Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Anak yang di buang


__ADS_3

__®®__


"Jadi mau apa kau kesini?"


"Sepertinya kau tidak butuh pada harta haramku?"


"Lalu_"


Masih dengan gaya bicara yang sinis,Adiguna bahkan bicara tanpa menatap sang putra yang sengaja di buang olehnya.


Bahkan di rekayasa kematiannya.


Toh,anaknya itu tidak membutuhkan hartanya.


Ia tidak menginginkan warisan yang sudah di siapkan mati-matian olehnya.


Mengingat hartanya tak berguna,membuatnya kesal saja.


Entah apa yang merasuki otak putra semata golek nya itu.


Hidup susah bertahun-tahun,nyatanya semakin membuat putra nya dewasa dan bijak.


Serta lembut dalam berucap.


Padahal dia terus memancing amarahnya dengan sikap sinis nya itu.


Sungguh berbeda sekali dengannya dulu.


Di besarkan di panti asuhan hingga remaja.


Membuat kebencian dan dendam merongrong jiwa nya.


Rasa itu melekat kuat hingga ia bertekad akan membalas semua yang ia dapat pada keluarga yang tidak menginginkannya.


Hingga ia mengenal kehidupan underground.


Berbekal kejeniusan otaknya dan ilmu bela diri.


Yang ia dapat selama hidup di jalan.


Ia menjadi bodyguard seorang CEO perusahaan cargo.


Dan dengan kejeniusan di tambah kelicikannya.


Ia berhasil mengambil alih perusahaan itu dengan bantuan dari beberapa kawan mafia dan Triad nya.


Dengan perusahaannya itu,ia berhasil menyelundupkan beberapa jenis barang-barang ilegal.


Bahkan,karena pekerjaannya itu ia harus memperketat penjagaan terhadap keluarganya.


Meski sang putra telah mengecewakannya,dan menolak mentah-mentah seluruh hartanya.

__ADS_1


Namun,ia akan melindunginya bagaimanapun caranya.


Baginya,biarlah ia hidup dan mati sebagai Adiguna,pengusaha sukses di kalangannya.


Dan,mafia berdarah dingin yang di takuti di duni a bawah tanahnya.


Semua nasehat sang putra dahulu,di tolaknya dengan amarah yang menggebu.


Bahkan,Rojali hampir meregang nyawa di tangannya.


Kalau saja ia tak ingat,bagaimana dulu ia dan sang istri begitu menanti kehadiran sang putra di tengah pernikahan mereka.


Kini,anak yang diimpikannya itu telah menjelma menjadi pemberontak.


"Pa_Ali cuma minta izin dan restu dari Papa,"


lirih Rojali mengeluarkan isi hatinya.


Mirna tersenyum memberi semangat kepada sang putra.


Sedang Adiguna,ia bergeming namun memasang kuping.


Menanti kelanjutan kalimat dari pemberontaknya itu.


"Ali,akan melamar seorang wanita muslimah,Pa_"


"Dia berasal dari keluarga yang sangat sederhana,"


"Mohon restui langkah Ali,agar ridho Allah memberkahi masa depan Ali nanti,"


Namun nihil,ia tak menangkap apapun.


"Ali mohon izin untuk membawa Mama dan Jihan kerumah calon istri Ali,Pa_"


"Pergilah!"


"Kau tidak perlu restu dan izin dariku!"


"Kau,lupa?"


"Kau bukan lagi keluarga Brotoseno!"


Adiguna mengatakannya dengan emosi yang kentara dari raut wajah dan juga tangannya yang mengepal.


"Ah,iya_kalau itu Ali tentu ingat Pa,"


"Setidaknya,Ali memohon izin untuk membawa Mama dan Jihan,untuk_"


"Kalo Papa gak ngizinin jangan salahin Jihan_


karena aku akan pergi dari Papa,"

__ADS_1


Tiba-tiba gadis cantik yang sedari tadi hanya diam dan bisa menangis saja.


Kini mengeluarkan ancaman yang membuat mata Adiguna seketika membulat.


Itu terjadi hanya sekejap.


Karena setelahnya ia menyeringai tipis.


"Putri Papa yang cantik sudah berani rupanya?"


"Kau,tidak perlu mengancam Papa,"


ucap Adiguna dengan senyum tipis namun tetap saja mengerikan.


"Kalian pergilah!"


tegas Adiguna kemudian beranjak bangun dari duduknya.


Dan,kembali menatap pigura besar itu.


Sebuah pigura bergambar foto ia dan teman-teman kecilnya di depan panti.


"Terima kasih_Pa,"


"Assalamualaikum!"


Rojali pamit,ingin rasanya ia menggamit tangan renta yang masih terlihat kekar itu dan menciumnya.


Tapi,


rasanya tidak mungkin.


Papa nya tidak tersentuh kini,bahkan melihatnya pun tak ingin.


Satu hal yang membuatnya lega adalah,sudah bisa mengungkap apa yang memang harus di ungkapkan.


Ia sudah memperoleh izin membawa mama dan sang adik.


Setidaknya ia memiliki keluarga untuk menghitbah gadis pujaannya.


*Flashback off*


__®®__


Tak terasa waktu bergulir semakin malam.


Kendaraan roda dua itu sudah sampai di depan gerbang kecil sebuah rumah sederhana.


Belum juga ia turun dari atas tunggangannya itu.


Seorang gadis manis berpasmina sudah menyambutnya di depan pintu.

__ADS_1


Dengan senyum manis yang memperlihatkan barisan gigi putihnya.


Babang ganteng ngapel cuy,tapi next pary ye💃💃💃


__ADS_2