Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Jebakan Om Willy


__ADS_3

๐ŸƒHidup memang selalu berada di antara dua pilihan.


Ingin menjadi manusia berhati baik dan bermanfaat, atau sebaliknya?


Menjadi manusia berhati jahat dan membawa kerugian serta keburukan bagi orang lain.


Bukankah hidup ini hanya sementara, tidak untuk selamanya?


Kenapa kita tidak mengisinya dengan perbuatan baik?


Apakah jasad mu bisa berjalan sendiri ke pemakaman dengan menggotong kerandanya?


๐Ÿƒ


***~~~***


Terlihat Rojali beberapa kali menyugar rambutnya kebelakang.


Bahkan terkadang ia menggaruknya padahal tidak berketombe apalagi berkutu.


Itu karena Rojali selalu rajin membersihkan rambutnya.


Tapi kali ini ia menggaruknya, karena ia terlihat penat dan bosan.


Berdiri mengular di antrian panjang,pada salah satu food court di pusat perbelanjaan yang berada di jantung kota depok.


"Gilak, gilak..., "


"Waktu gue abis disini doang, "


keluh Rojali sambil berdiri gelisah bak cacing di taburi garam.


Sekian lama menunggu, akhirnya tiba juga gilirannya.


Ia pun segera bergegas turun dari lantai tiga pusat perbelanjaan itu.


"Duh, semoga keburu deh, "


"Kudu ngebut dah ini mah, "


oceh Rojali sembari berjalan cepat menyusuri bangunan yang di sebut Margo City Mall itu.


______


Di sebuah bangunan berlantai tiga, yang biasa di sebut tempat nongkrong oleh para kaum millenial atau bisa juga di sebut Cafe itu.


Fatimah terlihat mulai gelisah, ia ingin segera angkat kaki dan tangan dari situasi di dalam ruangan tersebut.


Ia faham dan menyadari arti dari tatapan yang mengintimidasi itu.


Sungguh, ia tidak akan sanggup bila harus bekerja di bawah pimpinan seperti itu.


Ini seperti keluar dari kandang macan, masuk ke lubang komodo.


"Saya tidak keberatan dengan gaya pakaian kamu yang seperti ini, "


"Kamu cantik, menarik, "


"Silahkan saja, bergayalah sesukamu, "


ujar om Willy dengan mencondongkan sedikit tubuhnya kedepan.

__ADS_1


Kemudian ia kembali bersandar sambil melipat kedua tangannya di depan.


(Kenapa aku malah tidak senang, aku malah berharap di tolak,)


(Bagaimana ini?)


Fatimah melirik ke arah Nur, yang di lirik pun menggeleng kecil sambil mengedipkan matanya pelan.


Fatimah faham kode itu.


Ia tahu, Nur pun merasakan ketidak nyamanan yang sama dengannya.


(Baiklah, aku akan meminta gaji yang tidak masuk di akal)


(Agar aku di tolak)


"Bagaimana dengan gaji saya, "


Fatimah pun memberanikan diri menjalankan rencananya.


Agar bisa segera keluar dari tempat yang mencekam tersebut.


Om Willy terkekeh, ia mencondongkan tubuhnya lagi ke depan.


Kemudian ia berkata, "Kita bisa bicarakan secara empat mata, "


(Oh, tidak, di sini saja)


"Maaf, saya tidak mau berdua-duaan, "


"Bicarakan saja di sini,"


ucap Fatimah hampir saja menggerakkan tubuhnya untuk berdiri, tapi keburu di cegah oleh Om Willy.


"Baiklah, baiklah, "


"Santai saja, kalian minumlah dulu, cobalah minuman primadona dari Cafe ku, "


"Setidaknya, sebelum kalian bekerja di sini, kalian harus mencicipi dulu menu dari Cafe, bukan begitu? "


tawar pria paruh baya itu sambil tersenyum menawan.


Namun sangat menakutkan di mata dua gadis berkerudung di hadapannya.


Mereka saling melempar pandang, kemudian Nur mengangguk kecil, ketika faham kode dari pandangan dan senyum Fatimah saja.


(Apa mereka punya ilmu telepati?)


(Sumpah otor bingung?)


(Cuma pandang-pandangan kok ngerti?)


Fatimah tersenyum tipis menanggapi tawaran dari Willy.


Ia pun mengangkat gelas yang ramping dan berkaki tersebut.


Kemudian menengguk nya sedikit.


Hal yang sama pun di lakukan oleh Nur.


Mereka pun serentak meletakkan kembali gelasnya di atas meja bulat besar yang terbuat dari kaca kristal tersebut.

__ADS_1


Pria paruh baya yang bermata sipit itu pun tersenyum penuh arti.


Fatimah menggosok-gosok bahunya, ia merasa suhu ruangan semakin dingin, membuat tubuhnya sedikit menggigil.


Kemudian terdengar suara bersin dari sahabat yang duduk di sebelahnya itu.


"Hatchimmm... ! "


Nur menutup mulutnya dengan ujung pasmina nya yang terjulur.


Kemudian terdengar lagi suara yang berasal dari Fatimah.


"Cciitthh! "


ia pun seketika menutup mulutnya dengan ujung cardigan,yang panjangnya melewati lutut.


"Ada apa dengan kalian? "


seketika raut wajah Willy berubah, antara khawatir atau curiga.


"Kayaknya kita kedinginan deh, Om, "


Nur, membuka suara nya, karena sedari tadi dia diam saja.


"Ia , maaf, Om, kita jadi ingin pinjem toiletnya, "


"Maklum, kita orang kampung gak bisa kena ac, langsung beser, " ucap Fatimah berusaha berkelakar untuk menghalau kecurigaan dari pria dewasa di seberangnya itu.


Dasarnya otak mesum, baru mendengar Fatimah bilang beser saja, pikiran kotor yang sudah mendarah daging di pribadi Willy pun, membuat matanya seketika menjelajah pada pusat tubuh Fatimah.


Fatimah yang merasa di telanjangi dengan tatapan lapar dari pria di hadapannya, seketika langsung menutup rapat bagian tubuh depannya dengan ujung cardigan nya yang panjang dan tebal itu.


Gerakan reflek dari Fatimah membuat Willy tersadar, bahwa ia gagal mengontrol dirinya.


Dan hal itu membuatnya merutuki dirinya sendiri di dalam hati.


(Si*l, kenapa aku tidak bisa mengontrol hawa nepsong ku yang besar?)


(Hanya mendengar dia mau pipis saja otakku sudah jalan-jalan )


(Ah, tapi mereka sudah meminumnya bukan?)


( Walau pun sedikit, untung saja aku beri dosis yang tinggi)


Willy pun bersorak penuh kemenangan di dalam hatinya.


Bayangkan saja gaya tertawanya macam om Torro margens.


Tapi ini visualnya.



Bayangin aja sebagai om Willy tanpa kacamatanya.



Om Willy yang lagi mandangin Fatimah dengan segala pikiran liarnya.


Segini dulu ya bebs,


Nanti di lanjut lagi... ๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2