Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Ketemuan, kebetulan,


__ADS_3

💐Cinta tidak perlu kau kejar.


Meskipun dia sudah mencuri hatimu.


Karena ia akan menuntun mu, menemukan siapa pemiliknya.


💐


***~~~***


Biasanya aku dan Nur kalau mau pulang ke rumah, pasti berangkat dari pagi.


Berhubung kampung ku dan kampung nya Nur hujan, makanya kami menunda waktu kepulangan.


Ditambah aku harus transit dulu ke RSUD.


Entah kenapa hatiku berdebar terus tak karuan, seperti ada sesuatu hal terjadi.


Tapi apa, dan siapa?


Apa terjadi sesuatu dengan sepupuku itu, ah, kurasa kami tidak lah terlalu dekat.


Kami tidak pernah terlalu peduli satu sama lain.


Hubungan kami biasa saja, tidak terlalu dekat dan tidak pula terlalu jauh.


Jadi tidak mungkin ini ikatan cinta eh, ikatan batin antara kami berdua.


Tapi kenapa hati ku ini serasa gusar sedari tadi, firasat apa ini?


Dan kepada siapa?


Keluarga ku semua baik-baik saja.


Bahkan aku baru saja menghubungi Farhan, adikku.


Demi memastikan bahwa tidak ada apapun yang terjadi.


Tapi, hati ini masih saja gelisah.


Sudahlah, lebih baik aku langsung jalan saja kerumah sakit.


Nur sudah berangkat duluan dengan ojek online, karena dia juga ingin segera sampai dirumah, karena hari sudah hampir siang.


Aku pun memesan ojek online, untuk memangkas waktuku yang sedikit ini.


Aku memunggu di tempat terbuka dan ramai.


Dan, aku memilih lokasi tukang bubur langganan trio jomblo fisabilillah.


Dalam hati aku berharap...,


Ah, mana mungkin?


(Hei, ada apa dengan mu?)


(Jangan bilang kau percaya ucapannya tentang kebetulan itu?)


(Tapi mana ada kebetulan yang sama persis!)


"Haish, "


Aku menggelengkan kepala ku berkali-kali.


Agar suara-suara itu terhempas.


(Fokuslah lah Fatimah!)


(Iya, iya)


Inhale...


Exhale...


"Oke,aku masih waras ? "


"Duh, kenapa hati malah jedag -jedug begini sih? "monolog ku sambil terus melihat aplikasi.


Tak lama kemudian driver ku tiba di tempat.


Sekilas aku melirik sang driver, haah...,


" Udah siap mbak? "tanya sang driver


" Sudah, "jawabku singkat


(Kenapa aku kayak kecewa gini ya?)


(Ck, kenapa juga ni otak, jadi inget dia mulu?)


(Dahlah, abang ojek yang ganteng kan cuma si...,)


" Ih, ih, ih, "


aku memukul-mukul pelan kepalaku, mengusir semua bayangan tentang si gondrong selengean, yang suka cengar-cengir gak jelas.


"Kenapa mbak! "


tanya si abang driver agak berteriak kepadaku.


Mungkin dia bingung dapat customer kayak aku, yang mukul-mukul kepalanya sambil bicara sendiri.


Jangan aja aku sampe di turunin di jalan, karena di kira cewek gak waras.


"Ah, enggak bang, gak papa! "


"Kebut dikit ya! "

__ADS_1


jawabku sambil menyuruhnya agar lebih cepat.


Aku ingin segera sampai, agar bisa cepat pulang.


**


Akhirnya aku sampai juga di rumah sakit.


Setelah bertanya pada resepsionis, aku pun mendapat nomer kamar tempat Nadia di rawat.


Untuk menuju ke ruangannya, aku harus melewati ruang instalasi gawat darurat terlebih dulu.


Terlihat sekali kesibukan di ruang IGD tersebut.


Sepertinya ada pasien gawat darurat yang baru masuk.


Tiba-tiba debaran tadi pun muncul lagi, bahkan semakin kuat, hingga aku sedikit menekan dadaku yang terbalut kerudung yang menjuntai.


Karena aku merasa sedikit sesak.


Ya Allah, firasat apa ini?


Untuk siapa?


Berikan aku petunjuk, ya Robb, "


doaku terucap dalam hati.


Aku mencoba mencari tempat duduk di sekitar sini.


Aku ingin menenangkan debaran di dadaku ini sebentar.


Tarik nafas, hembuskan...


Terus ku ulangi hingga debaran jantungku kembali normal.


(Apa aku memiliki penyakit jantung? )


(Jangan-jangan ini bukan pertanda atau firasat buruk)


(Akan tetapi, salah satu gejala penyakit, pada jantungku, )


Aku memegangi kepalaku yang tiba-tiba sakit.


Di depan sana, tepatnya di ujung ruang UGD.


Beberapa orang tampak panik dan hilir mudik.


"Nih, hapenya si Ali,coba lu cari dah nomer keluarganya, biar bapak yang urus pendaftarannya, "


"Kudu rawat inap soalnya, hb nya rendah kata Dokter, "


Sayup-sayup ku dengar percakapan antara dua orang beda usia.


Yang satu pria dewasa dengan baju batik dan kopiah, yang satu lagi anak muda sepantaranku sepertinya.


Sepertinya mereka menyebut nama seseorang yang tak asing di telingaku.


Ternyata, otakku masih belum waras.


Buktinya, aku masih memikirkan dia.


Tiba-tiba anak muda itu duduk tidak jauh dariku.


Seharusnya aku pergi saja, dan segera menjenguk Diana.


Tapi, kenapa kaki ini berat sekali untuk melangkah, dan lebih memilih memperhatikan orang di sebelahku ini.


Ku dengar dia bergumam sendiri.


Berkali-kali dia menyebut nama Ali.


Dan setiap mendengar nama itu, jantungku kembali bereaksi.


(Apa aku benar-benar kesemsem sama itu tukang ojek, bahkan ketika mendengar nama yang hampir mirip saja, debaran jantungku langsung tidak normal. )


(Atau, aku kena pelet?)


(Astagfirullah, makin ngaco aja kamu Fatimah)


Rasanya ingin menjedugkan saja kepala ku ini ke tembok.


Biar sadar, karena aku rasa aku sedikit oleng.


Aku pun berniat beranjak bangun, dan pergi dari sini.


Karena aku berfikir lebih baik aku segera mencari ruangan Diana di rawat, basa-basi sebentar kemudian pulang ke rumah.


Namun, sebelum kaki ku melangkah, aku mendengar...,


"Ya ampun, ini bang Rojali gak punya keluarga apa yak? "


"Riwayat chat gak ada, riwayat telepon juga gak ada, "


"Sebatang kara apa ya tu orang? "


"Sianan banget si lu bang,"


"GGS,(ganteng-ganteng sebatang kara), "


oceh anak muda tersebut, sambil menatap nanar telepon genggam di tangannya tersebut.


Entah kenapa jiwa penasaranku, menyeret langkah kakiku untuk menghampirinya.


"Maaf, em, boleh saya tau? "


"Apa bang Ali yang kamu sebut sejak tadi, berprofesi sebagai, tu, tukang ojek? "

__ADS_1


tanyaku agak tersendat, entah kenapa aku terus memikirkan satu nama itu.


"Eh,mbaknya emang kenal sama bang Rojali? "


"Apa mbaknya ini sodaranya? "


cecar anak muda ini kepadaku


"Ah, itu, kalau tukang ojek online yang kamu maksud berambut gondrong, saya kenal, "


jawabku,


"Nah, pas banget dong! "


"Emang bang Rojali itu mbak, "


"Persis, ciri-cirinya, "


jawabnya seketika berdiri dengan wajah sumringah tidak sekusut tadi.


"A, apa dia sakit? "


"Dan yang di ruang UGD sana? "


tanyaku dengan perasaan yang entahlah.


Apa ini arti debaran ku sejak tadi?


Dan apa ini kebetulan yang di maksud Rojali?


"Iya mbak, kita nemuin dia pingsan di kamarnya, "


jawab anak muda itu, membuatku seketika menutup mulutku.


"A, apa...?! "


Hanya kata-kata ini yang mampu keluar dari mulutku.


Dan sejenak aku melupakan niat ku datang kerumah sakit ini.


"Iya mbak, ini saya lagi nyari nomer keluarganya, tapi kagak nemu pisan ini, " ucapnya sambil menyodorkan hape milik Rojali ke arahku.


"Oh iya, mbak ini temannya kan? "


"Apa jangan-jangan pacarnya? "


ujarnya lagi sembari memicingkan matanya.


Belum sempat aku membuka mulutku, untuk menjawab pertanyaan pertama anak muda ini.


Tiba-tiba saja dia sudah berspekulasi seenak jidatnya.


Membuat seketika kedua netra ku ini membola.


(Apa-apaan ini bocah, temen aja bukan apalagi pacar? )


"Gimana Din, ketemu kagak keluarganya? "


tanya bapak-bapak yang berbaju batik itu, yang tiba-tiba saja sudah ada di hadapan kami.


"Kagak Pak Erte, tapi ini ada temennya, "


jawab anak muda itu sambil menunjuk ke arahku.


Dan seketika itu pula, si bapak yang ternyata pak erte menoleh dan memperhatikanku dengan seksama.


"Lha, ini mah bukan temennya kali Din, tapi calon bini, " ujarnya sambil tersenyum lebar.


Aku kembali mendelikkan kedua mataku, seakan tidak percaya dengan spekulasi mereka.


Kok ada ya orang yang seenaknya berpendapat sendiri sebelum bertanya.


(Ini lagi si bapak, tadi pacar sekarang calon bini)


(Nyesel deh gue, udah ngaku kenal)


"Eh, bu, bukan pak, saya kebetulan hanya sebatas kenal saja, iya, "


ucapku, buru-buru menjelaskan agar kesalah pahaman nya tidak semakin panjang.


"Oh syukurlah ada yang mengenal Rojali selain kita, "


"Mari si eneng bisa ikut kita."


Pak Erte memutuskan tanpa membutuhkan persetujuanku lebih dulu.


Ia berjalan di depan dengan cepat.


Apakah keadaannya gawat, sehingga bapak itu terlihat khawatir?


Kami tiba di ruangan serba putih, bau obat mencuat kuat sekali di indera penciumanku.


Pak Erte masuk ke dalam bangsal yang tertutup tirai hijau.


Tak lama kemudian dia pun keluar, dengan seulas senyum ke arahku.


Ia membuka tirai nya perlahan.


Seketika kedua netra si pasien yang sedang berbaring membola, dengan mulut yang menganga.


"Ini dia kejutan yang Bapak maksud, kamu seneng kan? "


"Pasti langsung sembuh deh, udah di samperin pacar mah. " Kemudian bapak dan anak muda itu terkekeh.


Menyisakan kami yang hanya beradu pandang dengan tatapan...,


(Apa ini kebetulannya?)

__ADS_1


Seneng gak mereka akhirnya ketemu lagi?


Kalo seneng bagi sajen buat otor yak😚


__ADS_2