Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Drama tidak semanis kenyataan


__ADS_3

💞Jatuh cintalah bukan hanya karena debaran.


Bukan hanya karena getaran.


Karena cinta yang memabukkan akan membutakan nurani.


Jatuh cinta lah karena ingin melengkapi.


Cinta yang hakiki adalah,cinta yang tidak membuatmu lupa.


Kepada Sang Maha Cinta.


💞


***~~~***


Fatimah memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.


"Duh, kenapa kaki jadi gemeter gini coba? "


"Ini juga jantung, bisa tenang gak sih? "


Fatimah memejamkan matanya dan menyentuh kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya.


Ia lantas membuka kedua matanya.


Ia tersenyum, dan terciptalah semburat merah jambu itu.


"Si tengil,kenapa mendadak jadi semenawan itu sih? "


"Kan, jadi bikin aku bingung bersikap, "


gumamnya sambil menampar pelan kedua pipinya, dengan mata sebentar merem sebentar melek.


Sudah cukup lama ia menenangkan dirinya di depan wastafel.


Berkali-kali Fatimah melakukan olah nafas.


Exhale


Inhale


Guna mengontrol degup dan detak jantungnya yang tak beraturan sejak tadi.


"Hufftt..., "


Setelah menghela nafas untuk yang kesekian kalinya.


Akhirnya, ia memutuskan keluar dengan hati yang lebih tenang.


(Kuatkan aku Ya Allah, jangan sampai aku pingsan seandainya...,)


(Ahh, apa iya?)


(Semoga aku tidak kecewa)


Seketika kakinya berhenti melangkah.


Ketika ia melihat pria itu begitu mempesona meski dari jauh.


(Jaga pandanganmu, Fatimah)


Kembali ia mengetuk-ngetuk kepalanya dengan kepalan tangan.


Berharap isi kepalanya berhenti memikirkan yang iya-iya.


Rojali merapikan duduknya, tatkala melihat gadis yang sudah membuatnya resah itu mendekat.


(Lho, dia senyum?)


(Bukannya tadi?)


Ahh, bagaikan disiram air yang langsung dari pegunungan.


Rasanya, nyess... di hati.


Membangkitkan kembali asa yang sempat layu sesaat tadi.


"Maaf, ya Bang, "


"Fatimah lama tadi, soalnya agak antri, "


ucapnya memberi penjelasan, dengan alasan yang tentunya hanyalah fiktif belaka.


"Selow aje si, "


"Tu, makanan nye ude pade ngumpul minta di cocol, "

__ADS_1


ujar Rojali dengan senyum yang menggoda iman.


(Aku ngeri, Bang,kalo kamu senyumnya kayak gitu)


(Ngeri, jatoh...,)


Fatimah berusaha menyembunyikan senyumnya.


Bagaimana pun ia juga wanita.


Selama kebersamaan mereka dan segala yang sudah di lakukan laki- laki di hadapannya ini.


Membawa arti tersendiri di hatinya.


Hati yang selama ini terkunci rapat bagi laki-laki di luar sana selama ini.


Kini mulai tersentuh dengan segala sikap dan perlakuan tulus dari pria yang sudah menyelamatkan kehormatannya beberapa waktu lalu.


Ia menyadari bahwa pria maskulin ini menyimpan rasa padanya sejak pertemuan di rumah sakit kala itu.


Hanya ia tidak mau semudah itu membuka hatinya.


Ia bukanlah wanita yang gampang jatuh cinta.


Bukan perempuan yang gampang melow, gampang baper.


Tapi entah kenapa, setiap perlakuan dari pria tengil ini mampu membuatnya meremang dan senang.


Mereka makan tanpa bersuara hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring.


Sesekali Rojali mencuri pandang kepada gadis manis di hadapannya ini.


Mereka pun akhirnya selesai makan.


"Dek, "


ucap Rojali seperti ingin memberi tahu sesuatu.


"Eh, iya, kenapa Bang? "


ucap Fatimah mendadak tegang.


"Mau kasih tau, itu... tu, "


ucap Rojali ambigu.


tanya Fatimah penasaran.


"Ada sisa makanan tuh, nempel di ujung, ujung... bibir kamu, "


ucap Rojali tergugu sambil menunjuk ragu.


Buru-buru Fatimah mengambil tisue.


"Em masih ada,Dek, "


ujar Rojali sembari menarik tisue dari kotak.


"Sini, biar..., "


Rojali pun hendak memajukan tangannya.


"Eh, ga usah, Bang, "


tolak Fatimah.


"Biar aku aja, " senyumnya sambil merogoh tasnya dan mengeluarkan cermin berbentuk oval.


Kemudian ia menyeka sudut bibirnya yang terdapat noda santan.


(Haish, gagal lagi, di adegan kedua)


(Ternyata drama tidak semanis kenyataan)


Rojali kembali menarik tangannya dan akhirnya tisue itu berujung sebagai pengering peluh di pelipisnya.


Rojali kembali mempersiapkan diri.


Ia menegakkan punggungnya dan menatap gadis yang memiliki lesung kecil di pipinya itu.


Dengan meletakkan kedua tangannya yang saling bertaut di atas meja.


Rojali membuka suaranya.


"Dek, sebenernya...,"


"Ada yang mau,Abang omongin... ke kamu, "

__ADS_1


Ucap Rojali masih dengan kegugupan yang berusaha ia tutupi mati-matian.


Dengan mencoba beraksen se cool mungkin.


"Eh, iya, "


"Emang apa yang mau di omongin, Bang? "


"Gak ada sepres lagi kan? "


tanya Fatimah dengan nada bicara setenang mungkin.


Padahal kaki nya sudah kesemutan saking tegangnya.


Bahkan, Fatimah tidak bisa menggerakkan jempolnya.


Yang tertutup kaus kaki.


"Em, supres sih, enggak, "


"Tapi, Abang harap kamu enggak kaget, karena ini semua agak terkesan cepat, "


"Tapi, ini demi menjaga kamu, menjaga kita, "


ucap Rojali lugas dan tegas.


Fatimah hanya memasang senyum nya, membuat sang pria tambah kikuk saja.


Padahal, sang gadis memang tak tau mau bilang apa, jadi dia hanya menunggu kelanjutan saja.


"Abang..., "


"ALLAHU AKBAR... ALLAHU AKBAR...! "


Belum sempat Rojali meneruskan kalimatnya, suara adzan magrib sudah berkumandang.


"Kita cari musholla dulu, yuk, "


ajak Fatimah, sambil beranjak berdiri dari kursi yang di dudukinya.


Dan, Rojali pun harus merelakan kata-kata yang sudah tersusun itu.


Kembali tertelan masuk ke rongga pita suaranya.


"Sepertinya di ujung jalan sana ada masjid,


Dek, "


"Kita kesana aja, "


"Karena cafe kecil kayak gini belom tentu ada mushollanya, "


ucap Rojali, kemudian memanggil pelayan wanita untuk meminta bill.


Setelah memberikan beberapa lembar kertas berwarna merah.


Mereka berdua pun berlalu, beriringan.


"Kita jalan aja ya, Dek, "


"Biar si Jambul titip disini aja, "


saran Rojali sambil menoleh ke arah Fatimah.


Dan ia melihat sang gadis mengangguk tanpa menoleh.


Sinar jingga dari sang senja menampilkan siluet dari wajah sang gadis yang tampak dari samping.


Tersepona,


Untuk kesekian kalinya.


Mereka terus berjalan.


Rojali mengulas senyum takjub di wajahnya.


(Semoga, keindahan itu hanya akan menjadi milikku. )


Seuntai doa terbersit di hati Rojali selepas adzan berhenti.


Karena salah satu waktu mustajab untuk berdoa, adalah di antara adzan dan iqamah.


Tetap dukung karya author ya...


Like.. like...like...


Jangan jadi pembaca yang kasat mata.

__ADS_1


Plis sedekahin jempolnya, eh,like nya buat nyemangetin akuh.


__ADS_2