Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Lamaran


__ADS_3

Menikahlah karena niat ibadah.


Karena sesungguhnya menikah itu akan


menyempurnakan agamamu.


Pilihlah pasangan yang dapat membimbing mu kepada kebaikan.


****~~~~****


Sumi Kusuma Wardhani


"Yo ndak to ndok,luwih cepet luwih apik."(lebih cepat lebih baik)


" Bir cepet-cepet halal, wis lamaran sore, sesuk langsung nikah ae.


ucap ibuk Sumi sembari menatap lembut.


" Yowis aku manut ae ,opo kata pak'e karo buk'e. "(yaudah aku nurut aja apa kata bapak dan ibuk)


Sumi menjawab dengan tersenyum dan memeluk pinggang ibunya dari samping.


Ia memang anak yang penurut, ia sudah mengenal pria yang akan melamarnya.


Mereka dulu semasa sekolah menengah pernah PKL bareng di balai kota.


Namun keberuntungan tidak berpihak pada Sumi, otaknya yang minimalis membuat nya mendapatkan hasil yang sangat minim. Hingga ia memutuskan mencari kerja di pabrik saja selesai lulus sekolah.


Ia pun ikut sang bibik dan akhirnya melamar di salah satu pabrik yang memproduksi kosmetik terbesar di Jakarta.


Sementara pria yang akan melamarnya itu, setelah lulus kembali di pekerjakan di balai desa sambil kuliah malam.


****~~~~****


Suasana sore itu di sebuah desa yang asri dan tenang.


Namun tidak berlaku,di salah satu rumah yang sudah dihias sederhana namun apik.


Suasana hiruk-pikuk terjadi, dibeberapa ruangan di dalam rumah yang lumayan luas tersebut.


Ya, rata-rata rumah di desa memiliki paling sedikitnya tiga kamar dengan luas rumah paling kecil 150m².


Di ruang dapur para perempuan masih sibuk merajang-rajang sayuran dan bumbu yang akan dioleh besok pagi.


Karena masakan untuk menyambut tamu sore itu sudah siap di meja prasmanan didepan.


Di ruang tamu seluruh keluarga dekat sudah siap menyambut tamu yang akan hadir beberapa menit lagi.


Termasuk Sumi, yang nampaknya sudah tegang sedari tadi.


Ia sudah didandani dengan make up yang sederhana, namun tetap dapat memancarkan aura kecantikan yang mempesona.


Dengan gamis berwarna baby pink yang berenda di bagian bawah,dan pasmina berwarna putih



Gamis sederhana yang bikin Sumi tambah manis.


Suasana si halaman nampak ramai, karena banyak anak-anak kecil juga di sana.


Para pemuda kampung juga turun membantu, mendekor halaman.


Mereka membuat gapura selamat datang sederhana ala pedesaan.


__ADS_1


Kira-kira beginilah penampakannya.


Dihias menggunakan janur pohon kelapa, pandan wangi, beberapa jenis tanaman dan juga buah-buahan.


Itu semua murni bantuan warga dan pemuda sekitar.


Disini aura kebersamaan dan goyong royong nya masih kental terasa.


Membuat hati siapa saja seketika menghangat.


Menyaksikan warga bersatu padu memberi bantuan semampu mereka.


*Pov Sumi*


Disaat kami sekeluarga berkumpul diruang tamu.


Seorang pria masuk ke dalam rumah dengan tergopoh-gopoh.


"Mas,mas!"


"Mas pram!"


panggil nya dengan nyaring sambil masuk kedalam rumah.


" Ono opo toh, teriak-teriak begitu,macam di pasar."


Sahut ayahku sembari beranjak berdiri.


" Iku lho calon besan'e wis dateng, "


jawab pria yang sudah berumur yang tak lain adalah adik dari ibuk ,sambil merapihkan blangkon nya.


"Yowis, kita semua ke depan menyambut, kecuali Sumi. "


kata bapak kemudian beranjak ke depan.


kata ibuk kemudian menyusul bapak dan juga yang lainnya, ada Pakde, Bude, Paklik,buklik, ada adik dari nenekku yang berasal dari keluarga ibuk.


Meskipun sudah renta karena sudah hampir 90tahun, tapi beliau begitu antusias dengan acaraku.


Aku memanggilnya" Nekti"(nenek uti).


"Jangan tegang gitu Sum, ini kan baru lamaran? goda Ratih sepupuku dari keluarga bapak, Ayahnya yang tadi manggil-manggil bapak dengan heboh sampai-sampai blangkon nya miring.


Aku hanya melirik dan menjawabnya dengan senyum kecut.


Bagaimana bisa dia bilang aku jangan tegang? Lha wong aku udah lama nggak ketemu sama Mas Aji, eh tau-tau malah mau dilamar dan bakal dinikahin besok.


Meskipun kami suka berkirim kabar dan komunikasi melalui media sosial, akan tetapi aku lama tidak bertemu langsung dengannya. Aku berkali-kali mengusap peluh yang mengalir diantara pelipis ku.


" Ya ampun Sum, awas ntar make up hasil karya gue luntur tuh! "


"Pelan-pelan geh ngusap nya! "


protes Ratih sambil mendelik kan matanya ke arahku.


Bahasa nya tidak se medok aku, karena dia tinggal di jakarta sudah lama ikut suaminya.


"Iyo, maaf,aku gugup iki lho, "


"Aku kudu piye to, biar nggak deg-degan? "


ucapku meminta saran,dengan kedua tangan yang saling meremat satu sama lain.


"Ambil nafas, buang nafas, "

__ADS_1


"Terus istighfar tiga kali, nanti juga kamu tenang. " Saran Ratih menenangkan ku, sebelum sejurus kemudian dia menggodaku lagi.


"Baru mau dilamar udah keringet dingin gimana besok dinikahin bisa gak kuat jalan kamu Sum?"


"Apalagi pas di di perawanin, pingsan kali kamu,hihihi...! "


ledeknya dengan tawanya yang lebar sampai gigi-giginya yang berderet rapih itu terlihat jelas.


"Kamu tuh tega banget e Rat, bukan nenangin aku, malah bikin aku stress. "


ucapku gemas sembari memukul kecil pundaknya. Ratih masih saja cekikikan.


Akhirnya rombongan Aji dan keluarganya sampai di ruang tamu dan acara akan segera dimulai.


.


Pakde Marwan akan mewakili keluarga ku untuk memberi sambutan.


Beliau adalah kakak tertua dari bapak, pakde tinggal di desa sebelah yang jaraknya ditempuh sekitar dua jam dengan mobil.


**Berhubung author nggak bisa bahasa jawa kita skip ajalah yaa🤭***


Acaranya berlangsung dengan lancar dan sesekali diselingi candaan para orangtua.


Beberapa bawaan dari mas Aji sudah dipindahkan ke dalam kamarku,termasuk uang seserahan.


Katanya ini baru sekedarnya, kalau bawaan yang komplit besok pas acara ijab kabul.


Lamarannya nggak pake acara pemasangan cincin, karena acaranya di rangkap yaitu lamaran sekaligus seserahan.


Cincinnya buat mahar besok, jadi dipasangnya pas setelah ijab kabul.


Setelah selesai acara kita ngadem dulu di halaman belakang.


__🍃__


Disinilah aku dan mas Aji, duduk berdua di depan kolam ikan, kolamnya buatan bapak dan tidak terlalu besar.


Kami tidak tau lagi harus kemana, di ruang utama dan halaman ramai sekali.


Sedangkan kami butuh bicara berdua.


Setelah sekian lama tidak bertemu dan tidak ada ikatan apapun di antara kami, aku butuh penjelasan kenapa Mas Aji mau melamar kemudian menikahi ku.


Meskipun aku sejak dulu telah memendam sebongkah rasa dan asa kepadanya, namun aku pun perlu tau apakah ia melakukan ini atas dasar dorongan perasaan ataukah dorongan lain.


Masih tidak ada yang memulai percakapan diantara kami selain saling sapa beberapa menit yang lalu.


Sesekali aku meliriknya, dan tanpa sengaja lirikan kami beradu, menciptakan gelenyar rasa malu-malu tapi mau.


"Mas..! "


"Dek..! "


Kami memanggil secara bersamaan.


Kemudian terciptalah senyum menawan, yang sudah sekian lama tak kulihat terpatri di wajah penuh kharisma itu.


Benarkah pemilik senyum itu akan menjadi milikku hanya dalam waktu hitungan jam saja.


Sungguh aku merasa seperti dalam mimpi saja.


Dan kalau iya, aku nggak rela untuk bangun, aku takut kehilangan senyum itu. Atau, kehilangan pemilik senyumnya?


Jempol di goyang-yang, jempol digoyang..

__ADS_1


Tinggalin jejaknya buat otor yak...


__ADS_2