Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Pak,jangan ngamuk Pak!


__ADS_3

___๐Ÿƒ๐Ÿƒ___


Rojali sengaja berlama-lama duduk di musholla.


Lebih baik ia melantunkan sholawat dan memanjatkan do'a,untuk sang mama yang sedang berjuang di masa kriti8snya.Toh,sang adik pasti akan mengabarkannya.


*FLASHBACK*


"Abang...," Jihan terkesiap ketika tepukan lembut itu mendarat di bahunya.


Buru-buru ia menyeka air mata nya,yang sedari tadi tak habis-habis terus membanjiri pipinya.


"Temuin Papa gih?" perintah Rojali sambil mengusap air mata yang masih saja meleleh di kedua pipi merah muda Jihan.


Sontak mata bulat yang basah itu membuka lebar."Papa,disini?"


Rojali dan Fatimah mengangguk ketika netra basah itu melirik bergantian ke arah mereka.Jihan menutup mulutnya berusaha menahan suaranya.


"Abang gak nemuin papa?" tanya Jihan


Rojali membuang wajahnya,berharap sang adik tak melihat kemarahan di matanya.


"Abang gak rindu papa kah?" tanya Jihan lirih,sambil berusaha menelisik wajah yang berpaling darinya itu.


"Tentu saja Abang rindu Noy,bahkan... kerinduan Abang_lebih dari pada malam merindukan siang,"jawab Rojali sambil menahan air yang menggenang di pelupuk matanya.


Fatimah menggigit bibirnya guna menahan isak itu agar tak keluar,ia begitu dapat merasakan perih dan luka serta kerinduan yang terpendam.


Semoga Allah membuka pintu hati papa mertuanya itu.Agar ia tak lagi menyakiti dirinya maupun orang-orang yang di cintai nya.


Do'a nya terucap tulus didalam hati.


Jihan yang mengerti apa yang di rasakan saudara lelakinya,pun segera beranjak setelah sebelumnya memeluk kedua saudaranya itu.


*FLASHBACK END*


Rojali memejamkan matanya,kepalanya menunduk,kedua kakinya bersimpuh diatas sajadah.


Bukan ia tak ingin menemui pria yang darahnya mengalir juga di dalam tubuhnya.


Yang karena turunan genetiknya telah membuatnya menjadi lelaki bertemperamen tinggi.


Rojali sedang menjaga emosinya,ia sedang berusaha melawan hasrat amarahnya yang mendidih.


Berulang-ulang ia beristifghfar,berharap Allah memberi kelegaan pada hatinya,memberi kelapangan pada dadanya,yang saat ini sedang dihimpit batu nestapa.


"Ya Allah,jikalau maut itu bisa di tangguhkan,ku mohon tangguhkan lah demi mama,jika memang tidak maka_berikanlah ia jalan menuju haribaanmu dengan sedikit rasa sakit saja..."


Akhirnya air mata itu tumpah juga,di iringi isak tertahan.


Fatimah membiarkan suami seharinya itu menangis tersedu di hadapan Tuhannya.


Biarlah ia melepas semua lara,biarlah ia mengadu pada sang pengatur dan penentu nasib.


Fatimah dengan setia menunggu di belakang suaminya.

__ADS_1


Menunggu hati yang sedang mengadu itu puas,menumpahkan segala lara kepada Al-Lathiif(yang maha lembut).


Ketika sang suami menoleh,Fatimah sudah siap memasang senyum terbaiknya.


"Adek udah sholatnya?"


tanya Rojali sambil menghadap kearah istri cantik nya itu.


"Udah," jawab Fatimah lagi-lagi dengan senyum yang bisa membuat siapapun baper.


"Abang laper gak?kita cari makan dulu yuk,sekalian beli buat yang lain," ajaknya kemudian.


"Ya Robb,bini botoh Abang kelaperan,kasian banget,maaf ya sayang..." sesal Rojali merasa bersalah.


Fatimah malah tersenyum karena ia merasa suaminya telah kembali ceria.


Entahlah,mungkin Rojali hanya berusaha menutupi perasaannya ataukah memang sudah berlapang dada menerima segala ketentuan Allah.


"Syukurlah,Adek seneng bisa liat senyum Abang ganteng ku lagi," puji Fatimah dengan binar cinta di matanya.


"Akhirnya,Adek mengakui juga kan kalo Abang ini ganteng," pongah Rojali sambil menaik turunkan alis nya.


"Ish,mulai dah kambuh...." Fatimah pun berdiri dan melenggang pergi,dalam hati ia merutuki mulutnya sendiri.


*******


Adiguna menatap nanar pintu berkaca itu.Tanpa ekspresi,tatapannya menukik tajam seakan ia bisa tembus pandang melewati tembok ruang operasi.


Ia duduk bertopang antara lutut dan siku


Suasana tenang ini belum berlangsung lama,karena beberapa menit yang lalu aura panas mencekam baru saja terjadi.


*FLASHBACK*


"Dimana,Dokter yang menangani istriku!" hardik Adiguna kepada salah satu Ners(perawat pria) yang keluar dari ruang operasi.


Adiguna menyambar salah satu tangannya hingga alat-alat yang di bawanya jatuh berserakan.


Perawat itu terkesiap,wajahnya memutih lantaran tatapan mengintimidasi itu menusuk ke dalam bola matanya.


Dengan tergagap ia berusaha menjawab.


"Do,dokter...di,didalam,Pak,"


"Bagaimana keadaan istriku?"


Adiguna semakin erat mencengkram lengan si juru rawat,hingga terlihat ia meringis menahan ngilu.


"I,Ibu...Mirna,kritis..."Penjelasan sang perawat terpotong karena Adiguna mengalihkan cengkeramannya ke kerah baju.


Makin pucat saja perawat itu.


Beberapa pengawal atau ajudan berusaha menahan tindakan Adiguna agar tak kelewat batas.Bagaimanapun juga ini bisa di kategorikan sebagai kekerasan terhadap nakes(tenaga kesehatan).


Adiguna melepas Ners itu,kemudian memberi perintah kepada salah satu pengawalnya.

__ADS_1


"Panggil kepala Rumah sakit ini agar menghadap ku.Sebelum aku mengacau di dalam sana." Setelah memberi perintah Adiguna kembali menatap pintu kaca itu tanpa bergeming.


Dua orang pengawal undur diri.


Tak lama kemudian beberapa orang lelaki berpakaian putih tergopoh-gopoh menghampiri Adiguna.


Setelah mereka tahu bahwa siapa yang sedang dihadapi,mereka mendadak panik.


"Selamat siang Pak Brotoseno,sebaiknya kita bicara di ruangan saya saja bagaimana?" sapa seorang lelaki berjas putih layaknya dokter,usianya sekitar hampir lima puluh tahun.


"Apa aku terlihat membutuhkan penawaran!Katakan padaku,dokter jenis apa yang kau pekerjakan di dalam sana,hah!" bentak Adiguna membuat beberapa orang di hadapannya menjengit kaget.


Bahkan,sang bapak kepala rumah sakit itu terlihat memegang dan mengusap dadanya.


Sepertinya ia memerlukan kawannya,dokter spesialis jantung.


"Tentu saja para Dokter spesialis terbaik kami,Pak," jawab sang kepala rumah sakit, setelah ia dapat menetralkan degup jantung nya, yang hampir saja berhenti tadi.


"Mengapa mereka membutuhkan waktu lebih dari tiga jam!"pekik Adiguna tepat di depan wajah sang kepala rumah sakit.Dengan satu jari telunjuk yang menukik tajam,menunjuk ke arah ruang operasi.


"Keluarkan mereka,ganti dengan tim yang lebih jago atau aku pastikan rumah sakit ini rata dengan tanah!"perintah Adiguna pelan namun penuh penekanan.


Adiguna menatap nyalang mereka yang ada di hadapannya saat ini.


Kemudian ia menurunkan jarinya dan memasukkan tangannya ke dalam kantung celananya.


Para pengawal dan ajudan pun saling tatap.


Mereka yang faham sifat dan tabiat tuannya.


Karena perintah Adiguna pantang di tolak.


Bagaimana ini?


Kau bukan presiden Adiguna!


Jangan seenaknya!


Tiga orang di hadapan Adiguna pucat pasi.


Tak ada satupun yang berani berbicara.


Hingga akhirnya,sang wakil kepala membuka suara,wanita berhijab yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu maju selangkah di depan sang kepala.


"Maaf,Tuan Adiguna yang terhormat,kami tidak semudah itu mengganti tim yang sedang melakukan penyelamatan.Karena selisih waktu sedikit saja bisa berakibat fatal terhadap pasien."jelasnya sambil memberanikan diri menatap sepasang mata elang itu.


" Tapi kerja mereka begitu lambat!Bagaimana bisa rumah sakit seekslusif ini bekerja macam siput sawah!"


Dengar!Aku akan bayar berapapun asal kalian kerahkan orang-orang terbaik untuk menyelamatkan istriku!"geram Adiguna dengan mata memerah dan telunjuk yang menuding, tepat di depan hidung wanita yang berhijab itu.


Masih part menguras esmoni gaes...


Namanya juga hidup ya gak,manis asam asin ramai rasanya,eh๐Ÿ˜…kayak sayur asem.


Doain biar cepet nemu ending nupel ini ya gaes.

__ADS_1


Biar awal tahun chibi punya nupel baru.๐Ÿ˜ฌ


__ADS_2