
💞Melihatlah kebawah agar senantiasa bersyukur.
Dan,
Melihatlah ke atas agar semangat mengejar mimpi.
Lalu,
Bercerminlah untuk muhasabah diri.
***~~~***
Rojali masih saja senyum-senyum sendiri diatas tunggangannya itu.
Jawaban dari gadis nya membuatnya seakan ingin meledak.
Ingin rasanya ia berteriak untuk mengeluarkan kebahagiaannya yang membuncah.
Apalagi penerimaan dari kedua orang tua Fatimah.
Meskipun ia harus melakukan istikhoroh terlebih dahulu.
Akan tetapi, tanggapan positif itu sudah menerbangkan asanya sampai ke galaksi bima sakti.
Kalau saja ia tak ingat, bahwa tidak boleh berlebihan dalam bergembira.
Ungkapkan saja rasa syukur mu, dengan bersujud kepada yang sudah memberimu kebahagiaan itu.
Betapa ia sangat bersyukur kepada Rabb nya.
Karena di tengah kesepiannya.
Di kala ia terbuang dari keluarganya.
Ia masih mendapat secercah kebahagiaan.
Ia masih bisa merasakan kehangatan keluarga.
Keluarga gadis manis berlesung pipi, yang ternyata jago silat itu.
Begitu menghargainya.
Menerima dirinya apa adanya.
Tidak ada tuntutan akan materi.
Ia hanya di harap dapat menjadi imam dan pembimbing di dunia dan akhirat.
Tuntutan yang lebih berat dari tuntutan mas kawin yang fantastis.
Sebuah tanggung jawab besar seorang ayah terhadap anaknya.
Yang berniat di ambil alih oleh nya.
Hanya satu tuntutan dari keluarga sang jawara tersebut.
Restu dari orang tua nya.
Ya, itu yang membuat Rojali sontak bungkam beberapa saat.
Hingga bulir keringat menetes di ujung pelipisnya.
Ia masih tak dapat menemukan jawaban yang akan di lontarkan nya.
__ADS_1
*FLASHBACK*
"Nak, Saya sebagai wali dari Fatimah, menerima dengan tangan terbuka atas niat baik kamu, "
"Selain aturan yang sudah kalian tetapkan berdua, "
"Alangkah baiknya, mintalah juga restu dan ridho dari orang tua dan keluarga, Nak Ali, "
"Karena, tidak akan ada ridho dari Allah, kalau tidak ada ridho dan restu dari kedua orang tua, "
"Walaupun, seorang laki-laki yang hendak menikah, tidak membutuhkan seorang wali, "
"Akan sangat lebih baik, bila ia juga menghadirkan kedua orang tua dan keluarga, "
"Di hari, dimana ia menyempurnakan separuh dari agamanya, "
"Dan, itu juga sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan, kepada keluarga calon pendamping kita, "
"Segitu saja nasehat dan pesan dari Ayah, "
"Soal mahar, kita akan bahas nanti, "
"Step pertama bagi kamu, adalah meminta restu dari orang tua, kemudian restu dari
Allah. "
Karena menikah, bukan hanya menyatukan dua hati, "
"Akan tetapi juga, akan menyatukan dua keluarga yang artinya, akan ada banyak hati yang akan ikut terhubung di dalam hubungan itu, "
Itulah segelintir nasehat dan pesan dari Ayah Rojak.
Seorang lelaki, yang juga pandai beladiri serta pernah menjadi salah satu guru silat di masa mudanya dulu.
Bahkan, beliau juga mengajar ngaji dan kitab.
Kesan bersahaja dan kharismatik adalah yang pertama nampak dan membekas begitu mengenal sosoknya lebih dekat.
Lelaki paruh baya, yang sudah sedikit terlihat kembang jambu di rambut ikalnya itu.
Tidak menanyakan latar belakang dari pria yang hendak melamar anak gadis satu-satunya itu.
Baginya, yang terpenting adalah sosok dari pribadinya, serta ilmu agamanya.
Ayah Rojak tidak perlu mengetes, bahkan ia tidak terlalu banyak menanyakan tentang kepribadian ,dari pria berambut gondrong yang sedang duduk bersila di hadapannya itu.
Netra dan pengamatannya selama ini sudah menangkap banyak kesan baik akan driver ojek online ini.
Rojali yang sejak tadi hanya menunduk sambil mendengar petuah.
Kini, berusaha menegakkan punggungnya.
"Insya Allah, saya akan melaksanakan pesan dan nasehat dari Ayah, "
lugas Rojali, dengan lantang ia menyebut lelaki paruh baya di hadapannya dengan panggilan yang hangat tersebut.
Ayah Rojak lantas tersenyum, ia sama sekali tidak keberatan.
Apa pun yang terjadi nanti, jadi atau tidak jadi menantu nya pun.
Ia tidak merasa keberatan dengan panggilan itu.
"Sekarang, Nak Ali, pulanglah! "
__ADS_1
"Istirahat kan badan dan juga fikiran, "
"Maaf, bukannya Ummi mengusir mu, "
"Ummi hanya takut kamu kemalaman di jalan, "
ucap Ummi nya Fatimah dengan lembut meski bernada khawatir.
"Iya, Ummi_Ayah, saya pamit, Assalamu alaikum...! "
"Waalaikum salam! "
sahut Ayah dan Ummi yang kemudian di susul oleh Fatimah yang keluar dari dalam.
Rojali menengok sekilas dan melempar senyum ke arah bidadari hatinya itu.
Begitu juga Fatimah, ia mengulas senyum tipis di bibirnya.
*FLASH BACK OFF*
____💞
(Apakah aku harus menceritakan yang sesungguhnya?)
(Tentang keluargaku, tentang siapa papa dan pekerjaannya?)
(Bagaimana kalau mereka menolak dan menjauh?)
(Apa tidak cukup meminta restu mama saja?)
(Arrhgg!)
Rojali yang sedang bersandar di sofa yang sudah terdapat sobekan di beberapa bagiannya itu.
Hanya mampu menjambak kasar rambutnya.
Kemudian ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi, setelah sebelumnya menarik handuk yang tersampir di jemuran besi.
Tidak butuh waktu lama bagi lelaki berhidung mancung ini.
Ia memang tak pernah menghabiskan waktunya untuk berlama-lama di dalam toilet.
Karena berlama-lama di toilet secara sengaja itu tidak di perbolehkan.
Segeralah tuntaskan hajatmu lalu keluar.
Karena ada dua tempat yang paling buruk dan banyak setannya.
Yaitu, pasar...
Dan, kamar mandi.
Setan sangat menyukai tempat yang lembab dan kotor.
Karena itu Rojali sangat memperhatikan kebersihan rumahnya, terutama kamar mandi.
Lelaki berbadan tegap itu, yang selama ini tertutupi oleh jaket lusuhnya.
Lebih suka berlama-lama duduk di hamparan tempat sujud nya.
Ia kemudian meminta petunjuk dari Tuhan_nya.
Tetap dukung author remahan ini yaa...
__ADS_1
Maafkan daku yang jarang updet, bukan karena tak cinta... namun, semua karena hobiku ini terhalang kesibukanku sebagai seorang istri dan ibu serta anak dan juga menantu.
Mohon pengertiannya💞