
___ยฎยฎ___
Apa,Kakek salah situasi dan kondisi?"
Pria tua itu berkata lirih.
"Kakek?"
Jihan menahan tawanya tatkala menengok ke arah pria yang di rangkul nya.
Adiguna mengernyit memperhatikan seorang pria tua yang di gandeng putrinya.
"Jihan,putri Papa!"
Adiguna menyapa sang putri dan langsung menghampirinya.
"Papa!"
Jihan memekik riang menyambut Papanya dengan pelukan.
"Sejak kapan kamu pulang,sayang?"
Adiguna melepas pelukan erat Jihan dan menangkup kedua pipi chubby putri yang selalu dianggap anak kecil olehnya.
"Dari kemarin sore aku udah disini,Papanya aja yang sibuk terus sampe gak sadar," jawab Jihan seraya memberengut.
"Cantiknya Papa merajuk ya?"
"Kamu gak lupa kan kalau Papamu ini pemimpin banyak perusahaan?"
"Tanggung jawab Papa besar!"
jelas Adiguna dengan menyentil hidung mancung Jihan.
"Ihh,sakit Pa,kebiasaan deh,"
Jihan semakin mengerucutkan bibirnya.
"Aku kan juga tanggung jawab Papa,butuh perhatian Papa juga_"
"Papa harus adil tau,"
protes sang putri yang hanya di balas kekehan oleh Adiguna.
Entah kenapa jika yang protes putrinya,ia tidaklah marah.
__ADS_1
Sikapnya begitu lembut dan hangat.
Begitu memanjakan sang putri,sangat berbanding terbalik dengan perlakuannya terhadap putra nya.
Yang selalu keras dan otoriter.
"Oh iya,Mama kenapa?"
Jihan melerai pelukan terhadap Papanya dan kini menghampiri sang Mama.
Mirna yang sudah merapikan penampilannya.
Kembali menyusut air matanya yang barusan keluar.
Karena melihat kehangatan dan kasih sayang suaminya terhadap sang putri sangatlah besar.
Kemudian ia tersenyum,seolah menunjukkan bahwa ia tidak apa-apa.
"Apa itu dia?" tanya Mirna seraya menaikkan alisnya
Jihan pun mengangguk cepat dan tertawa sumringah.
Mirna tanpa berfikir lagi segera menghampiri pria tua berpakaian jawa.
Dan,ia memeluknya erat.
"Apa-apaan ini!"
sontak mereka berdua yang tengah berpelukan menoleh ke arah pria yang mengeluarkan suara baritonnya.
"Apa kau tidak bisa memelankan suaramu!"Mirna menyahut dengan ekspresi judesnya.
" Hei!"
"Kau memeluk laki-laki lain di hadapan suamimu sendiri!"
"Bahkan_dia tua dan norak!"
"Kau_lihatlah pakaiannya ini,entah manusia zaman kapan dia ini,"
cerca Adiguna dengan senyum miring dan pandangan yang meremehkan.
Lelaki tua,ber blangkon di hadapannya.
Bahkan ia menunjuk-nunjuk dan menyisir penampilan kakek tua itu dari atas hingga bawah.
__ADS_1
Mirna pun sekilas melongo dan membulatkan matanya.
Pasalnya, ini adalah kalimat dan komentar terpanjang dari suaminya.
Selama ia membersamai pria arogan itu,belum pernah ia sepeduli ini akan penampilan orang lain.
"Apa kau sedang cemburu,Pa?"
Mirna menyembunyikan senyumnya,ia sedang berusaha mengulik isi hati Adiguna.
Maka ia berniat menggoda lelaki kaku itu.
Ia melingkarkan tangannya di pergelangan si kakek tua.
"Cih,cemburu dengan makhluk zaman cretasius ini maksudmu?"cela Adiguna dengan seringai miringnya.
Jihan yang menyaksikan kecemburuan Papanya.
Hanya bisa menahan geli nya yang teramat sangat.
Bahkan,ia berusaha menahan nafasnya agar tawa itu tidak meledak.
Mungkin untuk saat ini.
Abangnya memang hebat,bahkan seorang Adiguna yang jeli saja bisa di kelabui.
"Usir mangsa mosasaurus ini!"
"Jangan kotori rumahku,dengan penyakit yang mungkin di bawa olehnya!"
"Apa kau ingin kudisan Mirna!"
"Menjauhlah darinya!"
Adiguna pun menarik istrinya dan merangkulnya erat.
"Jihan putri cantik Papa,tolong panggil para penjaga gendut itu nak,"
nada bicaranya yang meletup itu sontak melemah dan melembut ketika berhadapan dengan sang putri.
" Aih,Papa_!"
"Ternyata kau tidaklah teramat pintar seperti katamu,"
Jeng_jeng_jeng_!
__ADS_1
Jangan lupa pencet like gift dan komen buat chibi yeaaa...๐๐