
___ππ___
"Tahu apa anda?tentang sistem penyelamatan nyawa manusia,Tuan Adiguna yang terhormat."ucap wanita berhijab itu dengan tegas dan berani.
" Lebih baik anda berdoa demi keselamatan istri anda,dan demi kelancaran usaha para tim medis kami." imbuhnya lagi kemudian hendak berbalik.
"Beraninya kau mengaturku!"Sergah Adiguna merangsek ke arah wanita yang baru selangkah berjalan itu.Namun para ajudan segera menghampiri guna menenangkan sang Tuan yang sedang kalap.
Wanita itu berbalik,kemudian dia berkata lagi.
"Demi Allah,istri anda sedang membutuh kan do'a saat ini,tim kami hanya berusaha,tetapi, kuasa itu sejatinya milik Tuhan kita."
"Kita adalah makhluk lemah,kitalah yang membutuhkanNYA...,"
"Sesungguhnya,Allah yang maha berkuasa atas nyawa setiap mahkluk nya."
"Bu Mirna sungguh beruntung memiliki suami yang begitu mencintainya," tuturnya serak dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Adiguna melemah,emosi nya seketika terjerembab oleh kata-kata wanita di hadapannya.
Lututnya seakan rapuh untuk menopang tubuhnya.
Beruntung para ajudan masih di sisinya,mereka berempat memapah tubuh yang masih gagah itu.
Sang kepala dan wakil kepala rumah sakit itu pun berlalu,dengan nafas lega.
Semoga orang itu tidak benar-benar melaksanakan ancamannya.
Bagaimanapun juga,wanita berhijab itu takut dan gemetar,namun ia tak boleh mundur dan gentar menghadapi manusia yang sok berkuasa seperti itu.
Adiguna menjatuhkan tubuhnya di kursi tunggu,kedua tangannya meremas kepala dengan kuat.
Benarkah Mirna beruntung karena memiliki suami sepertiku?Aku sudah gagal melindungi,bahkan sekarang ia terluka hebat karena diriku...
Adiguna mulai menyalahkan dirinya,ia semakin erat meremas kepalanya .
Hingga bulir-bulir bening itu jatuh menimpa lantai marmer yang beku.
*FLASHBACK END*
ππ
Jihan berlari menghampiri sosok lelaki setengah baya,yang mematung di kursi besi.
Pandangan lelaki itu kosong dengan mata merah dan bibir yang terkunci rapat.
Jihan ikut duduk di sampingnya kemudian memeluk erat lelaki tersebut dari samping.
Ia berusaha menahan isak nya,karena ia telah memutuskan tidak akan menangis lagi.
Ia percaya ketentuan Allah adalah yang terbaik bagi sang mama.
"Jihan sayang Papa,semua ini takdir dari Allah,"
"Semoga mama masih punya kesempatan untuk bersama kita lagi," tuturnya lebih teratur dan tenang,meskipun derai bening itu perlahan turun tanpa bisa ia cegah.
Adiguna tersentak,kesadaran memaksa kembali.
Putri kecilnya kini,ternyata sangat dewasa dan bijak dalam menyikapi musibah.
__ADS_1
Bahkan tak seorang pun yang menyalahkannya atas kejadian ini.
Rojali sekalipun,ia pikir anak itu akan berusaha membunuhnya.
Karena mengingat betapa sang putra sangat hormat dan menyayangi mamanya.
Kenapa mereka begitu percaya pada takdir?
Kenapa mereka begitu yakin akan kuasa Allah?
Ku pikir, uang dan kekuasaan ku dapat mengontrol semuanya,termasuk keselamatan keluargaku.
Ternyata,itu semua nihil...
Aku tak berdaya kini,
Haruskah,aku juga memohon kepada Tuhanku?
Pupil pekat Adiguna bergerak-gerak,pertanda ia sedang bimbang dan kalut.
Belum pernah ia merasa sekerdil ini,merasa takut dan tak berguna.
"Apakah do'a seorang pendosa akan di dengar?" tanya Adiguna datar.
Ia menoleh kesamping,dimana sang putri tengah merebahkan kepala di bahunya.
Jihan sontak mengangkat kepalanya,matanya berbinar,kemudian ia tersenyum dan kembali mengeratkan pelukannya.Bahunya naik turun tandanya ia kembali terisak.
Tapi kali ini,air mata bersyukur akan kuasa yang sedang Allah tunjukkan kepadanya.
Jihan menyusut air matanya,melerai dekapannya kemudian menatap kedalam mata tajam,yang kini telah kehilangan aura nya.
"Sesungguhnya,Allah itu maha pengampun...,meski dosa hambanya sebesar gunung,dan sebanyak buih di lautan," lirih Jihan .
"Mau Jihan antar ke musholla?"tanya gadis berkerudung dengan wajah oriental asia itu.
"Tidak perlu sayang,temani mama mu saja.Biar Papa bersama mereka," ujar Adiguna lembut,sambil menepuk pelan pipi tirus yang lembab itu.
Adiguna berdiri tegap dari duduknya,ia menghela nafasnya berat.
Baru saja ia hendak melangkahkan kakinya.
Lampu merah di atas pintu ruangan eksekusi di hadapannya berubah hijau.
"Operasinya?"lirihnya pelan nyaris tak terdengar.
Jihan pun ikut berdiri di sebelah sang papa,merangkul lengan itu kuat.Dengan harap-harap cemas menatap nanar pintu yang tak kunjung terbuka itu.
Ketika seorang lelaki berjubah hijau keluar,Adiguna langsung merangsek menggeser pintu kaca tersebut.Diikuti Jihan dan beberapa pengawal di belakang.
" Bagaimana?bagaimana keadaan istri saya?"tanya Adiguna dengan bergetar.
"Kami dan tim sudah melakukan yang terbaik,saat ini istri anda mengalami koma,"jelas pria berjubah hijau yang tak lain adalah dokter.
Bagai di sambar petir di siang terik.
Bagai di hujam ujung belati,batin begitu tersentak dan perih.Jihan kembali menenggelamkan kepalanya dalam pelukan sang papa.
Sekuat apapun ia menyiapkan hatinya,rasanya tetap sakit bak tersayat sembilu.
__ADS_1
Dunia seakan runtuh di hadapannya kini.
"Untuk keterangan lebih lanjut,anda bisa mendatangi ruangan saya."tambah dokter itu lagi.
" Apakah kami_boleh melihatnya?"tanya Adiguna lemah dengan bibir bergetar.
"Silahkan...,berdoalah,karena hanya kuasa Tuhan yang mampu membalik keadaan."ucap dokter itu lagi kemudian berlalu.
Ayah dan anak itu pun masuk,kemudian menggunakan jubah steril, penutup kepala dan juga masker.
" Sayaaang..."
"Mamaa..."
Tangis keduanya pun pecah,tatkala melihat sosok anggun itu terbujur dengan bermacam jenis alat yang menempel di tubuhnya.
Kepalanya terbungkus perban putih melingkar.
tangan dan kaki kanan yang di beri gips.
Serta beberapa luka goresan di wajah dan juga leher.
Wajah cantik itu kini pucat pasi.
Mata indah itu hanya bisa tertutup rapat.
Bunyi suara alat pendeteksi kehidupan sang istri begitu menyayat hatinya.
Ia tersadar,ternyata ada hal yang tidak mampu di bayar dengan hartanya,yaitu kesehatan,dan keselamatan.
Ada sesuatu yang tidak mampu ia taklukkan,ya... dialah sang waktu.
"Jaga mamamu,Papa pergi dulu sebentar." Setelah mengecup ujung kepala Jihan,Adiguna bergegas keluar dari ruang yang menyesakkan batin dan jiwa nya itu.
Baru kali ini Jihan melihat sosok lain dari sang papa,dia yang biasanya begitu dingin dan kaku serta berhati baja.
Ternyata bisa meluruhkan kristal bening itu dari sepasang netra nya yang setajam elang.
Ini kali pertama dalam hidup seorang Adiguna,ia yang merasa begitu ketakutan dan tidak berdaya,hatinya tercabik-cabik melihat sang istri tercinta tergeletak penuh luka.
Ia merutuki dirinya habis-habisan,bahwa dialah yang telah menyebabkan semua luka itu,secara tak langsung ia telah menyakiti, satu-satunya wanita yang ia cintai,wanita yang pernah ia perjuangkan setengah mati.
Adiguna terus berlari,bahkan ia tak menggubris panggilan para pengawalnya.
Langkahnya berdentum di koridor yang tampak beberapa perawat berlalu lalang.
Hingga tanpa sengaja ia menabrak sebuah troli,yang berisi berbagai alat-alat medis.Hingga suara bising suara benda berserakan dan pekikan seorang Ners perempuan,membuat beberapa pasang mata menoleh ke arahnya.
Sungguh,tampang Adiguna terlihat kacau,bahkan ia terlupa di mana arah lift.
Para pengawal yang mengikutinya di belakang lah yang akhirnya menyelesaikan kekacauan yang telah di buat tuan mereka itu.
"Ya Allah..."
"Aku begitu nista...bahkan hanya untuk sekedar menyebut namamu...,"
Beberapa part lagi menuju end ya gaes....
Semoga lancar jaya...
__ADS_1
Aamiin.
π