Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Masih di klinik


__ADS_3

🌾Dunia adalah tempatnya keluh dan kesah.


Dunia memang tempat berpenat dan lelah.


Dunia yang sekejap dan fana, memang kau mengharapkan apa darinya.


Dunia panggung sandiwara, dimana seribu wajah kau lihat berbeda antara depan dan belakangnya.


🌾


***~~~***


Kok sampe diimpus segala si Mang? " tanya Fadlan dengan gurat khawatir yang kentara di wajahnya,sambil menggoyang-goyangkan lengan mang Husen.


"Ayah lu pade kekurangan cairan, soalnye gak masuk ape-ape,"terang mang Husen kepada si kembar.


" Kita boleh pada masuk gak Mang? "tanya Farhan


" Boleh kali, Kakak lu juge ade noh di dalem, masuk aje deh sonoh. "


Saran mang Husen kepada si kembar,kemudian berlalu dan kembali duduk dikursi tunggu.


Sesampainya didepan ruangan yang di maksud, Farhan sedikit menyibak tirai ruang periksa.


Disana mereka dapat melihat ayahnya yang tergolek lemah dengan selang infus.


Ummi yang berdiri di samping kepala ranjang, dan kakak yang sedang memijit perlahan kaki ayah.


Kemudian ada seorang laki-laki paruh baya, yang mengenakan stetoskop di lehernya, hendak masuk keruangan ayah, kemudian berhenti di depan si kembar.


"Yang di dalam ayah kalian kah? " tanya dokter berkemeja biru tersebut.


Si kembar hanya mengangguk dengan lesu.


"Tenang aja ya, ini adalah kantung infus yang kedua, semoga setelah ini habis, ayah kalian bisa di bawa pulang. " Ucapnya sembari tersenyum dan menepuk pelan pundak Fadlan.


"Beneran pak dokter? " tanya Fadlan sambil menoleh ke samping di mana abangnya juga menatapnya dengan binar kelegaan.


Pak dokter pun hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian berlalu masuk.


"Alhamdulillah, " ucap mereka berdua bersamaan kemudian mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Mereka pun memutuskan untuk menunggu di kursi yang sudah di sediakan untuk pengunjung.


Duduk di sebelah mang Husen yang sedang asik mengutak-atik hapenya.


"Gak jadi masuk lu pade? " tanya nya dengan tatapan mata yang masih mengarah pada gadgetnya.


"Gak mang, takut malah ganggu. " ucap Farhan lesu.

__ADS_1


Mang Husen pun menghentikan kegiatannya sesaat, kemudian menoleh.


"Lu pade lemes bener, emang ayah lu kenape lagi, dokter ngomong ape tadi? " cerocos mang Husen sambil mengalihkan tatapan nya bergantian ke Farhan dan Fadlan.


"Kata pak Dokter tadi, tinggal ngabisin impusan aja, ayah udah bisa pulang, " jawab Farhan sambil memegangi perutnya.


"Lha trus kenape lu berdua pade lemes gini? " cecar mang Husen sambil menelisik mereka satu persatu.


Yang ditanya hanya saling lirik dan sikut-menyikut.


"Heh, nape lu berdua jadi maen sikut-sikutan, " ucap mang Husen setengah menggeram.


Sikembar serentak menghentikan aksinya, kemudian menundukkan kepala mereka sambil meremas perut.


"Oh, jadi lu pade laper? " ucapnya dengan sedikit kekehan kecil,kemudian tangannya merogoh ke kantung celananya.


"Sonoh kedepan beli ape kek, buat ganjel perut lu berdua. "katanya lagi sambil menyerahkan selembar mata uang rupiah berwarna biru.


Si kembar meraihnya dengan wajah sumringah, kemudian segera beranjak setelah mengucapkan terima kasih.


Didalam ruangan.


" Dok, ayah saya tidur, "ucap Fatimah sambil menunjuk ke arah ayahnya yang terlelap.


" Gak apa-apa dik, memang itu pengaruh dari vitamin dan obat yang saya berikan, biar tubuh bapak rilex dan beristirahat. "


"Nanti kalau infusannya habis, segera beritahu saya. " Pak Dokter pun pamit berlalu.


"Mi, Kakak keluar dulu buat beliin Ummi minuman ya, mau liat si kembar juga, " pamitnya yang di jawab anggukan dan senyum tipis.


Kemudian Fatimah keluar dan mencari adik-adiknya diruang tunggu.


Tetapi, dia hanya menemukan mang Husen yang sedang sibuk dengan gawainya.


"Mang, " panggilnya, setelah berada lebih dekat.


"Eh, iye Neng, pegimane keadaan ayah di dalem? " tanyanya setelah menghentikan aktivitasnya barusan.


"Alhamdulillah, ayah lagi tidur Mang, " jawabnya dengan air muka penuh kelegaan.


"Syukur Alhamdulillah, kalo gitu Neng, untung cepet kite bawa kesini. " Ujar mang Husen sambil menghela nafas lega.


"Makasi ya Mang, udah bantuin kita, Fatimah gak tau deh kalo gak ada Mamang tadi gimana? " ucap Fatimah dengan takdzim.


"Entu bukan ape-ape Neng, ude sewajarnye, sesame tetangge kudu tolong menolong, kan tetangge entu sodara kite nyang paling deket.


Berhubungan baek ame tetangge entu salah satu adabnye umat muslim, nyang di anjurin ame Baginda Rosululloh. " Tutur mang Husen penuh ketulusan.


Fatimah hanya menjawabnya dengan senyum tulus dan rasa haru.

__ADS_1


Di zaman sekarang sudah langka tetangga yang seperti mang Husen ini.


"O iya Mang, liat si kembar gak? " tanya Fatimah sambil sesekali kepalanya menoleh kekanan dan kekiri.


"Lagi pade jajan, didepan noh, " ujar mang Husen sambil mengarahkan pandanganku dengan jarinya.


"Yaudah Mang, saya kedepan dulu ya, titip ayah sama ummi ya Mang. " Aku pun beranjak.


Sampai didepan klinik, aku menengok ke kanan dan ke kiri, terdapat parkiran beberapa sepeda motor dan juga mobil.


Kemudian aku mencoba keluar gerbang, menghampiri beberapa tukang jualan dengan gerobaknya, ada siomay dan batagor, cilok dan basreng, tahu krispy, juga tukang baso dan penjual es poci.


(Depan klinik rame amat yang jualan, kayak pasar malem aja)


Aku menyisir satu-satu gerobak yang mangkal didepan klinik tersebut.


"Enak banget ni bang ciloknya, kenyel-kenyel gurih, sambelnya juga beuuhh...nampol, " sambil menguyah Fadlan yang bertubuh lebih berisi dari Farhan,terus saja mengomentari jajanan yang terbuat dari tepung kanji tersebut.


"Sstt, jangan ngunyah sambil ngomong, selain bisa bikin keselek, lu juga udah mengabaikan adab saat makan. "ujar Farhan menasehati adik kembarnya yang memang doyan makan itu.


Sedangkan pemuda di sebelah mereka hanya tersenyum, melihat tingkah polah remaja yang berwajah mirip itu.


(Pantes aja anaknya cakep-cakep, emak bapaknya aja bibit unggul)


" Abang kok masih disini? "tanya Farhan memicingkan matanya kepada pemuda disebelahnya yang sedang asyik menikmati siomay dan batagor yang disiram dengan saus kacang dan kecap.


Yang ditanya hanya menjawab dengan lirikan mata ke arah piring,sambil terus memasukkan potongan demi potongan makanan yang ada di piringnya itu.


"Selain itu, bang, " tanya Farhan lagi menelisik.


"Nyari orderan dong, " jawab si pemuda berjaket hijau yang sudah diturunkan resletingnya, hingga menampakkan kaos oblong bergambar salah satu Super Hero yang bisa merayap didinding.


Farhan pun mengangguk dan memutuskan untuk menghentikan interogasinya, setelah dirasa jawaban sang pemuda yang berambut agak gondrong itu masuk di akal.


"Heyy, ternyata pada disini, ya? " pekikku sambil berkacak pinggang.


Si kembar pun terperanjat, dan menghentikan aktivitas kunyah mengunyah mereka serentak.


"Kakak! "


"Ngagetin aja! "


Jerit mereka berdua berbarengan.


"Ish, berisik tauk, lagian kakak cariin juga, taunya lagi asik-asikkan pada jajan. " Lalu kuhempaskan bokongku di salah satu kursi, namun mataku terpekur pada satu sosok yang sedang menatapku di ujung sebelah kanan si Farhan.


...Segini dulu ya bebs, mau siap-siap malam jum'atan....


Sudilah kiranya, dukung remahan rengginang ini dengan, like, vote, komen, hadiah juga boleh(Kan otor mao di kasi kembang ape gak kupi wat sajen, eh)

__ADS_1


__ADS_2