
visual:Abang ojol ganteng alias Rojali alias Ali,
Anggep aja Bang Ali lagi ngojek yak๐ค
Visual:Fatimah
nunggu in es kelapa apa nasi goreng nih kira-kira??
Dah tu tinggal bayangin dah.
Cuma otor jadi gak tega ngasi konfliknya, ๐
๐พ
Pov Fatimah.
Aku merebahkan tubuhku, setelah selesai membantu ummi di dapur.
Si kembar sudah pulang dari rutinitasnya mengaji sehabis Magrib tadi,sampai Isya di Masjid.
Ayah sudah makan bubur dan minum obat.
Sekarang tinggal waktunya aku merenggangkan otot-ototku yang kaku seharian ini.
Aku merunut semua kejadian seharian ini.
Bermula dari pekerjaanku yang kacau balau di pabrik, kejadiaan na'as di loker.
Dengan sendu ku tatap layar hapeku yang retak tak beraturan.
Lalu kejadian lucu di jalan raya, yang mengharuskan ku mendorong motor,dari ojek online yang kupesan, kira-kira sejauh tujuh ratus meter.
Kepanikan setelah sampai di rumah,lalu ke klinik , muter-muter di pasar, dan berakhir dengan kembali lagi ke rumah.
Selama setengah hari ada orang baru yang tidak ku kenal,sebelum aku memesan jasanya melalui aplikasi tersebut.
Secara tidak di sengaja ia cukup membantuku, ikut berbaur dengan keluarga kecilku, tiba-tiba dekat dengan si kembar.
Dia tidur,mandi, sholat dan makan di sini.
Padahal, dia hanya orang asing yang kebetulan tersangkut paut dengan urusanku.
Dan dia yang notabene orang asing itu, mau membantuku dengan ikhlas.
Kata-katanya tadi terus terngiang di telingaku.
Apa maksud dari kalimatnya?
("Semoga Allah mempertemukan kita lagi, dan kalo sampe itu kejadian,berarti kita berjodoh,")
Apa-apaan dia?
Mana ada yang kayak begitu?
Kebetulan yang kayak gitu mah,cuma adanya di sinetron.
Pasti dia pencinta FTV ikan terbang.
Aku pun terkekeh geli, membayangkan Rojali mantengin tivi.
Kenapa lancar banget ni mulut nyebut namanya?
Tapi ayal garis sudut bibirku tertarik perlahan ke atas.
Buru-buru aku menggelengkan kepalaku, mengusir semua bayangan tentang pemuda itu.
Tapi, bayangan itu tidak kunjung pergi.
Ah, dia itu gembel,urakan, tapi kok mengesankan ya?
__ADS_1
(Ciee, sudah mulai ada simpati)
Hei, sejak kapan aku memikirkan laki-laki, no way!
Iya sih,
Orangnya kocak, ceplas-ceplos, apa adanya, padahal dia punya sesuatu.
Dan sekelebat bayangan dia mengenakan... membuatku seketika mengekeh geli.
Sepertinya dia sosok yang religius, dan taat kepada Tuhannya.
Ah, kenapa aku menemukan banyak kelebihan pada diri pemuda gondrong itu.
Haruskah aku berharap bertemu dengannya lagi, atau percaya begitu saja pada ideologinya tentang kebetulan yang beruntun dan berjodoh?
Ah, kenapa aku harus memikirkan dia sih?
Lebih baik tidur, besok aku harus kembali berjuang, mengembalikan reputasi ku di pabrik.
Sekian menit aku berdebat dengan fikiranku sendiri.
Tak lama aku pun telah terhanyut ke pulau mimpi.
Pov Rojali(Ali)
Hari ini kita pulang membawa semangat baru ya mbul.
Setelah seolah hidup tanpa harapan, kini secercah cahaya itu tiba-tiba bersinar, dan memberi harapan baru bagi gue mbul.
Aku mengajak bicara motor keluaran lama yang sudah setia menemaniku.
Bahkan aku memberinya nama 'Jambul'.
Sekilas nampak macam orang tak waras.
Tetapi, aku sudah menganggapnya bagai sahabatku sendiri.
Kite langsung pulang aje deh mbul, gak usah nyari orderan.
Pegimane keadaan si otong, kisut kedinginan kagak tu die nye?
Aku pun menengok kebawah di mana pusaka berhargaku bersarang, dengan keadaan yang lembab dan dingin.
Ahh, semoga saja kau tidak pilek.
Malang benar nasib kau!
Mengingat kejadian tadi, aku tau gadis itu mati-matian menahan tawanya melihat penampilanku.
Malu?
Udah pasti,
Bayangkan saja atasan jaket bawahan sarung, dengan sepatu sport.
Aish, kugelengkan kepala mengusir rasa malu yang masih sedikit membekas.
Ah,tapi mao dibilang apes ya kagak juga,malah banyakan beruntung nye,soalnye hati gue ketemu bidadari belahan jiwa mbul, bikin jantung ame hati gue gedebag-gedebug kagak karuan, apelagi kalo pas liat matanye, beeuhh kagak kuat...!
Meleleh hati abang dek!
Hahaha...!!
Aku tertawa di tengah derunya laju kendaraan.
Di malam yang dingin nya menusuk sampai tulang, mungkin karena habis hujan.
Tetapi,tidak dengan hati dan jiwaku, karena hanya dengan mengingat senyumnya saja, seketika hati ini menghangat.
Ck, lu kalo bisa ngomong , pasti udah ngatain gue gila kan mbul?
Jambul,jambul...,
Sayangnye lu benda mati mbul, tapi gue sayang ame elu.
Aku menepuk-nepuk body samping motor tua ku ini, sambil terus terkekeh.
__ADS_1
Apa gue beneran gila sekarang, gila karena dia?
Gak lah, gue kudu tetep waras, jangan sampe hasrat dan gelora itu mengalahkan akal sehat dan iman gue.
Ah, Fatimah...,
Akankah kita bersatu layaknya Sayyidina Ali dan Fatimah Azzahra??
Haruskah aku menyebut namamu di sepertiga malam nanti?
Agar Allah mempertemukan kita lagi dengan kebetulan berikutnya?
Hei, sesungguhnya tidak ada sesuatu yang kebetulan, semua sudah menjadi ketentuan dan tak lain tak bukan adalah kehendak dan rencana Allah semata.
Tapi, bolehkah aku mengharapkannya??
Ya Allah, hamba mu yang gembel ini jatuh cinta...!!
Whoohooo....!!
Aku pun menambah laju kendaraanku di jalan yang agak lengang,sambil berteriak macam tarzan.
Aku memelankan laju kendaraanku ketika sudah memasuki wilayah tempat tinggalku saat ini.
Memangnya dimana aku tinggal pada saat itu?
Ah, sudah lupakan!
Aku bahagia dengan keadaanku sekarang, semoga.
Aku memasuki rumah sederhana yang kubeli dari tabunganku sendiri.
Rumah panggung betawi yang di dominasi dengan kayu jati.
Aku mengambil handuk kemudian berlalu ke kamar mandi, guna membersihkan tubuh dari cipratan genangan air di jalanan.
Aku membuka kaus dan sarung yang diberikan oleh Farhan.
Tu anak kenape gak minjemin aje sih, kan gue jadi ada alesan buat kesono lagi.
Ucapku hanya dalam hati, karena di dalam kamar mandi tidak boleh berbicara,apalagi jadi penyanyi dadakan.
Kemudian aku memasukkan sabun cuci ke dalam bak rendaman.
Berharap noda kecoklatan yang berasal dari genangan air kotor itu akan luntur, setelah kurendam semalaman.
Aku pun melaksanakan ritual mandiku dengan cepat, kemudian berwudhu.
Setelah rapi dengan setelan koko berlengan pendek dan kain sarung tidak bermerk, aku membentangkan sajadahku ke arah kiblat.
Aku akan mengadukanmu pada Tuhanku, wahai gadis pencuri hati.
Selesai sudah sesi pengaduanku pada sang Maha pemilik hati.
Kemudian kurebahkan tubuh dengan beralaskan sajadah, fikiranku pun menerawang.
Haruskan aku membawa mu masuk dalam kehidupanku yang... ah,
Ingatanku pun melayang pada kejadian lima tahun yang lalu, dimana aku memutuskan untuk memulai hidup mandiri.
Sesaat tadi,ketika berada di tengah-tengah kehangatan, dan kesederhanaan dari keluarga Fatimah, membuat ku merindukan kalian.
Aku membuka galeri pada gawaiku, dan seketika mataku telah basah, basah oleh kerinduan, rindu kebersamaan seperti masa remaja ku dulu, dimana kehangatan itu sekarang??
Kenapa setelah aku faham lebih jauh akan agamaku, ketika aku berusaha lebih dekat kepada Tuhanku, mengapa mereka yang ku kasihi, semakin menjauh?
Hanya kepadaMU lah aku akan menyerahkan segalanya Ya Robb...!
Pantaskan diri ini,untuk sosok nya,
Aku berharap bisa membahagiakan dan melindungi, siapapun wanita yang akan mendampingiku kelak.
Aku ingin menyempurnakan agamaku dengan melaksanakan sunnah Rosulku.
Dosakah aku jika berharap memimpikannya?
Perlahan mataku terpejam, mengistirahatkan pergolakan batin dan raga.
__ADS_1