Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Ternyata, di dunia ada surga(21+)


__ADS_3

__๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–__


๐Ÿ’ฆHujan akan selalu bercerita, lewat nada rintiknya.


Seperti bait syair rinduku, berharap kelak jatuh di relung hati mu.


Cinta, bisa memberikan cahaya pada mata yang sekalipun buta.


Cinta juga bisa jadi petaka, meski pada Adam dan Hawa di surga.


Jika ini memang cinta, aku hanya tahu bagaimana cara mengungkapkannya, dalam kepolosan apa adanya.


Dengan segenap raga, hati, dan juga jiwaku,yang mengulum kepasrahan tanpa syarat.๐Ÿ’ฆ


*********


๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป


๐Ÿ’–Rojali POV๐Ÿ’–


Aku merasakan ranjang yang sedikit bergoyang, seperti ada yang bergerak.


Akan tetapi, mata ini sulit sekali membuka. Aku hanya bisa menggerakkan tangan dan kaki agar seseorang yang berada di dalam dekapanku, tetap dalam posisi yang sama.


Kenyataannya, kejadian subuh tadi sudah menguras sebagian energi ku.


Seseorang yang berada dalam dekapanku, benar-benar ingin melepaskan dirinya.


Enak saja! Aku mendekapnya lebih erat lagi dan, ia terdiam. Lama..., aku pun berusaha mengintip dari celah mataku.


Ohhoii! Ternyata dia,istri ku...bidadari ku. Sedang asik menikmati wajah ganteng ini rupanya. Sambil senyum-senyum pula.


Apa yang sedang ia pikirkan sebenarnya?


Aku pun membuka paksa kedua mataku, hingga retina ini menangkap sebuah gambar rupa yang begitu elok.


Sepasang mata bulat dengan bulu lentik, yang mengerjap lucu. Membuatku gemas setengah hidup.


hidung mancung mungil, bibir merah bagai buah plum, membuat ku ingin menagih terus untuk merasai manisnya.


Kamu sudah menjadi candu ku sayang...


Dan, seketika tenaga ku pun pulih kembali, berbarengan dengan gejolak hasrat yang, "ting"on lagi.


Wajahnya yang kaget karena aku yang tiba-tiba membuka mata, sangatlah lucu.


"Enak ya! Udah, puas liatin nya? hemm?" tanya ku dengan senyum semanis mungkin, biar bidadari ku ini makin klepek-klepek.


Dirinya sontak terkesiap, karena ia sudah kepergok sedang mengagumi dan menikmati keindahan dihadapannya ini.


Mungkin istri ku ini malu, dan tidak tau harus menjawab apa, maka ia pun menarik kain selimut itu, hingga menutupi seluruh wajahnya.


Kelakuannya itu, sontak membuat ku terkekeh geli sekali. Aku pun menyibak kain selimut itu.

__ADS_1


"Kamu, malu? ngapain ih, kocak!"


Matanya yang bulat itu mendelik, bukannya bikin orang takut malah bikin gemes.


"Dih, melototi suami..., hayo? dosa!" ledekku sengaja.


"Ish, lagian Adek di bilang kocak," sahutnya dengan gaya memajukan bibirnya.


"Deh, malah mancing-mancing," aku terus menggodanya yang kini berada di sampingku.


Ih, di atas tempat tidur emang bisa mancing?" tanya nya antara polos atau menggodaku.


"Bisa dong, mau tau gak bisa mancing apa?" tanya ku sambil memperhatikan ekspresi nya, yang membuatku ingin menerkam nya saat ini juga.Bagaimana aku bisa tahan di buatnya, wajah polos itu dengan anak rambut yang menjuntai ke depan wajahnya. Dengan keadaannya yang masih tanpa sehelai benang, hanya tertutup oleh selimut. Hingga aku bisa merasakan kulit kami yang saling bersentuhan.


Bahunya yang mulus serta kulit putih bersihnya, membuat ku menelan ludah. Apalagi saat aku mengingat kejadian semalam dan subuh tadi.


Aku sempat merasa bersalah padanya, karena keinginanku. Akibat gelora ku yang menggebu, ia sampai menjerit sekuat itu. Untung saja kami tidak melakukannya saat di rumah ayah.


Bisa-bisa, di penggalnya kepala si otong. Ugh, ngilu sendiri lah aku membayangkannya.


Sekali lagi aku sangat berterimakasih sama mama, karena telah menyiapkan tempat ini untuk kami berdua.


Bagaimana tidak bersyukur, papa telah memberikan tiket menginap selama tiga hari di hotel yang romantis ini.


Ya,meskipun menggunakan uang mama. Aku bahagia, akhirnya papa ku kembali.


Saat ini, kami sedang menikmati apa yang orang-orang bilang "bulan madu".



Pokoknya, dunia serasa milik berdua, yang lain nyewa kali yaa...


"Abang! Lagi mikirin apa sih? kok senyam-senyum sendiri?" tanya wanita cantik milikku, yang masih betah berada di bawah selimut bersamaku.Aku gak sadar kalo udah mesem-mesem, aku pun menoleh padanya dan mencuri ciuman pada bibirnya sebentar.


Morning kiss!


Kayak, yang di nopel.


Eh, dia merem dong, hemmm....pengen nambah nih kayaknya. Berhubung dapet lampu ijo, gasss!


Aku pun melanjutkan aksi cium-mencium, tujuanku masih pada satu bagian itu dulu, karena belum puas dan selalu membuatku tidak bisa berhenti bermain-main di sana. Sensasi manis, hangat dan basah itu, membuatku candu.


Hingga, akhirnya alunan suara syahdu itu tercipta begitu indah, yang menandakan bahwa tubuhnya telah merespon permainanku.


Aku, faham sekarang. Ia sangat menyukai itu.


Satu tangannya mencengkeram pinggangku, membuat seluruh otot ku menegang, terutama yang di bawah sana. Sebenarnya sudah sejak tadi sih.


Permainan ini semakin menuntut lebih, udara semakin terasa panas, terlihat dari bulir-bulir keringat yang mulai menetes dari tubuh yang bagai bayi baru lahir ini.


Padahal, suhu AC di dalam kamar ini sudah sangat dingin.


Aku melepas tautan kami untuk sesaat, menatap ke dalam bola matanya, mencari sesuatu yang membuat hatiku bergetar hebat kala menatapnya. Ya, aku melihat ia, juga mendamba apa yang juga aku dambakan.

__ADS_1


Karena itu ,dengan penuh kepercayaan diri, aku bertanya.


"Abang, mau sarapan boleh?" tanyaku.


"Eh," dia mengernyit heran, oh, istriku kau menggemaskan sekali.


"Berarti kita ke bawah, atau? Abang mau pesen aja biar di anter?" jawabnya, membuat ku ingin menggigit bibir penuhnya itu.


Emang, dia gak liat apa mataku yang sudah berkabut, suara yang sudah serak karena menahan hasrat?


Adek, gak peka!


"Abang mau sarapan disini, di atas kasur ini!" ucapku sarkastis.


"Ya udah, Abang turun dulu, terus pesen pake telpon itu, terus...."


Aku pun membungkam bibirnya dengan..., Ya kau taulah.


Abis, dia cerewet sangat macam nenek-nenek pikun.


Tak ayal, karena perbuatan ku, kena cubitlah perut kotak-kotak ku ini.


Perih eyy...!


"Aww...! Sakit, Dek," rintih ku pelan, pura-pura sebenarnya.


"Kenapa, Abang di cubit si? udah gak cinta ya?" aktingku seakan merajuk, ngambek. Kali aja setelah ini di elus apa di cium.


"Ye, lagian orang Adek lagi ngomong, maen sosor aja. Kayak entok!" kesalnya, dengan memajukan bibirnya. Kan, mancing itu namanya.


"Soalnya, Adek ngoceh bae kayak petasan, nyeretet!" kataku sambil mendusel hidung ku di pipi nya yang berisi.


"Kan, tadi, Abang bilang mau sarapan." Ia, kekasih ku, belahan jiwa ku, hendak bangun, dari posisi yang sangat menguntungkan buatku.


Eits, aku menarik nya lagi hingga,kini...dada polos kami bersentuhan. Membuat desiran itu bagai kan aliran listrik, yang menyengat langsung ke inti.


Mata kami pun saling bertatapan, karena jarak yang tanpa kami sadari semakin terkikis. Hingga deru nafas hangatnya menyapu kulit wajahku.


"Iya,mau sarapan. Tapi, sarapan kamu." kataku dengan suara yang sudah semakin serak, karena seperti nya aku sudah tidak sanggup lagi mengendalikan serdadu kecil, yang kalian tau, dirinya pun sudah siap sedia, ingin menggempur benteng lawan sejak tadi.


Aku melihat respon yang ku inginkan dari matanya, dan...akhirnya aku memulai untuk mengulang kehangatan subuh tadi.


Suara indah mengalun dari bidadari ku bersama desah dan deru.


Menyatu dengan peluh yang membanjiri tubuh, yang entah kapan telah melakukan penyatuan.


Sudah tidak ada lagi rintihan dari nya, hanya suara-suara indah nan merdu yang terlontar dari bibirnya. Hingga, membuat para cicak-cicak didinding, dan tokek cemburu.


(Yang baca juga kaaan...)


Mak, kabor dulu laahh...


Malu banget bikin part ini, deg-deg serr sendiri๐Ÿ˜š

__ADS_1


Semoga lolos reviewnya cepet๐Ÿ˜


__ADS_2