
___πΎπΎπΎ___
Adiguna menerawang sambil menatap semburat jingga di ufuk barat.
Di mana senja kini mulai merangkak mendekati malam.
Balkon di lantai atas kamarnya adalah spot kedua,tempatnya merenung selain ruang kerja pribadinya.
Di atas kursi besi dengan meja bundar kecil di hadapannya.
Adiguna melepas resah nya,ia akan mengambil keputusan terbesar selama hidupnya.
Ia nampak menghembuskan nafasnya berat,keputusan nya sudah final,tekadnya telah bulat.
Sekali lagi ia memandangi kertas-kertas dokumen yang berserak di hadapannya.
Berkali-kali ia menghitung jumlah aset kekayaannya yang ia peroleh selama 35 tahun.
Kepalanya berputar melihat ke dalam kamarnya yang nampak dari kaca pemisah.
Lalu bola mata nya berpendar ke bawah dimana sekeliling rumahnya nampak dari sana.
"Aku harus memulainya dari awal,"
"Aku akan mengikhlaskan semua ini,kemewahan semu yang bukan hak milik,kemewahan fana yang ku rebut dari pewaris sah,gelimang dunia yang ku raih dengan kecurangan,istana megah yang ku bangun dengan kedzaliman."
"Kurasa,aku hampir mirip Qorun bukan?
yang memuja harta dan kekayaan,ataukah aku bisa di sebut Fir'aun yang menuhankan kekuasaan pada dirinya?"
"Na'udzubillah,bahkan mereka mati tanpa sempat mengucap taubat,"
"Alhamdulillah,aku masih di beri kesempatan kedua,akan ku bersihkan jiwa yang hina,akan ku suci kan raga yang penuh noda darah dendam dan dosa akan penindasan,"
Adiguna melangkah ke dalam ketika sholawat sudah di dengungkan di masjid,ujung komplek perumahan elit itu.
Mirna yang baru saja masuk ke dalam kamar,terkesiap dengan penampilan Adiguna.
Bagaimana tidak wajah yang keras dan kaku itu,kini teduh dengan aliran air yang mengalir di antara pelipis dan rahangnya,bahkan air wudhu itu masih terlihat menetes dari poni rambutnya.
"Papa_mau ke masjid?" tanya Mirna dengan rona bahagia.
"Iya sayang,nanti aku minjem motor kang Kusdi,tukang kebun kita," jawab Adiguna bahkan dengan senyum yang mahal,karena selama hidupnya bisa terhitung berapa kali ia melakukan hal itu.
Yaitu,ketika menikahi Mirna,ketika putra pertamanya lahir,dan ketika sang putri memanggilnya papa untuk pertama kali.
Bisa di bayangkan betapa suram wajah Adiguna kala itu.
Mirna menangkup kedua tangannya di depan wajahnya.
Ucap syukur itu tak henti terucap dalam hatinya.
Perubahan yang tak pernah ia sangka,hidayah itu akhirnya datang juga menyentuh sisi lembut hati suaminya.
"Aku akan panggil salah satu pelayan untuk membantu mu sholat," ucap Adiguna lembut dengan senyum tipis.
" Pergilah,sambutlah seruan Allah."Dengan tatapan kebanggaan dan rona penuh cinta.
Mirna mengiringi langkah kaki Adiguna sampai ke depan pintu.
__ADS_1
Adiguna berbalik dan tersenyum kembali,sebelum akhirnya sosoknya berbelok dan menuruni tangga.
***
Mirna tak bisa berhenti untuk tidak mengembangkan senyumnya.
Ia memutar roda pada kursi tempatnya duduk,yang membantunya bergerak selama dua minggu ini.
Mirna maju ke depan meja rias kemudian memoles wajahnya dengan sedikit pelembab,lalu mengenakan kerudung instan yang tersampir menutup hingga dada.
Ia sedang menunggu sang suami pulang,agar mereka dapat melakukan makan malam bersama.
Momen yang sudah lama tidak pernah terjadi di rumah megah ini.
Klek,
Suara pintu di buka,kemudian menampilkan sosok tinggi nan gagah meski di usia paruh baya.
Sosok itu mengenakan kemeja polos berwarna krem dan kain sarung polos berwarna coklat.
"Papa,kamu pake sarung siapa ?"tanya Mirna heran,karena suaminya ini tidak memiliki kain sarung sebelumnya.
Bahkan,ketika pergi tadi Adiguna mengenakan celana panjang bahan.
" Di pinjemin kang Kusdi tadi,"jawab Adiguna seraya menghampiri sang istri dan menyerahkan telapak tangan kanannya untuk agar di raih oleh Mirna,seorang istri yang faham akan maksud dari sang suami,lantas menciumnya dengan takdzim sebagai tanda bakti dan penghormatan.
Kemudian Adiguna terkekeh canggung karena ia merasa ini bukan lah dirinya.
Berbeda dengan Mirna,yang malah menanggapinya dengan senyum sumringah.
Entah mengapa senyum itu seakan,mengiris hati seorang pria arrogan sekelas berandal sepertinya.
Kedua tangannya memegangi lutut wanita yang satu kakinya masih di pasangi gips,sehingga ia mengandalkan kursi roda ini untuk bergerak.
"Maafkan aku...,demi Allah maafkanlah aku...,"
Adiguna tidak bisa lagi menahan dirinya,ia pun tergugu sambil terus mengelus sebelah kaki wanita yang sangat di cintai nya itu.
"Pa,bangun,kamu jangan seperti ini!" seru Mirna sambil meraih bahu suaminya yang tengah berguncang naik dan turun.
"Aku ikhlas,akan sakit yang ku alami,semua terbayar dengan anugerah yang telah Allah berikan untukmu,Pa!"tambahnya.
" Aku telah mengembalikan semuanya,semua yang ku miliki,"Adiguna berucap di sela tangisnya.
"Termasuk rumah ini,yang akan ku hibahkan kepada sebuah yayasan,"ia kembali terisak hingga seluruh tubuhnya bergetar hebat.
Sebuah penyesalan yang teramat dalam sedang di rasakan oleh sang jagoan dunia kelam.
Ia akan melindungi keluarganya,bahkan dengan nyawanya sekalipun.
Cukup sekali,ia menyaksikan orang yang di cintai nya hampir meregang nyawa karena keserakahannya,karena keegoisannya.
"Sekarang,aku tidak memiliki apa-apa lagi,selain baju yang melekat di tubuhku,"
"Lihatlah,Mirna sayang...,bahkan ini baju dan sarung pemberian pembantu kita,tukang kebun kita," jelasnya dengan wajah yang bersimbah air mata.
Hati Mirna ikut perih,matanya pun serasa panas.
Hingga buliran kristal bening itu pun telah tumpah membanjiri kedua pipinya.
__ADS_1
"Kita masih saling memiliki bukan?itu lebih baik dan terpenting,"sanggahnya atas perkataan sang suami.
Mirna menghapus jejak kristal di ujung mata seorang pria,yang tak pernah sekalipun di bencinya.
Ia tetaplah seorang pahlawan baginya,yang selalu menjaganya sejak dulu.
Yang akan selalu mengorbankan apapun untuknya,selalu mengabulkan permintaannya.
Mirna juga merasa berdosa dan bersalah,karena ia merasa turut andil dalam membentuk karakter suaminya,hingga tabiat buruknya itu semakin menjadikannya manusia yang haus dan tak pernah puas.
"Sudahlah,Pa...,"
"Masih ada usaha ku,dan usaha Jihan,putri kita,"
"Bahkan,putramu pun sudah memiliki usaha,"
"Sebuah usaha yang secara langsung sangat berhubungan dengan usaha yang telah aku rintis seumur hidupku." Mirna mengucapkannya sambil menerawang,sudah tiga hari ia tak bertemu anak dan menantunya itu.
"Kita masih berkecukupan,dan saling memiliki." Mirna berkata dengan lirih seraya menangkup wajah lusuh di hadapannya.
Adiguna menangkap jemari lentik yang mengusap pipinya.
Kemudian ia meletakkan di depan bibirnya,mengecupnya lama dan dalam.
Hingga ia kembali terisak,hingga terdengar nafasnya yang tersendat-sendat.
***
Keluarkan lah semua sesak mu,habiskan air mata penyesalan itu.
Karena air mata penyesalan dari taubat seorang hamba yang berdosa,karena rasa takutnya kepada Allah.
Sesungguhnya dapat meluruhkan dosa-dosa(itu)
Hingga dosa mu habis tak bersisa.Sungguh Allah adalah maha pengampun dan maha penerima taubat.
***
ππ
Mak chibi mau promosi nupel baru dong...
Masih anget neh..baru loncing tadi sore.
Semoga kalian berkenan juga untuk membaca karya kedua mak.
Blurb:
Kisah remaja SMK yang tanpa sengaja bertemu wanita muda yang di kejar-kejar oleh pembunuh bayaran.
Wanita muslimah yang tertembak di punggung itu merasa lemah karena sudah banyak mengeluarkan darah.
Ia pun dengan terpaksa menitipkan bayi perempuannya pada Andra,remaja kurus tinggi dengan wajah yang lumayan tampan.
Instuisi nya mengatakan bahwa di hadapannya ini adalah pemuda yang baik.
Siapakah bayi itu sebenarnya?
__ADS_1
Bagaimana cinta akhirnya hadir diantara mereka 18 tahun kemudian?