Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Bukan gadis lemah


__ADS_3

🌿Sesungguhnya kebaikan yang kau lakukan adalah demi dirimu sendiri.


Dan begitu pula, dengan kejahatan yang kau lakukan.


Semuanya, akan kembali dan berbalik kepadamu.


🌿


***~~~***


Kembali pada si tua bangka bau tanah Willy.


"Mengapa gadis semenarik kamu, memiliki tangan yang kasar, hm? "


tanya Willy berusaha mendekatkan wajahnya untuk mencium tangan Fatimah.


"Jangan harap kau, tua bangka...! "


Fatimah pun melayangkan pukulannya dengan tangan satunya yang bebas dari cengkeraman Willy.


Karena tidak siap atau tidak menyangka bahwa gadis di depannya ini akan melawan.


Willy pun sedikit limbung kesamping karena pukulan Fatimah telak mendarat di pipi kirinya.


Baru saja Willy hendak menoleh dan menegakkan tubuhnya, sebuah tendangan kuat kembali mendarat di wajahnya, membuatnya tersungkur dan terguling mencium lantai marmer yang licin.


"Cium tu marmer sampe puas! "


teriak Fatimah mengeluarkan emosinya dengan nafas yang memburu dan rahang yang masih mengeras.


Melihat sahabatnya sudah beraksi dan berhasil melumpuhkan Willy si tua bangka tak tau diri itu.


Nur pun mengambil kesempatan di kala pria yang mengunci nya ini lengah karena terperangah.


Ia pun menarik kepalanya kedepan dan membenturkannya dengan kuat dan dengan tenaga yang penuh kebelakang, tepat mengenai kening Eddie.


Membuat nya mengaduh dan mengendurkan cekalan pada kedua tangan Nur.


Tidak berhenti sampai di situ, Nur menghentakkan kaki nya dengan kencang dan kali ini cekalan pada tangannya berhasil terlepas.


Melihat lawannya menunduk dan dalam keadaan yang tidak waspada , Nur menaikkan lututnya ke atas menghujam tepat di wajah Eddie.


Membuat pria itu hampir terjengkang.


Eddie memegangi hidungnya yang berdarah.


"Gadis kecil si*l*n kau! "


Belum sampai mulutnya bungkam, sebuah tendang sudah melayang menghujam dadanya.


Membuat nya kini terjengkang sempurna dengan keadaan meringkuk, merasakan hidung yang remuk dan dada yang sesak.


Fatimah dan Nur serentak menoleh, sama-sama terperangah.


"Kak! "


"Nur! "


mereka memekik bersamaan, kemudian saling menghampiri, dan mengangguk.


Mereka berdua segera mengeluarkan jurus selanjutnya, yaitu jurus langkah seribu.


Ya, melihat musuh sudah tumbang mereka berdua pun memutuskan untuk berlari mencari jalan keluar.


"Bos! "

__ADS_1


Dua orang pria berjaket hitam menghampiri Willy yang sedang berusaha untuk bangun.


"Bos, tidak apa-apa kan,Bos? "


tanya salah satu pria berjaket sambil membantu Willy.


"Apa kalian tidak lihat! "


"Kenapa lama sekali ! "


"Dasar anak buah tidak berguna! "


hardiknya.


Willy menepis tangan anak buahnya yang ingin membantunya bangun.


Ia teramat marah dan kesal, juga merasa di lukai harga dirinya.


Bisa-bisanya ia tumbang oleh serangan seorang gadis berkerudung.


(Sial, sial seribu sial!!)


"Anak buah BODOH!! "


"Kejar gadis-gadis pengacau itu! "


"Cepat!! "


Kedua pria berjaket hitam itu pun segera berlari ke arah di mana dua gadis itu melarikan diri.


Setelah menghajar habis bos mereka.


Di tengah perjalanan Fatimah dan Nur berpapasan dengan Tina yang baru saja keluar dari salah satu ruangan.


"Kak, Fatimah! "


" PLAKK"


"Jangan panggil aku Kakak,"


"Mulai saat ini aku bukan saudaramu! "


pekik Fatimah dengan mata yang sudah berkaca-kaca, ia tidak menyangka,adik sepupu yang pernah menjadi teman di masa kecilnya,tega menjualnya kepada pria hidung loreng.


Fatimah segera berlalu setelah melepas cengkeraman pada bahu Tina.


Karena setelah menampar Tina, Fatimah sempat mendorong tubuh mantan sepupunya itu ke tembok.


Nur pun tidak tinggal diam, ia menyengkat kaki jenjang Tina hingga ia terpelanting dengan bokong yang mendarat dengan sangat keras di lantai.


"Aakkhhh! "


"Brengsek kalian! "


teriaknya pada dua gadis yang sudah menghilang di belokan menuju tangga.


Tina mengusap ujung bibirnya yang sobek dan mengeluarkan darah.


Ia juga meringis merasakan linu pada bokongnya.


"Sakit, "


"Gilak, kuat sekali tenaganya, "


"Bagaimana mungkin, mereka bisa lolos? "

__ADS_1


"Bukankah, Om Willy sudah memasukkan obat bius dosis tinggi? "


"Tap, tap, tap, "


Langkah berat dan tergesa terdengar, kemudian...,


Dua orang pria berjaket hitam berlari melewatinya dan melirik sekilas ke arahnya.


"Hei! "pekiknya tertahan.


"Apa mereka sedang mengejar saudara siake itu? "


Gumamnya kesal,sambil berusaha untuk bangun.


Kemudian dari arah berlawanan, dua pria mendekatinya.


"Eddie? "


"Apa yang terjadi, honey? "


tanyanya dengan tangan yang membungkam mulutnya, karena ia melihat keadaan sang kekasih yang babak belur.


Sebelum ia sampai pada pria sipit pujaannya itu, Willy sudah menarik rambutnya yang terurai panjang.


"Akhh...! "


"Sakit, Om! "


"Hiks..., "


Tina meringis sampai mengeluarkan air mata.


Karena begitu perih yang ia rasakan pada kulit kepalanya.


"Dasar gadis bodoh tidak berguna! "


Kali ini Willy mendorongnya ke dinding dan mencekik leher Tina, hingga nafas gadis itu tercekat.


"Ed, Eddie..., to, tolong...! "


Tatap matanya nanar memohon pertolongan pada pria yang ia anggap kekasihnya itu, yang kini hanya diam terpaku, dengan sorot mata dingin ke arahnya.


"Bos, dia bisa mati! "


tahan Eddie, karena ia melihat wajah Tina yang memucat.


"Jangan membela ****** mu! "


teriak Willy pada Eddie.


Tak ayal juga ia mengendurkan cengkraman nya, pada leher putih mulus yang kini membekas lingkaran merah.


"Kau yang harus menggantikan saudarimu, untuk memuaskan ku! "


"Dan, kalau sampai ia terlepas,


maka akan ku buat kau mati lemas di atas ranjang ku, "


ucapnya pelan namun bernada mengancam dengan seringai yang dan tatapan mata yang sangat mengerikan.


Membuat bulu kuduk Tina meremang seketika.


"Tidak, Om, tidak! "


Tina menggeleng lemah dan berteriak sekuat tenaganya, ketika kini Willy menyeretnya tanpa ampun.

__ADS_1


Oke, otor udah up tiga bab nih...


Lempar apa kek biar otor seneng?


__ADS_2