Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Sang putra kebanggaan


__ADS_3

__®®__


"Kau masih mengenakan baju badut itu?"


"Apa kau meragukan,


keamanan ruang pribadiku ini!"


"Eng...,"


lelaki itu menggaruk-garuk kepalanya.


"Aku izin pinjam toilet sebentar ya,"


setelah nya pria tua berpakaian jawa itu segera berlari.


"Aku,bahkan belum memberinya izin menggunakan kamar mandiku_"


Adiguna yang protes seketika mendapat lirikan tajam dari wanita di sebelahnya.


Tak lama seorang lelaki berbadan tegap muncul.


Dengan kaos besar dan celana boim.


Netra Adiguna tak berkedip melihat penampilan kedua dari lelaki di hadapannya ini.


Semburat rindu itu membuat matanya seketika memanas.


Rasa bersalah dan iba itu sekelebat muncul menggelitik hatinya.


Tapi tak lama terhempas oleh rasa kesal dan egoisnya.


Ia mengeraskan rahangnya menahan rasa itu agak tak mencuat keluar.


"Penampilan mu tidak lebih baik dari yang tadi,"


dengan senyum smirk nya,


jelas ia sedang merendah kan lelaki yang ketampanan dan gagahnya menurun dari Gen nya itu.


" Pa_"


Ingin rasanya Mirna mencubit dan menjambak lelaki yang berpangkat suami di sebelahnya ini.


"Apa begitu sulitnya hidupmu,di luar sana?"


"Hingga membeli pakaian layak pakai pun kau tak mampu?"

__ADS_1


cela itu terus keluar dari bibir Adiguna.


Bukannya merangkul sang putra yang bertahun-tahun ia buang dari dunianya.


Ia,malah terus mencerca dan mencela,


seakan yang di hadapannya sekarang,


bukanlah darah dagingnya sendiri.


Ataukah,ia benar-benar menganggapnya telah mati.


Seperti apa yang sudah ia rekayasanya selama ini.


"Aku nyaman seperti ini,Pa_"


"Em,apa aku masih boleh memanggilmu,Papa?"


tanya lelaki berambut ikal sebahu itu hati-hati.


"Tanya pada dirimu sendiri?"


"Apa kau pantas menjadi anakku?"


ucap Adiguna pelan namun menusuk sampai hati.


Jangan tanyakan keadaan Jihan si cantik yang imut.


Wajahnya kini sudah di banjiri air mata.


Hidungnya sudah semerah tomat.


Bahkan ia sudah beberapa kali menyusut ingusnya dan membersihkannya dengan tisu.


"Maaf,"


"Kalau Ali_udah gak pantas jadi anak Papa lagi_"


suara itu tercekat di tenggorokan,ia sebisa mungkin menahan tangisnya.


Ia harus kuat,setidaknya itu yang harus ia perlihatkan di depan sang Papa.


Ia,bahkan sudah menguatkan hatinya jauh-jauh hari.


Meski kenyataannya di luar bayangannya kini.


Betapa lelaki paruh baya yang sangat ia rindukan bertahun-tahun.

__ADS_1


Sama sekali tidak suka melihat kehadirannya.


Seakan ia sampah yang harus segera enyah agar tak menimbulkan penyakit.


Jangankan menyentuhnya,


bahkan menatapnya sebagai darah daging pun enggan.


"Tetapi,hubungan darah itu_tidak bisa dipisahkan dengan cara apapun."


"Tak mengapa Ali tidak dianggap lagi,setidaknya _izinkan Ali tetap menganggap Papa sebagai orang tua."


ucap Rojali sedikit terbata karena menahan sesuatu yang mengganjal di dadanya.


Adiguna bergeming,tidak membantah satu kata pun yang keluar dari mulut sang putra.


Sang putra yang sempat menjadi kebanggaannya.


Sang putra yang di harap dapat menjadi penerusnya.


Dadanya kian sesak mengingat nasehat yang lima tahun lalu di lontarkan sang putra kebanggaan keluarga Brotoseno itu.


Putra yang sudah tahu kebusukannya,dan dunia hitam yang di gelutinya.


Adiguna yang pernah di buang oleh keluarganya,dan di temukan seorang wanita pemilik panti asuhan.


Memiliki dendam untuk menghabisi seluruh keluarga yang telah membuangnya dulu.


Sekarang ia telah melakukan hal serupa,kepada putranya.


Tapi,apa yang terjadi?


Sang putra sama sekali tidak membencinya.


Sang putra bahkan hidup dengan baik tanpa sepeserpun harta darinya.


Bagaimana bisa?


Itulah sebersit pertanyaan besar yang bersarang di kepala batu seorang Adiguna.



Duh,duh,babang Ali jangan syeddih yaa...


Sebentar lagi ketemu tuh sama bebeb Fatimah.


Next bab,mungkin.hehe_

__ADS_1


Jangan lupe ye,dukung mak chibi🥳


__ADS_2