Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Meleleh tapi bukan es krim


__ADS_3

๐Ÿ’Jangan terlalu menggebu terhadap sesuatu.


Tetaplah kedepankan logika dan akal.


Karena,bila hanya membawa perasaan pada suatu hubungan.


Membuat realita tertutup cinta yang buta.


๐Ÿ’


***~~~***


Mereka kini telah sampai di pelataran sebuah masjid yang cukup besar.


Megah dan agung.


Dengan arsitekturnya yang bergaya ala Maroko.


Dengan pilar-pilar yang berdiri menjulang di beberapa sisi.


Kubah yang besar, diapit beberapa kubah kecil.


Warna biru tua yang cerah dan putih gading yang dominan.


Memanjakan mata, yang menciptakan kesan yang menenangkan jiwa.


Mereka berpisah, karena tempat wudhu laki-laki dan perempuan sengaja di beri jarak cukup jauh.


Untung saja mereka belum ketinggalan.


Sang imam yang bersuara merdu dan fasih itu masih melafadzkan pertengahan dari suroh Al Fatihah.


Saf perempuan di batasi tirai berwarna biru langit sebagai hijab.


(Hijab adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti "penghalang atau penutup". Hijab adalah segala hal yang menutupi sesuatu yang dituntut untuk ditutupi atau terlarang untuk menggapainya. Diantara penerapan maknanya, hijab dimaknai dengan as sitr, yaitu yang menghalangi sesuatu agar tidak bisa terlihat.ย 


"Assalamu alaikum warohmatullah... . "


Ucapan salam, menandakan berakhirnya solat berjamaah.


Namun, seorang pemuda masih betah bersimpuh menengadahkan tangannya, memanjatkan doa.


Doa yang beberapa bulan belakangan ini tak bosan ia panjatkan kepada Robb nya.


Di dalam sebuah tirai biru, seorang gadis terlihat memejamkan matanya dengan kedua telapak tangan yang mengangkat di depan wajahnya.


๐Ÿ’ž


Rojali yang tengah mengikat tali sepatunya.


Di kagetkan oleh kedatangan seorang gadis berpasmina.


Gadis itu ikut duduk di sebelahnya dengan jarak kurang lebih setengah meter.


Rojali menoleh, menetap wajah lembab yang habis terkena wudhu itu.


Polos tanpa polesan, tapi mampu membuat dunia jungkir balik seketika.


Terpana,


Baru kali ini ia melihat wajah selengean itu seteduh ini.


Dengan ujung poni nya yang masih basah.


Buru-buru ia mengalihkan pandangannya pada tali sepatu yang diikat menjadi satu kesatuan pada sepasang sepatu.

__ADS_1


Kontan ia terkekeh geli.


Kejadian langka ini tak luput dari perhatian Rojali.


Baru kali ini ia melihat Fatimah tertawa selepas itu.


(Aku harus segera menghalalkan mu )


(Demi keselamatan jantungku)


Rojali memegangi dadanya yang berdegup kencang.


Ia takut debarannya ini terdengar sampai ke gadisnya.


"Bang! "


"Woii! "


Fatimah mengibaskan tangannya ke depan wajah Rojali.


Rojali yang tertangkap basah melamun sambil memandang Fatimah.


Segera menyugar rambutnya, menepis malu yang seketika mencuat.


"Apa-apaan itu lagu nya? "


tunjuk Fatimah ke bawah, mengarah pada sepasang sepatu kets berwarna abu-abu.


"Eh, Astagfirullah! "


"Lha, ngapa jadi begini ? "


Pekik Rojali sambil menggaruk tengkuknya dan nyengir kuda.


Gemas sendiri, ia pun membenarkan letak dan simpul tali sepatunya.


"Abang, lagi banyak fikiran ya? "


selidik Fatimah sambil memeluk tasnya ia menatap Rojali.


(Iya, mikirin kamu)


(Seandainya aku bisa bilang gitu)


Rojali menghela nafasnya perlahan.


"Karena omongan Abang belom tuntas tadi, "


"Jadi kepikiran terus, "


jawab Rojali berusaha jujur.


Mumpung pelataran masjid agak sepi kerena yang solat sudah pulang sejak tadi.


Hanya sesekali ada beberapa pengendara yang singgah untuk menyusul magrib yang wantunya singkat ini.


"Eh, iya, emang Abang mau ngomong


apaan si? "


tanya Fatimah, rupanya sudah tidak setegang tadi.


Mungkin efek doanya tadi, bahwa ia akan menyerahkan semua nya pada sang Khalik.


"Abang, mau menghindari dosa, Dek, "

__ADS_1


"Abang, ingin selalu menjaga kamu, melindungi kamu, "


Tetapi, dengan jalan yang di ridhoi oleh Allah, "


ucap Rojali tenang dan lancar.


Fatimah terdiam, ia akan mendengarkan apa yang akan di utarakan pria di sampingnya ini.


Tanpa berniat memotongnya sedikit pun.


"Abang ingin menjadikan kamu mahrom dan menjadikan berduaan kita ini halal, "


Rojali terus mengungkapkan isi hatinya , yang di pendamnya sejak tadi.


Ia memberanikan diri nya menoleh, kearah Fatimah.


Karena sejak tadi ia berbicara sambil menatap langit malam di depannya.


"Boleh Fatimah meminta waktu? "


"Untuk kita berdua?"


"Agar lebih memantapkan lagi perasaan dan keyakinan masing-masing, "


"Karena , pernikahan adalah ibadah, cukup sekali seumur hidup, "


"Karena Fatimah tidak akan sanggup berbagi, "


"Kita solat istikhoroh sama-sama ya, "


"Melibatkan Allah sebagai penentu dari setiap keputusan, agar kita tidak akan menyesal di kemudian hari, "


jelas Fatimah dengan lembut tapi mengena.


Rojali mengangguk, bibirnya pun mengulas senyum penuh kelegaan.


Ia sudah menyiapkan hati nya bila mendapat penolakan.


Tapi, ternyata gadisnya hanya meminta waktu dan mengajaknya untuk melakukan munajat kepada Allah.


Bukankah itu artinya, Fatimah juga menyimpan rasa dan asa yang sama dengannya.


"Insya Allah, Abang siap, melakukan apa yang Adek pinta, "


"Sekarang, kita pulang, takut ayah sama ummi khawatir, "


"Walaupun, kamu pulangnya sama Abang, tapi kan status Abang masih orang lain, "


sindir Rojali sambil melangkah menuruni undakan terakhir.


"Iya, semoga Allah memilih Abang untuk menjadi imamnya Fatimah ya, "


"Dan semoga Allah juga menetapkan aku sebagai tulang rusuknya Bang Ali, "


ucap Fatimah tulus, sambil tersenyum simpul dan menunduk.


Serr, ada yang sejuk tapi bukan angin.


Ada yang meleleh tapi bukan es krim.


Udah belom uwwunya???


Hah, mau lagi??


Pencet like dulu biar rame.

__ADS_1


__ADS_2