Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Modus yang berakhir malu.


__ADS_3

🌡**Jangan mencari pasangan yang sempurna.


Karena Manusia yang sempurna hanya ada satu-satunya, yaitu Rosulullah Muhammad.


Carilah pasangan yang dapat menyempurnakan kekuranganmu, menyempurnakan akhlakmu menyempurnakan taqwa mu.


Jadilah laksana pakaian bagi pasanganmu,yang menutupi segala kekurangan dan juga aib nya**.


🌡


***~~~***


Panggilin suster dong, jangan diem aja! "


pekiknya pada dua tetangga Rojali yang hanya terpaku diam tanpa aksi.


Membuat mereka berdua terlonjak, kemudian mengelus dada ayam, eh, dada masing-masing.


(Galak juga kamu dek, kalo lagi panik)


Ia tersenyum di balik selimut.


"Ta, tapi tadi gak kenapa-napa dah? " bingung Endin sambil menggaruk kepalanya.


Sekilas Pak Erte melirik pemuda di balik selimut yang terlihat hanya mata dan hidungnya saja.


Ia pun faham.


"Yaudah, kita berdua keluar dulu manggil suster ame dokter ye. "


Mereka berdua pun bergegas keluar.


Tinggallah Fatimah yang kebingungan menghadapi orang di balik selimut ini.


Mau tak mau berduaan juga mereka akhirnya.


"Sebenernya Abang sakit apa? "


"Ini kenapa di kerubung semua mukanya sama selimut? "


"Kalau gak bisa nafas gimana? "


Fatimah terus mencecar pertanyaan pada pemuda yang sedang meringkuk di atas ranjang rumah sakit.


Tak ada sahutan dan pergerakan sama sekali, membuat gadis ini semakin gusar saja.


Perlahan, ia memberanikan diri untuk menyibak selimutnya.


"Bang? "


(Duh, lama amat lagi dah ah yang manggil susternya, masa iya tu suster jalan kesini nya pake ngesot?)


Fatimah pun memanggil sekali lagi, sambil terus menyibak selimut itu.


"Bang? "


Yang ia lihat hanya sepasang netra teduh yang sayu.


"Kenapa di tutupin semua mukanya? "


tanya Fatimah sambil menurunkan selimutnya sebatas dada.


Ia lantas mundur, karena takut Rojali mendengar dentuman jantungnya, di akibatkan posisi yang terlalu dekat ini.

__ADS_1


"Karena Abang gak mau ,Adek liat muka jelek Abang, " jawab Rojali dengan sedikit membuang wajahnya ke samping.


"Ck, lagi sakit juga masih aja mikirin tampang? "


omel Fatimah pelan namun masih bisa di dengar oleh pemuda di hadapannya.


Rojali menanggapinya dengan kekehan kecil, ia beringsut pelan berusaha merubah posisinya, sambil meringis memegangi perutnya.


Fatimah yang tak tega akhirnya memajukan dirinya lagi mendekati posisi ranjang.


Ia ragu, takut bersentuhan dengan lawan jenis tapi kasihan.


Ah, di lema yang berat.


(Ck, ini yang manggil dokternya mana coba!)


"Em, sini aku bantu, "


"Maaf, ya, " ucap Fatimah sambil menumpuk bantal dan memegang bahu serta lengan Rojali.


(Abang yang minta maaf dek, udah modus)


(Namanya juga usaha)


Jangan tanyakan bagaimana kondisi jantung kedua orang ini sekarang.


Mungkin seperti bedug yang di tabuh ketika malam takbiran, bertalu-talu dan bersahutan.


Setelah nya Fatimah mundur lagi,ia sengaja membelakangi posisi Rojali.


Ia pun mengambil oksigen sebanyak-banyaknya, karena sesaat tadi ia menahan nafas demi tak mencium aroma maskulin dari pemuda itu.


Sedang kan yang di atas ranjang , saat ini sedang memegangi dadanya sendiri.


(Aih, niat nya mau pura-pura sakit perut tapi, malah bisa-bisa sakit jantung beneran ini gue)


(Dasar cowok tempe!)


(Mana wangi banget tadi, cuma tangannya aja yang agak kasar, apa karena ia pekerja keras?)


(Kalo jadi bini abang, ku bikin tanganmu halus dek, karena kerjamu cuma ngelus-ngelus aku aja)


Ia pun mesem-mesem sendiri dengan segala khayalan tingkat tingginya.


"Apa Abang udah baikan? " tanya Fatimah


Ternyata ia sudah berbalik dan bingung karena melihat Rojali yang cengengesan sambil memegangi dadanya.


Rojali pun gelagapan, karena kepergok lagi mikir yang iya-iya.


(Haha, ketauan lu bang)


"Eh, i, iya Dek, udah mendingan, "


"Maaf ya jadi ngerepotin? "


ucapnya sambil memegang tengkuknya.


Malu?


Iyalah malu.


"Temen Abang gak balik-balik sedari tadi, "

__ADS_1


"Jadi biar aku aja yang manggil dokternya ya? "


saran Fatimah.


Namun ketika ia hendak balik badan.


"Eh, mau kemana Dek? "


"Abang jangan di tinggal sendirian dong? "


keluh nya dengan nada sok memelas.


"Abis temennya abang gak jelas, "


"Lagian,keadaannya Abang ini kudu cepet di periksa, "


kekeh Fatimah.


"Tapi sekarang udah gak apa-apa nih tu, beneran dah, "


cegah Rojali sambil menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Beneran? " selidik nya seakan tak yakin, karena belum lama tadi terdengar mengaduh dan terlihat kesakitan.


Kenapa dalam sekejap seperti tidak merasakan sakit yang berarti.


"Iya, beneran, "


"Romannye khawatir bener sama Abang? "


telisik Rojali memperhatikan raut wajah gadis manis di depannya ini.


"Khawatir itu tandanya peduli Bang, "


ucap Fatimah berusaha diplomatis.


"Widdihh, peduli kan tandanya sayang Dek? "


"Aduhai, senengnya hatiku, "


"Sembuh sudah sakitku, "


Rojali sedikit bersenandung, girang dengan jalan pemikirannya sendiri.


"Peduli itu manusiawi Bang, sayang itu relatif, beda lah? "


"Sesama manusia kan emang kudu saling peduli, saling berempati, "


"Sedangkan sayang itu, untuk yang sepesial di hati, "


jelas Fatimah panjang kali lebar.


Mematahkan semua rumus kegedean rasa nya Rojali.


Rojali hanya meringis, menahan kekecewaannya, baru saja hatinya terasa ringan melayang di awan.


Ternyata dia cuma ke PEDE an.


(Malu dua kali deh ah)


(Pengen ngumpet aja di kolong ranjang)


Maaf cuma bisa up segini.

__ADS_1


Di sini hujan, jadi semua serba-serbi.


Tetep dukung otor ye! 😎


__ADS_2