
🌿Bila hati sudah di kuasai oleh cinta dunia.
Maka nasihat pun tidak akan bermanfaat baginya. (Imam malik bin Dinar R. A.)
🌿
Fatimah dengan cepat menapaki sepasang kakinya menuruni pijakan yang berundak di bangunan berlantai dua tersebut.
Agak sedikit tergesa memang, karena ia khawatir,jika sepupunya terlalu lama menunggu di jemput olehnya.
Ia juga sangat merindukan adik sepupunya itu, yang usianya terpaut dua tahun di bawah dirinya.
Bertahun-tahun tidak ber jumpa, membuat perasaannya begitu membuncah.
Karena pertemuan terakhir mereka,adalah ketika Fatimah masih kelas 6 di madrasah ibtidaiyah.
Sedangkan Tina kelas 4 di sekolah dasar negeri.
Ia berhenti sejenak, pada undakan anak tangga pertama.
Fikirannya melesat kebelakang, ke masa dimana perpisahan itu bermuasal.
Mereka sempat tinggal seatap dan besar bersama.
Setelah nenek tiada, kemudian di susul kakek beberapa bulan kemudian.
Kami berpisah, berpencar dengan kehidupan masing-masing.
Karena ada sedikit sengketa terhadap harta warisan peninggalan kakek.
Begitulah harta, dapat melebur kekentalan hubungan darah.
Dapat memutus tali ikatan persaudaraan.
Membuat yang setia menjadi pengkhianat.
Membuat yang jujur menjadi pendusta.
Membuat yang tulus menjadi culas.
Membuat si baik menjadi si jahat.
Semua tidak akan terjadi, bila ada iman dan kasih sayang di hati.
Bukankah harta tidak di bawa mati.
Lalu kenapa kita harus mati-matian mengumpulkannya.
Bahkan sampai hati merebut dari saudaranya sendiri.
Yang di fikirkan adalah memenuhi segala hasrat dan kepentingannya sendiri.
Itulah dahsyatnya kemilau harta yang mampu menghalangi bahkan sanggup menutup mata hati dan nurani.
(Waktu itu sudah lama sekali berlalu)
(Semua pasti sudah kembali baik-baik saja)
(Memaafkan dan melupakan itu lebih baik dan mulia)
(Mungkin ini jalan memperbaiki semua, merajut kembali tautan yang terkoyak oleh keserakahan)
Fatimah yakin, masalah antara orang tua mereka di masa lalu, tidak akan berimbas pada mereka yang di masa depan.
Semoga semua sudah berakhir.
Semoga tidak ada yang namanya dendam.
Seperti yang pernah ku baca di novel-novelku.
Yang pura-pura baik di depan, tapi menyimpan kelicikan di belakang.
Fatimah berusaha mengusir segala bentuk fikiran buruk.
Ia berusaha berhusnudzon sejak awal pertemuan nya dengan Tina di media sosial.
Ia begitu penasaran bagaimana penampilan adik sepupu kecilnya itu sekarang.
__ADS_1
Karena ia hanya melihatnya melalui foto-foto yang di posting di aplikasi biru itu saja.
Ia ingat bagaimana cengengnya Tina waktu kecil, sering merajuk bila keinginannya tidak di turuti olehnya.
Karena itu Fatimah kecil selalu mengalah.
Tina adalah anak bungsu di keluarganya.
Ia satu-satunya anak perempuan diantara kakak-kakak lelakinya.
Semua keinginannya selalu di turuti, baik oleh kedua orang tua, dan kedua kakak lelakinya.
Semua itu karena Fatimah dulu belum punya adik, dan Tina kecil begitu sangat menggemaskan dan lucu.
Mereka sangat suka bermain bersama.
_____
Fatimah berjalan semakin cepat ,dan kini ia sudah sampai di area lapangan yang berada di samping kos an, dimana mobil sepupunya itu terparkir.
Tina yang dari dalam melihat Fatimah berjalan ke arah mobil yang di tumpangi nya.
Berusaha menghentikan aksi yang tidak pantas di tiru bagi pasangan yang halal apalagi yang belum halal, alias masih haram.
"Udah ah, nanti lanjut lagi, "
"I,itu,Ka,Kakak sepupu aku..., udah mengarah ke,kesini, " ucapnya terbata sambil berusaha menghentikan aksi gila pria sipit yang sedang berjongkok di bawah tubuhnya itu.
Tina kemudian merapikan dress nya yang tersingkap beberapa saat lalu itu.
Mengeringkan keringatnya, karena perbuatan pria di sebelahnya ini, sempat memacu adrenalin nya tadi.
Kemudian ia membuka pintu mobil.
Dan, memasang senyum terbaik, yang selama ini menjadi senjata nya untuk memikat para calon korbannya.
Ia berteriak menyapa Kakak sepupunya yang hanya berdiri mematung melihatnya di seberang sana.
Fatimah enggan menghampiri nya lebih dekat lagi.
(Mengapa pakaiannya kurang bahan begitu?)
(Katanya gaji dia besar, tapi kenapa gak mampu beli baju yang sesuai porsi tubuh dan menutupi bagian-bagian tubuh yang tidak boleh di ekspos.)
Fatimah masih terpekur dengan pemikirannya sendiri.
Sungguh di luar perkiraannya, waktu bertahun-tahun ternyata mampu merubah orang menjadi berbeda.
Fatimah menangkap sesuatu pada perasaannya.
Ada hal yang tersirat, sekejap membuat nya yang tadi bersemangat mendadak ragu.
Tapi, Fatimah berusaha menepis semua itu.
Ia baru melihatnya bukan?
Ia pun memasang senyum ramah dan lembutnya.
Yang tanpa Fatimah sadari itulah kelebihannya.
Senyum manis dengan deretan gigi kecil dan rapi,di tambah lesung samar di pipi.
Yang membuat pria soleh dan tak soleh sekalipun mabuk kepayang.
Yang mana karena hal itulah,sehingga membuatnya selalu di kejar oleh laki-laki hidung loreng.
Mereka berdua pun berpelukan.
"Masya allah, kamu cantik banget Tina, "
pujiku setelah kami melerai pelukan rindu.
"Kakak lebih cantik malahan, " puji Tina, mulai melancarkan aksi rayu-merayu nya.
"Kamu sama siapa?"
"Ajak naek sekalian, kita ngobrol di balkon atas, "
__ADS_1
ajak Fatimah sambil melihat ke arah pria yang baru turun dari mobil mewah tersebut.
Otor kagak tau jenis mobil nye, pokok nye tu mobil bisa di buka ke atas gitu pintu nye.
Otor pan tau nye cume angkot ame grab doang. Hehe,
Pria itu mendekati Fatimah dan mengulurkan tangannya guna memperkenalkan diri.
Ia pun menyebut namanya,
" Eddie lau..., "
Fatimah hanya menangkup kan tangannya di depan dadanya. Sambil menyebutkan namanya setelah sebelumnya meminta maaf terlebih dahulu.
Pria itu kemudian menarik kembali tangannya yang sempat mengambang di udara sepersekian detik.
Akhirnya mereka semua masuk melalui gerbang depan kos an.
Melewati warung Tante Gaby.
Kebetulan ada pemilik tempat yang ia sewa kamatnya ini.
Sehingga Fatimah pun sekaligus meminta izin untuk membawa para tamunya ini ke atas.
"Oiya, Om, Tante, hari ini saya kedatangan sepupu saya dan
temannya, "
"Jadi, bolehkan saya mengajak mereka ke atas?
" Kami akan mengobrol di balkon, "
kataku kepada Tante Gaby dan suaminya.
"Boleh, silahkan asal jangan buat masalah, "
jawab Tante gaby yang kemudian di angguki oleh suaminya.
Fatimah pun mengucapkan terima kasih dan berniat untuk sekalian memesan kopi.
"Kamu mau minum apa,? "
"Dan,sekalian saja tanyakan pada temanmu, "
tawarku pada Tina.
Kemudian Tina melirik pria di sebelahnya itu, yang di balas pula dengan lirikan olehnya.
Kemudian ia tersenyum kepada Fatimah.
"Apa aja deh Kak, yang penting ngademin dan nyegerin, "
Fatimah pun kemudian memesan jus jeruk kepada Tante Gaby.
"Yaudah, nanti di antar ke atas sama Om ya, "
"Kebetulan hari ini anak bujang Tante si Robi,yang gantengnya kayak artis korea itu, lagi interview, " jelasnya padaku, padahal juga aku kan gak nanyain anaknya.
Kami bertiga pun pamit dan segera naik ke atas dengan menapaki satu persatu anak tangga.
Aku mempersilahkan Eddie jalan lebih dahulu di depan kami.
Tina bergelayut manja dengan mengalungkan kedua lengannya di lenganku.
Aku pun menanggapi nya hanya dengan senyuman.
Eits ada rubah kecil di deket Fatimah.
Hehe... bakalan ada konflik yang lumayan nih.
Jangan lupa sajen nya yak.
Otor mao ngumpet dulu, sstt...,
Abis buat part begini dua bab,
kudu minum es.
__ADS_1