuan Putri?” Tanya Ana.


“Apa kau tidak mencium bau busuk?” Azzura kesal karena Ana justru bertanya.


Ana bingung karena tidak mencium Aroma apapun, dia masuk dan mencoba mengendus. “Hamba tidak mencium aroma apapun Putri.” Jawab Ana yang sudah berada didalam kamar sedangkan Azzura diluar pintu kamar.


“Apa hidung mu tersumbat? Kalian apa tidak mencium aroma busuk ini?.” Tegasnya Azzura bertanya pada pengawal yang berjaga.


Mereka mengendus dan saling berpandangan, lalu menggeleng. “hais, ada apa kalian ini. Ana panggil Anita.” Perintahnya karena merasa Anita yang mempunyai insting dan penciuman yang paling bagus.


Tidak lama Anita datang dengan tergesa-gesa. “ada apa Tuan Putri?” tanyanya langsung.


“Masuk dan cium aroma didalam kamar.” Perintahnya.


Anita masuk dan mengendus agak lama sampai kepenjuru kamar.” Tuan Putri tidak ada aroma apapun.” Jawab Anita.

__ADS_1


Azzura bingung dan semakin heran, dia memaksakan masuk. Aroma ini tidak menyengat namun jika tercium rasanya ingin muntah. Dia melihat sekeliling seperti mencari sesuatu.


Tidak lama matanya terhenti pada satu kantung yang tergantung di pojokan lemari bukunya. Lalu mendekati kantung itu, tiba-tiba badannya terasa gatal dan Azzura langsung menjauh berlari keluar kamar.


__ADS_2