
🌾Jika ada seseorang yang membuatmu merasa, surga itu lebih dekat ketika bersamanya.
Maka, perjuangkan lah dia.
🌾
***~~~***
Di saat mereka sedang serius berbicara,
masuklah seorang gadis manis dengan kepala yang berbalut pasmina berwarna magenta.
dengan dress panjang berwarna pink, tas selempang, dan sepatu kets berwarna merah muda campur putih.
Kelihatan manis sekali.
Wajahnya yang tanpa make up, terlihat segar karena sudah tersapu air wudhu.
"Assalamu alaikum, "
salamnya santun dan lembut.
Mereka bertiga serempak menoleh.
"Eh, si eneng nongol lagi, duh, duh, duh, "
"Bang Ali kayaknya besok udah bisa pulang dah , "
"Mukanye aje dah seger gitu, "
pak erte terus saja menggoda dan meledek dua insan yang di dalam ekspektasinya adalah pasangan kekasih ini.
"Ye, pegimane kagak seger Pak Rete, "
"Kalo nyang nengokin aje botoh bener, "
kelakar Endin, yang di sambut dengan kekehan dari keduanya.
Jangan bayangkan bagaimana wajah Fatimah.
Ia berkali-kali membuang wajahnya ke samping, guna mengalihkan rona yang bersemu dan mencuat di balik kedua pipinya itu.
(Mereka berdua nih, sedari awal ketemu ngeledek terus kerjaannya)
(Bikin orang malu aja deh)
Di goda begitu rupa oleh para tetangga nya,membuat seorang pemuda yang sedang senderan di atas ranjang itu,menggaruk-garuk kepalanya, membuat rambut gondrong nya sedikit berantakan.
Namun,tetap tidak mengurangi kadar ke gantengan nya.
(Emang dasar orang kalo udah cakep, mau model gimana juga ya cakep aja. )
(Eh, apasih?)
(Baca ayat kursyi deh, biar peletnya gak mempan)
Eh, dasar Fatimah dia ngerasa ke pelet rupanya.
Fatimah pun memejamkan matanya,lalu mulai berkomat-kamit, terlihat dari bibir mungilnya yang bergerak-gerak lucu.
Kemudian dia mengusap wajah dengan kedua tangannya.
"Dek Fatimah lagi ngapain? "
Pertanyaan Rojali sontak mengembalikannya pada keadaan.
"Eh, lagi...,lagi baca doa, " jawab Fatimah dengan senyum kikuk.
"Woaahh, tuh kan, co cuit bangett..., "
"Pacarnya di doain, biar cepet sembuh ya neng? " Endin tiba-tiba saja menyelak, masih dengan jalan pemikirannya sendiri.
"Eh, dia bukan pacar saya Pak, " kilah Fatimah dengan melambaikan tangan di depannya pertanda menolak anggapan dan ekspektasi dua orang nyeleneh di hadapannya ini.
"Oh, berarti bener kan eneng calon istrinya Bang Ali? "
Ini lagi Pak erte makin jauh aja,
Semakin tak percaya saja Fatimah dengan asumsi para manusia kepo ini.
Baru saja ia hendak membuka bibirnya untuk menyangkal.
"Hah..., "
"Bu..., "
__ADS_1
"Aamiin, makasi doa nye Pak Erte, "
"Saya aamiinin dah biar kenceng,
Sahutan yang keluar dari mulut pemuda berbaju pasien itu.
Sontak membuat kedua mata gadis manis itu membola di susul dengan mulut yang terbuka lebar.
(Haish,apa-apaan dia)
Merasa tak ada guna nya menyangkal seperti apapun juga.
Fatimah pun mengunci bibirnya, dan sesekali terlihat ia mengurut pelipisnya.
Pertanda dia pusing melihat kelakuan para lelaki selengean di depannya ini.
(Kalo tau cuma buat di godain gini, mending langsung pulang aja tadi)
Hati seolah menyesal tapi mata sih, curi-curi pandang.
Sekilas ia melirik pemuda yang tadi wajahnya begitu pucat ketika pertama kali ia datang, kini terlihat segar bugar, tak nampak macam orang sakit.
Hanya saja di lengannya masih terjulur selang panjang, tersambung dengan kantong berisi cairan infus yang di gantung, di tiang infuse berkaki tiga tersebut.
"tringg"
Sekejap netra mereka berdua kembali beradu tatap, dalam waktu sepersekian detik.
Namun, tetap saja mampu mengaliri sengatan kedalam urat nadi, mengalir lewat pembuluh darah menuju vena, hingga menimbulkan detakan tak biasa pada jantung.
"Deg"
(Jadi, dari tadi dia merhatiin aku?)
(Hei, jantung, kau bisa tidak berdebarnya seperti biasa saja)
(Atau nanti kau akan aku periksakan ke spesialis!)
Terus saja menyangkal Fatimah, terus saja.
(Gadis ini, sampe kapan die berdiri di situ?)
(Deketan sini napa neng)
(Langsung kabur penyakit abang kalo udah liat permaisuri hati, uhui)
Karena untuk saat ini, dia belum punya kuasa dan hak untuk mengatakannya.
"Sini Dek, jangan berdiri aje di situ, pegel entar, "
tawar Rojali sambil mengarahkan pandangannya ke kursi di ujung ranjangnya.
"Ah, enggak gapapa disini aja, "
tolak Fatimah, karena ia merasa tidak bisa menggerakkan kakinya untuk menghampiri kursi itu.
Pandangan menyelidik dan saling kode mengkode dari dua tetangga rese Rojali ini, membuatnya ingin segera kabur dan menghilang saja dari tempat itu.
"Entar tambah tinggi, kalo berdiri aja, "
goda Rojali dengan senyum miringnya.
"Eh, enggak, saya udah mau pamit kok, "
tolak Fatimah lagi,
"Lah, kok cepet bener neng? "
ucap pak erte sambil menyikut si Endin di sebelahnya.
"Yaudah deh kite keluar dulu, nyari kopi, "
"Eneng mau nitip kagak? "
tanya Endin yang faham arti kode an dari pak erte.
Fatimah makin gelisah saja kalau dia di tinggal berdua dengan pemuda yang sempat mengisi angannya belakangan ini.
Dia takut imannya goyah, dia takut tak kuasa menangkal pelet dari senyum pemuda selengean itu.
"Jangan Pak! "
"Mana boleh saya hanya berdua sama dia? "
tahan Fatimah agar para tetangga Rojali , tidak meninggalkannya berdua di ruangan serba putih ini.
__ADS_1
Maksudnya lebih baik dia saja yang segera angkat kaki.
Karena semakin lama di ruangan ini, dia merasa jantungnya semakin bermasalah.
Bahkan sekarang saja Fatimah seolah susah bernafas.
(Bisa bengek aku lama-lama di sini)
"Berdua? "tanya
Endin dan pak erte serentak, sambil saling melempar pandang.
" Lah, ono nyang di pojokan apaan? "
kata Endin menunjuk seorang pasien di ujung kamar, yang baru saja masuk.
Aku yang ketauan hanya membuat alasan saja, cuma bisa menunduk sambil nyengir.
"Ya, tapi kan..., "
Mereka bertiga terkikik geli.
Mungkin kah karena melihat ekspresi ku?
(Muka kamu tu lucu banget tau gak dek?)
(Bikin abang gemes)
(Astagfirullah, ampuni Rojali ya Allah!,
yang gak bisa nahan perasaan)
Rojali pun mengusap wajahnya setelah ia menghetikan tawanya.
Kini ia hanya menatap ujung kakinya yang terbungkus selimut rumah sakit.
"Yang penting sekarang saya udah menuhin janji kan? "
"Udah lunas hutang saya, "
jelas Fatimah,
"Semoga Abang cepet sembuh,"
"Laa ba'-sa thahuurun insya allah, semoga sakitmu ini membersihkanmu dari dosa-dosa, atas izin allah,”
doaku tulus padanya di sertai senyum tipis.
(Eh,jangan pulang dulu dong dek! ")
(Abang masih kangen)
" Argh, aduh...! "
pekik Rojali memegangi perutnya.
Ia menekuk kakinya, kemudian meringkuk.
Reflek aku pun segera menghampirinya.
Bahkan tanganku dengan tak tau malunya, terjulur begitu saja, hendak membantu mengusap perut, yang berbalut baju rumah sakit.
Rojali meringis, ia terus meringkuk sambil sesekali mengaduh.
"Ya Allah, kenapa Bang? "
"Apanya yang sakit? "
tanya Fatimah panik, terlihat dari wajahnya yang gusar.
"Panggilin suster dong, jangan diem aja! "
pekiknya pada dua tetangga Rojali yang hanya terpaku diam tanpa aksi.
Membuat mereka berdua terlonjak, kemudian mengelus dada ayam, eh, dada masing-masing lah.
(Galak juga kamu dek, kalo lagi panik)
Ia tersenyum di balik selimut.
Terus dukung author dengan komen positif ya.
Jangan lupa like, gift vote juga boleh(kalo punya)
lope... lope... sekebon sawit.
__ADS_1
(Biar minyak goreng turun harga😁)