Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Gara-gara si jambul


__ADS_3

💫Ketika sakit menghampiri raga, maka seketika hilanglah segala kenikmatan dunia.


Namun pada saat inilah, moment segala dosamu dengan mudah terhempas apabila sanggup, menjalani dan menerima dengan ikhlas.


💫


***~~~~****


Gadis berpasmina yang berparas cantik dan kalem itu,memutuskan untuk tidak kembali ke kosan terlebih dahulu.


Karena semua uang sudah ada di dompet.


Ia pun harus mengejar waktu, agar bisa segera sampai dirumahnya.


Terlihat kegundahan dari paras nya karena sangat menghawatirkan keadaan sang Ayah sekarang.


Bis umum di jam-jam segini pasti susah, daripada buang waktu aku pun memesan ojek online.


(Duh, ongkosnya lebih dari lima puluh ribu, sementara uangku tinggal beberapa lembar, gajian masih 2mingguan lagi, mana kena potongan pulak.)


(Sudahlah, fikirkan itu nanti saja, yang penting aku sampe rumah dan bisa bawa Ayah berobat)


**~~**


Sementara itu di ruang kelas, Farhan tidak bisa berkonsentrasi dengan pelajaran yang sedang berlangsung.


Pikirannya terus memikirkan keadaan Ayah, apalagi tadi pagi dia menyaksikan bagaimana sang Ayah mengeluarkan kembali teh manis hangat yang baru saja di minumnya.


Keadaan Pak Abdul Rojak benar-benar lemah, bahkan untuk ke kamar mandi saja harus di papah,oleh dua orang.


Begitupun dengan Fadlan, ia berkali-kali mengusap wajahnya.


Remaja berusia 15 tahun itu terlihat sangat gusar.


Ia tampak memejamkan matanya.


(Semoga Kakak pulang)


**~~**


Seseorang menghampiriku, yang sedang berdiri tak jauh dari area pabrik.


"Atas nama Fatimah? " tanya seorang pemuda di atas sepeda motor keluaran lama,dengan jaket berwarna hijau berlogo lingkaran di belakang jaket dan helmnya.


"Iya saya Bang," jawabku sopan sambil memperhatikan plat dan juga wajahnya. Menyamakannya dengan data yang ada di aplikasi.


"Kok jenis motor sama platnya beda ya Bang. "


Tanyaku menyelidik


"Eh, iya Mbak, soalnya motor yang buat ngelamar ke kantor saya boleh minjem. Soalnya kalo pake motor saya yang ini, gak bakal keterima Mbak,"


jawabnya sambil senyum -senyum salah tingkah.


" Jangan di cancel ya mbak, entar performa saya anjlok, bisa sepi orderan deh saya," ucapnya driver ojol itu dengan agak memelas.


" Enggak kok bang, yang penting saya bisa sampai di tujuan dengan lancar dan selamat," tukasku enteng.


" Oke lah, insyaallah sampe neng, "jawab si abang ojek dengan sumringah hingga mengganti panggilannya dari mbak jadi neng.


" Ini helmnya, di pake biar safety, hehe," ucapnya sembari menyerahkan helm berwarna hijau itu.


" Udah siap mbak? "


tanyanya dengan sedikit menoleh.

__ADS_1


"Siap Bang, langsung jalan aja, agak cepet ya tapi jangan ngebut juga," ujarku mengarahkannya.


"Wah, si Mbaknya buru-buru nih, siaplah! "


"Bismillah, berangkaaaatt...!! "teriaknya semangat kemudian melajukan motornya membelah keramaian lalu lintas di jalan raya Ibu kota.


**~~**


" Nur, temen kosan kamu kenapa, kena kasus apa kok sampe kena SP segala? "


tanya salah satu teman di line bagian lipstik.


Sedangkan Nur bagian maskara.


"Gak usah kepo Mbak, kerjain aja urusan kita masing-masing," cetus si tomboy membungkam seketika komentar para deterjen eh,netijen.


Begitulah perangai Nur, judes dan malas ber manis mulut sama orang yang suka ngurusin urusan orang lain.


"Dih, orang gue juga cuma nanya aja, gak usah nyolot keles! " tampik si mbak dengan wajah yang kentara kesal.


Dengan cuek dan tak menggubris sedikit pun ocehan si mbak jerigen itu,Nur pun berlalu.


Peduli amat orang itu yang berkali-kali memanggilnya, karena merasa tidak di ladeni omongannya.


(Demen amat ngurusin urusan orang, kerjaan sendiri aja belom tentu bener)


Nur hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


Gadis tinggi semampai ini pun kembali ke meja nya menyelesaikan sisa pekerjaan.


Menghitung barang stok hari ini, kemudian membuat laporan.


Karena sebentar lagi jam kerja akan usai.


**~~**


"Maaf Mbak, biar saya periksa dulu ya." "Jawabnya dengan rasa tak enak hati."


(Heh, jambul... lu ngapa dah, jan bikin malu gua napah)


(Pake mogok segala lu, kasian ni ukhty jadi kepanasan dipinggir jalan)


" Kayaknya businya Mbak abis, setelah saya periksa barusan,"jelas si abang ojol sambil mengusap tengkuknya.


" Terus gimana dong Bang? "tanya ku bingung karena baru setengah jalan motor nya malah mogok, niatnya biar cepat sampe rumah, eh malah ada aja kendalanya.


Dapet driver yang motornya butut.


" Mbak nya tolongin saya dah ya, dorongin motor sampe depan sana,kayaknya ada bengkel sparepart,"pintanya dengan tanpa malu sedikitpun.


(Enak amat ni orang yak, nyuruh gue apa tadi dorong motornya?)


Belum juga aku sempat membuka mulut untuk menjawab, dia sudah bicara lagi.


" Tenang aja mbak nanti bayarnya saya diskon 50%, adil kan, "


"Apa Mbaknya mau saya tinggal sendiri disini, sepi lho ini,"ucapnya lagi memberi pilihan yang keduanya sama -sama merugikan untukku.


"Ya udah, ayuk dah, gak jauh kan? "


kesal ku sambil memegang belakang motor kemudian mulai mendorongnya.


(Ck, elu si mbul pake ngadat segala, kasianan kan si mbak cakep, bening, aduhai gitu jadi gua suruh dorong-dorong elu)


(Jadi keringatan kan tuh, mana tengari bolong gini, emang kebangetan lu mah mbul.)

__ADS_1


(Padahal dari pagi,gua ajak bawa penumpang, lu kagak napa-napah, apa mentang-mentang yang naek cakep elu jadi grogi yak?)


"Maaf ya Mbak, jadi kepanasan, he_"


sesal kang ojol itu memasang wajah tak enak.


Padahal tadi pagi mah, lancar-lancar aja ni si jambul saya ajak narik, eh sekarang giliran bawa cewek cakep malah ngadat,"


ocehnya sambil sesekali mengetuk body motornya.


" Gak usah ngerayu saya Bang, gak ngepek," tukasku sedikit sebel.


Ya gimana gak sebel, udah kepanasan di siang bolong gini, niatnya biar cepet sampe naek motor malah jadi disuruh dorong motor.


(kenapa gue mau aja yak disuruh dorong ni motor, kan mending gue order driver yang lain aja, daripada kepanasan, dan kegerahan gini.)


"Masih jauh gak si Bang, gue capek ih, baru dari pabrik malah kena dorong motor, berat lagi ! "


kuhentikan dorongan ku, kemudianmengipas-ngipas mukaku dengan telapak tangan.


"Tuh udah keliatan Mbak, lima meter didepan. "


jawabnya dengan tersenyum.


(Dih, ngapain lu pake senyumin gue segala, girang kali yak liat cewek kelagepan gegara dorong motor.)


(Ya Allah, hidup itu memang penuh ujian dan drama)


**~~**


Balik ke pabrik lagi.


Biarin aja yang kepanasan dorong motor lagi minum aer akua dingin biar gak lumer.


Sambil nungguin si jambul kelar di kerjain kang bengkel.


Ketika Nur si tomboy yang cantik berada di koridor menuju loker, tak sengaja ia berpapasan dengan, seorang lelaki bernadan tegap yang menjabat sebagai kepala bagian divisi skincare.


Nur hanya menyapanya dengan seulas senyum dan menundukkan kepala.


Kemudian beliau memanggilnya.


"Hai Nur, maaf, benarkan namamu Nur?! "


tanyanya lelaki dewasa itu sopan sambil memperhatikan sang gadis muda berkerudung di hadapannya.


Kemudian dia menautkan kedua alisnya yang tebal.


"Ah, i...iya pak benar itu saya," jawab Nur sedikit terbata.


Aah, ditatap sedemikian rupa oleh pak bos membuat otak Nur seketika oleng.


Jiwa mudanya,bergejolak seketika melihat wajah yang terpahat sempurna di hadapannya.


"Oh, ternyata bener ya, saya kirain saya salah orang tadi, " jelasnya lelaki berbadan tegap itu, kali ini dengan senyum yang menciptakan lubang kecil menggemaskan di kedua pipinya.


(Pliss deh, senyumnya bisa bikin orang diabetes melitus)


(Manisnyaaa, pasti tanpa sodium bikarbonat)


Kita tinggalkan Nur yang lagi tersepona sama bosnya.


Kita kembali ke adegan antara driver dan costumer yang di kerjain sama si"jambul".


Tapi......

__ADS_1


Di part berikutnyaa... eaaa.. 😁


__ADS_2