
___®®___
Sembarangan...!"
Tak ayal Rojali melayangkan jitakannya tepat di atas ubun-ubun pemuda itu.
Membuat seketika tawa bergelegar dari teman-temannya.
"Ya,dapet lah!"
"Ini,Abang kesini justru mau minta restu abi sekalian konsultasi,"
Protes Rojali terhadap asumsi nyeleneh pemuda tanggung di sebelahnya itu.
"Kirain...,abis mukanya meragukan gitu,"
"Ude Bang ah,ampuunn!"
Pekik pemuda tanggung itu sambil menutupi atas kepalanya dengan buku yang di bawa nya.
Ketika Rojali kembali mengangkat kepalannya.
Pemuda yang lain hanya geleng-geleng melihat interaksi keduanya.
"Lu pade udeh kelar setoran ke abi belon?"
tanya lelaki rupawan itu meski dandanan nya kucel sekalipun.
"Ni,baru kelar Bang,"
"Eh,kite denger suara cempreng si Jambul,"
"Ternyate beneran Abang kite nyang dateng,"jawab salah satu pemuda dengan kain sarung yang di sampirkan ke pundak.
" Bagus,bagus!"
"Kencengin lagi hafalan nye ye,"
"Abang mao masuk dulu,abis entu baru deh kite ngeband,"
"Kangen juge,nabok-nabokin begituan."
Mereka berenam serempak tertawa kemudian Rojali pun berlalu dari hadapan mereka.
Rojali melangkah melewati aula besar tempat para santri menyetor hafalan atau mendengar tausiah.
Kemudian ia masuk ke sebuah ruangan baca.
__ADS_1
Sebuah ruangan yang lebih mirip dengan perpustakaan kecil.
Ya,tempat yang ia datangi memang bukan pesantren.
Tapi ada beberapa santri yang menginap untuk menimba ilmu islam,menghafal al quran.
Belajar ilmu beladiri.
Bahkan ada yang memang ingin menenangkan diri dengan lebih dekat kepada orang-orang yang soleh.
Karena suasananya yang tenang,jauh dari kota.
Tentram dan privat.
Abi Fatih,adalah pewaris dari pemilik dan pendiri tempat ini.
Dulu tempat ini adalah,saung untuk mengajar ngaji anak-anak dan remaja.
Di masa kakek dan ayahnya masih hidup.
Seiring waktu,abi Fatih memugar dan membangun beberapa ruangan dan bangunan.
Agar lebih banyak lagi yang dapat menimba ilmu di tempat ini.
Disinilah,Rojali mandapat ilmu dan pemahaman terhadap agamanya secara lebih mendalam.
Dimana pada saat itu Rojali yang sempat di kerubuti beberapa preman yang memang sudah mengikutinya.
Dan,ketika Rojali sudah babak belur di hajar para penjahat sampah itu.
Ia di selamatkan dan di tolong oleh abi. Yang pada waktu itu kebetulan lewat karena hendak menuju tempat panggilan tausiah.
Sehingga tertolonglah nyawa Rojali.
Dan,selamatlah uang untuk gaji para karyawan ibu Mirna.
Yang baru saja ia ambil dari salah satu bank.
Karena dulu para pekerja di restaurant ibunya belumlah memiliki atm.
Dan pembayaran gaji karyawan masih di lakukan secara manual.
Karena restaurant sang ibu belumlah semaju sekarang.
Rojali mengetuk pelan pintu kayu ruangan tersebut.
"Assalamu alaikum!"
__ADS_1
"Waalaikum salam!"
"Masuklah!"jawab seorang pria paruh baya dengan kopiah putih yang bertengger penuh wibawa di atas kepalanya.Yang sebagian rambutnya sudah hampir memutih itu.
" Abi...,"
"Ali...?"
___®®___
Mereka berdua kini sudah duduk di bale samping musholla.
Semilir angin malam yang dingin tidak mampu menggubris kedua pria gagah yang beda usia itu.
"Jadi begitu Bi,"
"Apa yang harus Ali lakukan sekarang?"
tanya Rojali bersahutan dengan nyaringnya suara jangkrik
Suasana hening sesaat,kedua pria berbeda generasi itu sedang terpusat pada jalan fikirannya masing-masing.
Abi Fatih terlihat menghembuskan nafas pelan,sebelum beliau membuka suara nya.
"Aba ente,niat nye emang nyelametin,ngelindungin ente."
"Tapi,
dengan cara ngemalsuin kematian,
entu salah besar!"
___®®____
Aduh bang jago,eh bang ali...sabar yaa!!
Mapkeun ya readers sayang kalo alurnya lambat dan terkesan riweh.
Otor mau cepet namatin cerita ini,tapi kalo maksa jadi gaje ceritanya nanti.
Anggap aja ini sebuah perjuangan.
Dan nanti akan ada sebuah pengorbanan besar.
Dari sebuah keputusan yang besar.
Chibi sayang kleaann semuaahh💋
__ADS_1