
✨Akan selalu ada cahaya ditengah kegelapan.
Akan selalu ada celah, meskipun sempit diantara jejal bebatuan.
Akan selalu ada jalan keluar di setiap persoalan hidup.
Akan selalu ada hikmah dari setiap kejadian.
Tinggal bagaimana sikap kita dalam menerima dan menjalani setiap skenario yang telah Tuhan tetapkan untuk kita.
✨
***~~~****
"Kita laper Kak, dari pulang sekolah belom sempet makan, disekolah juga kita gak jajan. "jawab Fadlan
" Iya Kak, ini kita tadi dikasi duit sama mang Husen gocap. "Farhan pun ikut menyahuti sambil menunjukkan kembalian, sisa pembayaran makanan mereka berdua.
Aku tidak terlalu menggubris alasan mereka, karena fikiranku sedang bertumpu pada sesosok pemuda gondrong, kumel yang sudah hampir setengah hari ini kulihat penampakkannya di netraku.
(Kenapa tu orang kagak pergi-pergi si?)
Dengan menunduk sembari menghabiskan sisa makanannya, pemuda itu seakan tidak terganggu dengan kehadiranku.
Aku pun tidak tahan untuk tidak segera menumpahkan rasa penasaranku ini kepadanya.
" Kok masih disini bang, udah di bayar kan tadi? "tanyaku sambil meraih es teh manis yang ada di depan Farhan, kemudian menenggaknya hingga tandas.
Si empunya pun melotot melihat es nya habis dan menyisakan beberapa keping es batu saja.
Aku hanya membalas nya dengan cengiran dan mengacak gemas rambutnya.
Pemuda itu pun melirik sekilas,kemudian mesem-mesem melihat interaksi kami.
"Kenapa masih disini bang... Rojali, bener kan itu namanya?" tanyaku lagi dengan menolehkan kepala ku melewati Farhan.
"Ehm, itu... mbak, em, saya lagi nyari orderan sambil ngisi perut, "
"Tapi kalo mbaknya perlu ojek lagi juga saya siap, gak usah pake aplikasi, saya ready kok, he. "
Dengan kikuk ia menggaruk tengkuknya sambil sesekali melirik ke arahku.
"Gitu ya, kebeneran abang masi disini nanti saya minta tolong lagi anterin ayah pulang."
Saya harus kedalem lagi anterin minuman buat Ummi. "Dengan senyum ramah aku pun segera berdiri dan mengambil minuman botol kemudian membayarnya.
" Eh, siap kok, siap! "
Rojali seketika bangun dan menegakkan badannya.
Menciptakan kekehan pada kedua adikku.
" Ayok, adek-adek Akak mau ikut kedalem gak? "
tanyaku pada si kembar yang sudah selesai mengisi perutnya.
"Ikut!! " Ucap mereka berbarengan.
__ADS_1
"Kami permisi dulu ya bang Rojali. "Dengan beriringan kami bertiga kembali masuk ke dalam klinik.
Aku menyerahkan minuman botol kepada mang Husen.
Kemudian segera masuk kedalam ruang periksa.
Seteleh menyerahkan minuman untuk Ummi, aku pun memperhatikan kantong infus ayah yang sudah tinggal sedikit. Dan, aku perhatikan muka ayah sudah tidak sepucat tadi.
(Alhamdulillah Ya Allah, semoga ayah bisa langsung pulang. )
"Mi, muka ayah udah segeran, berarti ayah boleh pulang kan? " tanya Farhan yang kini berdiri di depan kaki ranjang, sambil memijit pelan telapak kaki ayah yang sudah tidak sedingin tadi.
"Insya allah, nanti kita tanya pak Dokter dulu ya, karena beliau yang faham keadaan ayah."
Ummi tersenyum sambil mengusap-usap lengan ayah.
Kemudian pak Dokter datang setelah aku melaporkan bahwa cairan infus ayah sudah habis.
Dan ayah sudah bangun dengan wajah yang terlihat lebih segar.
"Alhamdulillah ya Pak, sudah lebih baik setelah 3jam disini dan menghabiskan dua kantong infus, " ucap pak Dokter dengan sumringah.
Kami semua pun mengucap syukur dan lega, akhirnya ayah bisa pulang dan hanya melakukan rawat jalan saja.
"Ini resep obatnya nanti di tebus didepan ya,"
"Ingat, perhatikan pola makan,istirahat yang cukup, dan jangan terlalu capek dulu, soalnya sudah terjadi pembengkakan di liver, " pesan pak Dokter kemudian memberikan ku secarik kertas berisikan resep obat yang harus ku tebus.
"Bapaknya sudah boleh pulang, nanti biar salah satu saja yang mengantri obatnya, " saran pak Dokter lagi.
Kami pun mengucapkan terimakasih, sebelum pak Dokter itu berlalu dengan seulas senyum. (Sungguh Dokter yang ramah)
"Gimane, abang ude boleh pulang kan? tanyanya pada ayah.
" Alhamdulillah, ane ude bise pulang, makasi bener ye atas bantuan ente,"ucap ayah masih agak lemah.
"Kalo kate anak sekarang, woles bang woles, hehe... " Mang Husen pun tertawa sambil menepuk pelan kaki ayah.
Dan tertawanya ternyata menular pada kami semua.
Aku mengenggam pelan tangan ayah dan mengusap bekas tusukan jarum infus yang sudah diberi plester.
"Semoga Ayah sehat lagi, ya Yah,"
"Syafakallah Ayah, laba'sa thohuron insyaallah(semoga sakitmu ini membersihkanmu dari dosa-dosa). " Doaku tulus teruntuk cinta pertamaku itu.
Dan, di Aamiini serentak oleh kami yang berada didalam ruangan ini.
"Saye keluar bentar mao nelpon yusuf dulu ye, pok. "Ujar mang Husen kepada ummi, kemudian berlalu keluar.
" Ayah yuk Ummi bantuin buat duduk. "Dengan perlahan perempuan paruh baya dengan kerudung yang menjulur panjang itu, mendudukkan sang suami tercintanya, kemudian merapikan baju, sarung dan memakaikan kopiah yang tak pernah lepas dari kepala sang pujaan hati dunia akhiratnya itu.
" Makasi ye Mi, Ayah udah agak enakan sekarang, "ucapnya dengan tatapan teduhnya ke sang istri.
" Makasi juga buat anak-anak Ayah, "ucapnya lagi mengarahkan pandangan hangatnya ke arah kami satu per satu.
Membuat kami bertiga serempak saling melemparkan senyum yang cerah.
__ADS_1
" Bang mobil ude siap didepan, nyok, "ajaknya sambil memapah ayah.
Aku berlalu kedepan depot obat dan meletakkan resep dari Dokter, kemudian kembali menghampiri keluargaku yang telah beranjak menuju parkiran.
Sang sopir yang tak lain adalah Yusuf anak dari pak RW pun membukakan pintu mobil. Tak lupa aku pun mengucapkan terima kasih atas bantuannya.
Setelah semua masuk kedalam mobil,Yusuf menghampiriku dan menyerahkan secarik amplop yang belum direkat .
Titipan dari DKM Masjid katanya, untuk biaya berobat ayah.
(Ya Allah, Alhamdulillah)
Selama ini memang ayah termasuk aktif di pengurusan Masjid di area tempat tinggalku.
Setelah mobil yang membawa ayah berlalu keluar dari area parkiran klinik. Aku pun membelokkan kaki untuk kembali ke dalam klinik demi menunggu antrian obat untuk ayah.
Baru saja aku berbelok dan hendak melangkah, tiba-tiba ada yang memanggilku.
"Mbakk...! "
Aku pun menoleh.
"Eh, saya lupa kalo abang masih disini, " ucapku kikuk ketika posisinya sudah di hadapanku.
"Maaf ya bang, gak jadi pake jasa abang, soalnya ayah dijemput pake mobil," ucapku lagi merasa tak enak sebenarnya, sudah menyuruhnya menunggu tapi tidak jadi menggunakan jasanya.
Karena aku tidak tahu rencana mang Husen yang meminta tolong kepada Dewan Kepengurusan Masjid.
" Gak papa mbak, saya juga liat barusan, itu malah lebih aman sebenernya buah ayahnya mbak, "ucap driver ojol di depanku ini dengan santai.
" Saya jadi gak enak sama abang, beneran gapapa nih? "tanyaku memastikan
" Yee, kan saya masih berguna juga buat nganterin mbaknya pulang. "
"Emang entar mbaknya ada yang jemput juga? " tanyanya ambigu.
Membuatku sedikit mengerutkan keningku.
"Saya kan bisa jalan kaki bang, deket ini, " jawabku mematahkan persepsinya.
"Capek lah mbak, panas juga cuacanya,bisa lumer entar, " selorohnya sambil terkekeh kecil
Krik, krik, krik.
(Apasi gaje)
Aku hanya menggeleng pelan menanggapi kelakarnya yang macam rengginang kelamaan di kaleng.
"Takutnya lama, mending abang cari orderan lain aja, sekali lagi saya minta maaf. "Kataku sambil mengatupkan kedua tangan didepan dada.
Setelah pamit pada pemuda itu, aku pun segera masuk kembali kedalam klinik.
Tanpa memperdulikannya yang tersenyum penuh arti.
Like.. like.. like...
Komen juga yaa, serah deh mo ngomong apa, asal jangan ngatain ya🤣kalo dilempar kembang sekebon sih mao🤗
__ADS_1
Otor mah gak bakal minta vote klean nyang cuman sebiji entu, masih banyak cerita yang lebih layak untuk di vote.