
🎍Waktu selalu maju, dia tak pernah berhenti walau sedetik pun.
Karena itu berfikir lah sebelum berbuat.
Menyesal itu selalu hadir di belakang, karena yang di awal adalah pendaftaran.
🎍
***~~~***
Rintik kecil masih setia menetesi tanah bumi, yang sejak subuh tadi sudah di basahi guyuran rezeky dari langit.
Membuat seorang manusia setia bergulung dengan mimpinya.
Mendekap kehangatan di balik selimut.
Cuaca yang menusuk pori-pori, hembusan angin yang seakan menembus sampai ke tulang, membuat siapapun malas untuk beraktifitas keluar.
Laki-laki itu menggulung dirinya lagi di balik selimut, setelah mengaji subuh tadi.
Tidak seperti biasanya, apakah karena cuacanya yang membuat malas gerak alias mager, atau ada hal lain.
Ia menggulung ketat tubuh nya dengan selimut hingga batas leher.
Hingga yang nampak hanyalah wajahnya saja.
Bibirnya bergerak meracau, namun matanya masih terpejam.
Walau terlihat disana, kalau bola mata nya bergerak-gerak.
Dahi nya berpeluh, menetes melewati pelipis.
Padahal udara dingin di luar menembus sampai ke dalam kamar, bahkan tembok rumah pun seakan lembab.
Bagaimana pemuda ini bisa berkeringat, tapi menggulung dirinya dengan selimut tebal.
Hanya author lah yang tau, hehe.
Secara tak ada orang lain yang tinggal bersamanya.
Sedangkan jarak dengan rumah tetangganya, lumayan jauh.
Jangankan hanya meracau, dia berteriak pun tetangga belom tentu mendengar.
Kecuali kalau posisinya di ruang tamu.
**
Matahari akhirnya keluar dari persembunyian, setelah awan kelabu itu berangsur memudar.
Hawa perlahan menghangat.
Membangkit kembali semangat yang sempat layu.
Dasar manusia, mudah sekali terbuai dengan kemalasan.
Kini hujan hanya menyisakan tanah yang becek.
Sedangkan si tukang ojek, masih tergeletak di atas peraduannya.
Waktu semakin merangkak siang, pemuda itu seakan pingsan di atas ranjang.
Aih, otor kasian, siapapun tolong lah datang.
Terdengar ketukan di pintu.
"Tok, tok, tok, "
"Assalamu alaikum bang Ali! "
seorang laki-laki mengenakan batik dan kopiah, mengucap salam setelah mengetuk pintu kayu tersebut.
"Perasaan belon denger suara die manasin motor? "
"Berarti pan belon jalan ngojek? "
"Tapi kok sepi bener? "
gumamnya, bermonolog sendiri, sambil mengetuk sekali lagi.
__ADS_1
Tak ada jawaban juga.
"Hah, niat mau minta anterin ke kecamatan, "
"Di panggil gak keluar juga, "
"Padahal tu motor nye ade di dalem, "
ucapnya lirih sambil mengintip dari kaca jendela yang tirai nya sedikit tersibak dari dalam.
Akhirnya ia mencoba menghubunginya lewat telepon genggam.
"Nyambung, tu kedengeran nada deringnya dari sini, "
"Tapi kok, kagak bangun juga tu orang? "
"Masa iye segitu kebluk nye? "
Laki-laki yang berumur sekitar empat puluh tahun ke atas itu, terus saja bermonolog dengan spekulasinya sendiri.
"Ngapain Pak Rete di situ? "
teriak salah satu warga yang kebetulan lewat, kemudian ia masuk dan menyebrangi halaman rumah Rojali yang lumayan luas.
"Eh, Din, sini dah sini, "
panggil laki-laki yang menjabat sebagai ketua RT di kampung itu.
Kepada pemuda yang membawa jerigen, sepertinya baru membeli bahan bakar.
"Kenapa Pak Rete, kok mukanya panik gitu? "
tanya pemuda itu yang di ketahui bernama Endin.
"Kayaknye ade ape-ape di dalem sama si Rojali, "
"Dari tadi saya panggil sampe saya telpon tapi gak ada sautan, "
ucap Pak Erte dengan nada khawatir.
"Emang belon keluar ngojek si Rojali? "
"Oh, karena ujan kali Pak Rete, jadi masih ngerengkol, " ucap Endin sok berspekulasi.
"Ah, masa iye? " tanya Pak Erte tak yakin.
"Lha, saye aje baru bangun, enak kan dingin-dingin ngerengkol ame selimut, " ucap Endin sambil nyengir.
"Lha, ntu mah emang dasar elu nya yang males, "
"Jangan lu samain ke si Rojali, yang rajin, gak kenal lelah, waktu, gak peduli panas ape ujan, "
protes Pak Erte seakan tak terima dengan terkaan si Endin.
Yang di protes hanya memasang cengiran kuda.
"Abis mo ngapain lagi Pak Rete, kontrakan baba saye berderet-deret, " ujarnya sedikit menyombongkan diri.
"Sombong amat lu! "
semprot Pak RT geram
"Sombong ge punya, " nyeleneh pemuda itu membela diri.
"Punya baba lu, bukan punya lu! "
"Inget tong! "
Ucapan Pak RT kali ini rupanya mampu membungkam mulut si anak yang suka menikmati harta orang tua itu.
"Yaudah, trus pegimane nih? "
tanyanya dengan wajah setengah manyun karena sudah kalah telak, dengan pria berkopiah di hadapannya ini.
"Panggil beberapa warga, biar kite dobrak aje pintunye! "
Setelah mendapat perintah tegas dari Pak RT, Endin pun langsung angkat kaki, dan mengambil langkah seribu.
Sementara itu di lokasi yang berbeda.
__ADS_1
Fatimah mendapat pesan dari adiknya, bahwa sepupu mereka yang bernama Nadia masuk rumah sakit.
"Pantesan tu anak gak bales chat dari aku, "
"Ternyata, dia kena musibah,"
gumamku lirih.
Saat ini aku sedang menemani Nur, mengangkat pakaian di balkon.
"Kenapa lagi, Kak? "
"Abis nerima gaji kok, mukanya malah ketekuk gitu? " tanya Nur sambil melakukan aktifitasnya , melipat pakaian-pakaian itu ke dalam keranjang.
"Kakak di suruh ke rumah sakit, nengokin sepupu, "
"Sebagai perwakilan dari keluarga"
jawabku sambil menghela nafas.
"Terus masalahnya apa Kak? "
tanya Nur lagi kian menyelidik.
"Kakak males kalo ketemu sama bibik di sana?"
ucapku sambil memangku dagu, netraku memandang jauh di depan sana.
Terlihat gedung-gedung pencakar langit dan beberapa bangunan pusat perbelanjaan.
Nur pun kemudian menghampiriku, kemudian bersandar di pagar balkon dan menghadap ke arahku.
Dari sorot matanya aku faham kalau dia lagi dalam mode kepo.
"Ini saudara dari ummi nya Kakak, tepat nya adik kandung, "
"Tiap ketemu, dia selalu membandingkan Kakak dan anak-anaknya, "
"Bibik tu bangga, kalau anaknya gonta-ganti pacar, "
"Anak perempuan bibik ada dua, yang satu sudah menikah, ya yang masuk rumah sakit ini, "
"Yang satu lagi kakaknya masih bekerja, dan sedang menjalin hubungan dengan bos nya yang keturunan china dan ber agama tionghoa, "
Jelasku panjang lebar, membuat mulut Nur seketika menganga.
"Orang tua macam apa itu, Kak? "
"Apa Kakak diem aja tiap di julid in? "
"Jawabin dong Kak, kalo perlu di cemes biar mingkem sekalian mulutnya, "
ucap Nur gemas, terlihat dari gigi nya yang saling beradu ketika berbicara.
"Pengennya si gitu, "
"Tapi, jadi sama aja dong kayak dia, "
ucapnya kini di sertai kekehan kecil.
"Tapi sesekali Kakak mesti jawab, bikin skak mat sekalian, "
"Gedek aku tu, "
oceh Nur lagi, kenapa jadi dia yang sebel sekarang.
"Yaudah yuk kita siap-siap, "
ajakku, pada si bocah ceriwis satu ini, yang sudah kuanggap seperti adikku sendiri.
Ini hari minggu jadwal kami pulang kerumah masing-masing, karena sudah gajian.
Sebelum pulang aku harus mampir dulu ke rumah sakit unit daerah yang berlokasi di pinggiran kota.
Entah apa yang terjadi dengan sepupuku itu.
Kenapa sekarang aku ingin cepat sampai di sana.
Terus dukung otor yak
__ADS_1
Maafin kalo part nya agak gak nyambung😁