
___®®___
Senandung sholawat itu terus bergulir di bibir sensual lelaki yang rambutnya di kuncir itu.
Ujung bibirnya sesekali tertarik keatas menciptakan lengkungan.
Roman bahagianya terlihat dari aura cerah parasnya yang tampan.
Meski hanya mengenakan kaus oblong melar dan celana pendek sedengkul.
Ia terus menggosok body kuda besinya itu dengan semangat.
Menyiramnya dengan air yang berbusa.
Tidak ada siulan yang keluar dari bibirnya.
Melainkan lantunan sholawat kepada sang baginda Nabi Muhammad.
Yang akan memberi syafaat bagi siapa saja yang sentiasa mengingat Rosulullah.
Ia memutari halamannya kesamping rumah.
Meluruskan selang yang melingkar,kemudian menyalakan keran.
Bagian akhir dari ritualnya sore ini,ia pun menyiram body motor yang sudah setia menemaninya selama lima tahun ini.
Dengan air yang mengalir dari selang.
(Ahh...enak banget jambul di mandiin sama bang ganteng di elus-elus,di sabunin,eh_)
"Beuhh,kinclong dah sobat keren gue!"
seloroh lelaki berbadan tinggi tegap itu.
Sambil mengeringkan body motornya dengan kanebo.
"Siap ngapel kita ntar malem bro!"
kekehan kecilnya mengakhiri aktifitasnya sore itu.
Ia bergegas memasuki motornya itu ke teras.
Langit sudah berubah warna menjadi semburat jingga.
Pertanda hari sudah petang dan maghrib sebentar lagi datang.
__ADS_1
Lelaki berbadan tegap itu melepas kuncir rambutnya.
Terurai lah rambut hitam ikal menimpa bahunya.
Meski acak-acakan dan belum mandi.
Tapi semua itu tidaklah mengurangi kadar kerupawanan dari sosoknya sedikit pun.
"Keburu kagak yak kalo luluran dulu?"
ucapnya sembari mengintip ruang tamu.
Netranya mengarah pada benda bulat ber angka yang menempel erat di tembok paling atas.
Azan maghrib akan berkumandang dua puluh menit lagi.
Lelaki itu bergegas menyambar handuk nya di jemuran.
"Pake sabun aja dah biar banyak,"
"Gadis soleha ku,tungguin abangmu!"
monolognya sendiri dengan cengiran yang terus saja membingkai paras sumringah itu.
Tak luput peci berwarna hitam bertengger dengan penuh wibawa di kepalanya.
Beruntung,letak musholla itu tak jauh dari rumahnya.
Hingga ia bisa tepat waktu melepas suara serak-serah basahnya di depan mimbar.
Menyiarkan panggilan dari illahi bagi muslimin dan muslimat ke seantero kampung.
Panggilan yang membuatmu sukses bukan hanya di dunia,tapi juga sukses di akhirat.
*Hayya alassholaah...Hayya alassholaah!
Hayya alal falaaah...Hayya alal falaaah!
Allahu Akbar...Allahu Akbar!
Lailaa...ha illallaaaah*...!
Selesai menjadi muadzin,ia pun mundur ke belakang merapikan pakaiannya dan merapatkan barisan pada saf bagian depan.
Kemudian,Rojali solat qobliah dua rokaat bersama yang lainnya.
__ADS_1
Selepas Magrib akan ada kajian sambil menunggu Isya tiba.
Beberapa kawan-kawannya yang ia kenal di kampung ini pun sudah tiba.
Mereka menyimak dengan seksama.
Satu persatu materi yang di sampaikan oleh ustadz.
Setelah solat Isya berjamaah,Rojali segera membubarkan diri.
Ia ingat akan janjinya menemui sang pujaan hati dan orang tuanya.
Bila mengingat kebahagiaan itu akan ia raih sebentar lagi.
Syukur itu tak lepas terus ia ucapkan dalam hati.
Siapa menyangka bila perjuangannya akan semudah ini.
Ternyata benar,ikhlas itu akan memudahkan semuanya.
Dan,akan melapangkan jalan kita menuju ridhoNYA.
"Kuy,bul!"
"Kita berangkaaatt...!"
Lelaki yang masih mengenakan koko itu pun melajukan kendaraannya membelah malam.
Jaket hitam yang kali ini ia kenakan bukan jaket hijau berlogo perusahaan ojek online,tempatnya mengais recehan.
Dengan helm full face,Rojali terlihat gagah dan garang meski ia bertengger di atas motor tua usang.
"Adek manis,Abang otewe!"
"Bismillahi tawakkaltu alallah...!"
Cius amat dah ah abang ganteng dengerin ceramah.
Suaranya nyampe ke hati deh bang,sering-sering ya adzan biar adek manis makin rajin solatnya,eh.
Dukung chibi terus ya sayang...💞🥳
__ADS_1