
___***___kita
"Abang gak salah rumah kan,Dek?"tanya Rojali ambigu.
Membuat kening mulus perempuan yang berdiri di sebelahnya berkerut,bingung.
" Abang lupa sama rumah sendiri?baru juga ditinggal seminggu kan?"
tanya Fatimah membalas pertanyaan ambigu lelaki berpostur tinggi itu.
Rojali terkesiap,ia mengerjapkan matanya yang sempat terpukau pada bangunan di atas lahan seluas 120m² yang ada di hadapannya kini.
Kemudian ia menoleh ke arah perempuan cantik berkerudung magenta itu.
Dengan gamis polos dan kerudung yang menjulur melewati dada.
Ia tersenyum karena penampilan sang istri semakin baik lagi.
Tubuh yang molek itu meskipun belum ia lihat seluruhnya.
Tapi, ia tahu sesuatu yang teramat indah sedang di bungkus dengan sempurna kini.
Dan,semua itu adalah miliknya.
Bagaimana para lelaki itu tak mengejar mu?
Meski dirimu sudah terbungkus rapat namun kecantikan alami itu tetap menguar hebat.
(Sungguh,tepat keputusanku.
Karena kini hak ku di atas segalanya dan kewajiban ku untuk melindungi mu tidak kan terhalang apapun lagi.)
Rojali mengelus ujung kepala yang terbungkus kain kerudung panjang.
Sungguh ia merasa sangat beruntung,ini adalah balasan dari tuhan atas segala kesabaran nya.
Sehingga Allah memberi nya tempat untuk pulang.
"Bukannya Abang lupa,tapi rumahnya beda sama yang seminggu lalu,"
"Rumah Abang tadinya gubuk,kenapa sekarang jadi bagus banget begini?"
Fikirannya menerawang memikirkan apa yang sebenarnya terjadi atau siapa yang mampu melakukan ini.
"Nih,rumah Abang kayak gini harusnya," ujar Rojali sembari menunjukkan sebuah gambar yang ia ambil beberapa waktu yang lalu di ponselnya,kepada sang istri.
"Masyaallah,masa dalam waktu seminggu bisa jadi begini Bang?"
"Ajaib...!" pekik Fatimah dengan matanya yang membola dan kedua tangan menangkup kedua pipinya.
"Apa ini,yang di maksud oleh Mama lewat pembicaraan di telepon?" lirih Rojali sambil memandang tak berkedip rumah dan halamannya yang rapih.
Betapa tidak rumput gajah mini bak karpet membentang seluas pekarangan.
Berbagai tanaman hijau dan juga bunga mengitari sekeliling rumah.
Pohon mangga kuntet (gak pernah berbuah)yang sejak ia tanam lima tahun lalu sudah di tebang di ganti pohon jambu air yang di cangkok.
"Mungkin ini hadiah yang Mama bilang tadi pagi," ujar Fatimah dengan ceria dan mata berbinar.
Ia bisa merasakan kasih sayang sang ibu mertua.
Lewat perhatian-perhatiannya dari hal terkecil sekalipun.
Kemudian Fatimah menarik lengan Rojali,mengajaknya masuk hingga kini mereka berdiri mematung di depan teras.
"Kok bengong si Bang?bukannya di buka?"
"Kasian itu Abang angkotnya kelamaan," ucapnya menyadarkan sang suami yang masih tampak pangling dengan rumahnya sendiri.
Untung saja engsel kuncinya tidak di ganti,hanya daun pintunya saja yang berbahan kayu lebih tebal yang di pelitur sangat halus sekali.
Rojali memberi perintah kepada sang sopir angkot,agar meletakkan barang-barang di ruang tamu saja.
Ketika kunci berputar dan berbunyi klik,seketika itu juga daun pintu itu membuka lebar.
Membuat sepasang netra Rojali membendung buliran-buliran kristal yang hendak tumpah.
"Wah,rumahnya bagus bener Bang Jali,"
decak si sopir angkot terkagum dengan mata nya yang berbinar dan mulut yang terbuka lebar.
__ADS_1
Apalagi barang-barang mewah yang tersusun rapi di ruang tamu.
Mungkin baru ini kali pertama bagi si sopir untuk melihatnya.
Pandangan Rojali terus berpendar ke sekeliling rumah.
Ia memeriksa semua ruangan dengan deru nafas yang hampir tercekat.
Semua ruangan nya berubah semakin rapih dengan cat dan wallpaper yang begitu kontras dengan furnitur nya.
Beberapa barang mewah dengan kisaran harga puluhan juta itu memenuhi rumah nya kini.
Di mulai dari ruang tamu,
Ruangan dengan desain minimalis ini juga bisa untuk santai keluarga,makan cemilan sambil nonton tivi.Bahkan sudah lengkap dengan segala fasilitasnya.
Rojali mengulurkan tangan ke arah wanita yang sudah berkaca-kaca sejak tadi.
Ia menggenggamnya kemudian menuntunnya menuju kamar utama,kamar pribadinya.
Inilah penampakan yang terlihat sejak pintu kamar terbuka.
Kamar bernuansa pengantin baru,bertabur bunga yang harumnya menguar mengusik jiwa-jiwa yang rindu akan penyatuan.
Mereka saling melirik kemudian tersenyum.
Mengeratkan pegangan satu sama lain,hingga kini mereka berdiri berhadapan.
Netra yang bertubrukkan itu saling mengunci erat,menyelusup hingga kedalam.
Mengikis jarak diantara mereka berdua, hingga kedua tubuh yang menghangat itu semakin menempel erat.Rojali melingkarkan tangannya,menarik pinggang ramping berbalut gamis agar semakin tak berjarak dengannya.
Hembusan nafas hangat dari wanitanya,seakan meniup-niup wajahnya.Ia tidak bisa mengalihkan pikirannya dari bibir yang ranum menggoda.
Tautan hangat yang sedikit basah itu tejadi begitu saja.
Hingga akhirnya kesadaran Fatimah menghentikan tabrakan benda kenyal itu seketika.
"Ish,Abang ni...,pintu nya masih terbuka..."lirih Fatimah sambil membulatkan matanya yang besar itu.
" Lupa,he..."cengir Rojali
Dengan jemari yang saling bertautan,biarlah kang sopir menyaksikan,toh hanya berpegangan tangan.
Tepat di sebelah,terdapat kamar yang lebih kecil.
Tadinya Rojali menjadikan ruangan itu sebagai tempat untuk solat saja.
Dengan kasur single,mungkin bisa untuk menginap apabila ada saudara yang berkunjung.
Si kembar mungkin?
Mungkin kapan-kapan Rojali akan mengajak Farhan dan Fadlan menginap.
Seru-seruan nonton dvd atau main game.
Rojali mengajak Fatimah melihat dapurnya dan ia yakin pasti akan dirubah juga.
Lelaki itu tak sabar dengan kejutan selanjutnya.
Dan,benar saja...
"Masyaallah...," lirih Rojali,rasa syukur dan bahagia itu begitu memenuhi rongga dadanya.
(Di kemanakan kompor usangku?
Juga panci dan wajan yang sudah berubah menjadi baja hitam.)
"Adek bakalan betah masak ini mah!" seru Fatimah dengan mata yang berbinar.
Jemari lentiknya terus menyusuri satu persatu perabotan yang sebagian menggunakan tenaga listrik itu.
Fatimah menanyakan dimana tempat untuk mencuci baju dan menjemur.
Tapi sepertinya ia akan ke kamar mandi dulu.
Rojali pun menunjukkan nya hingga mereka kembali tercengang dengan apa yang tampak di hadapan mereka berdua.
__ADS_1
Bagi Rojali yang sedari lahir hidup dengan kemewahan dan kecanggihan tekhnologi.
Bukanlah hal yang luar biasa melihat kamar mandi yang nampak seperti di hotel bintang 5 ini.
Namun ia tak menyangka saja akan mempersembahkan sedikit kemewahan bagi istrinya dalam waktu secepat ini.Di dalam hati ia berdoa teruntuk wanita yang selama ini sudah membersamainya bahkan sejak didalam kandungan.
Semoga Allah berikan sehat dan usia yang barokah.
Semakin ta'at dan istiqomah pada jalan yang di tempuhnya kini.
Wanita yang sudah banyak berjuang untuknya.
Takkan pernah bisa kau balas jasa seorang ibu,meski kau menggendongnya dari mekkah ke madinah kemudian tawaf mengelilingi ka'bah.
Tidak akan!
Hanya bakti dan kasih sayang mu lah,yang beliau butuhkan.
Biasa bagi Rojali tapi tidak bagi Fatimah.
Dirinya yang sejak bayi hidup di rumah sederhana.
Tak pernah menyaksikan kemewahan ini langsung di depan matanya.
Ya,ia hanya melihat di film atau novel yang di bacanya.
Ia merasa sedang berada di dunia halu nya sekarang.
Semua ini,bagai mimpi...
Ia yang sejak awal mengenal sosok lelaki yang telah menjadi imamnya kini.
Apa adanya dan sangat sederhana.
Seorang tukang ojek yang tengil lagi kumal.
Namun,sopan santun dan ketulusannya yang membuat nya melabuhkan hati itu.
Ia menerima apa adanya,bagaimana pun keadaannya.
Soal harta bisa di kumpulkan bersama.Mereka akan membangun rumah tangga itu dari nol.
Rejeki sudah ada takarannya masing-masing bukan?
Dan,inilah bukti kekuasaan Allah atas rejeki itu.
Bahwa rejeki itu misteri,kita tidak tau apa yang akan kita dapat nanti.Teruslah berusaha dengan doa dan tawakkal.
Akan ada saatnya dimana dirimu berada di titik roda teratas.
Kemudian mereka beralih keruang paling belakang dari rumah itu.
Ruang mencuci dengan pintu samping.Udara segar pepohonan menyeruak masuk,menyusup lewat pintu teralis yang terbuka.
Rojali mengambil ponsel yang bergetar di kantung jaketnya.
Sebuah panggilan telepon dari sang adik,Jihan.
Ia membiarkan Fatimah terus menyisir ruang belakang.Hingga ketika menoleh ke samping...
Terdapat taman kecil dengan pot-pot tanaman mini,sontak Fatimah menggeser pintu yang terbuat dari kaca tebal yang tembus pandang itu.
Meskipun di bangun di atas sisa tanah yang sempit,namun terlihat indah memanjakan mata.
(Bisa duduk-duduk sambil minum kopi dan baca novel nih.)
Ya,itulah selintas pikiran yang ada di benak Fatimah.
"INNALILLAH...!"
"MAMA...!"
Hai kalian pembaca Rojali dan Fatimah.
Mak Chibi kasi konflik dulu gapapa yaa...
di next bab,🤭🤭
Abis pada seneng kan tu di ajak mampir ke rumah baru nya babang Jali ganteng.
__ADS_1
Tetep stay tune...jangan lupa dukungannya😘😘😘