
___๐___
Setelah sang pengantin pria melantunkan sholawat yang begitu indah.
Acara pun kemudian di sambung dengan pembacaan doa untuk kedua pengantin.
Pengajian yang di pimpin oleh salah satu ustad di daerah itu.
Sedikit tausiah atau nasihat pun di berikan untuk bekal kedua pasutri baru.
Dalam mengarungi biduk rumah tangga nantinya.
Selesai itu semua,sesi yang paling di tunggu adalah memberi selamat kepada kedua pengantin kemudian menyerbu meja panjang yang berisikan bermacam makanan enak.
Prasmanan ala kampung menu nya sederhana,hanya sayur sop tetelan campur baso.
Rendang jengkol,pepes ikan mas,kentang pengantin,bihun goreng sayuran,semur daging sapi,tak lupa kerupuk udang dan asinan buah yang di cincang.
Minumannya ada bir pletok dan es doger.
kentang mustofa(kentang pengantin)
Asinan buah dadu.
Bir pletok adalah salah satu minuman tradisional khas Betawi yang punya beragam manfaat.
Meski menyandang kata 'bir', bir pletok tidak mengandung alkohol.
Bir pletok justru terbuat dari lada, jahe, dan kulit kayu secang.
Kulit kayu secang inilah yang membuat bir pletok berwarna merah.
Minuman ini awalnya diracik lantaran dahulu banyak orang Betawi yang melihat kebiasaan warga Belanda di Indonesia.
Warga Belanda selalu mengonsumsi wine di dalam sebuah perayaan.
Karena itu, orang Betawi juga ingin mengonsumsi minuman serupa saat ada perayaan khusus.
Tapi karena minuman beralkohol masuk kategori minuman yang dilarang agama, orang Betawi membuat 'wine' dari racikan rempah-rempah di atas.
Kata 'pletok' sendiri diambil dari bunyi 'pletok' saat orang Belanda membuka tutup botol wine. Penggabungan kata bir dan pletok menjadi nama dari racikan minuman herbal tersebut.
Begitulah kira-kira sejarah minuman fenomenal ini.
Rasanya anget campur pedes gitu...
Aihh...
Mak chibi jadi pengen kondangan:)
Di pelaminan sederhana.
Di atas kursi panjang yang seperti sofa berwarna soft white dengan hiasan bunga di kanan dan kiri.
Serta kipas angin stand up yang berputar sedikit menyejukkan.
Sepasang pengantin itu saling menautkan jemari mereka.
"Abang laper gak?"
"Adek,ambilin makan ya?"
tanya Fatimah lembut di telinga lelaki berambut sebahu itu sambil menyentuh lengan sang suami pelan.
Karena jika tak berbisik suaranya tidak akan terdengar,tenggelam oleh suara tabuhan dari tim marawis.
Rojali sedari tadi sedang serius,memperhatikan para adik yang berasal dari pondok Abi Fatih.
Mengagumi cara mereka memainkan benda yang ditabuh itu.
Diikuti pula oleh si kembar Farhan dan Fadlan sebagai vocal.
Ia yang sedang terkesima itu pun sontak menoleh.
"Emh_"
__ADS_1
ia pun terkesiap lantaran lehernya mendapat sapuan hangat dari nafas perempuan cantik di sebelahnya.
"Boleh deh,tapi_kita bareng aja ngambil nya,"
saran Rojali lantas tersenyum manis.
"Biar adek aja yang ambil,Abang diem-diem aja di sini."
Fatimah yang hendak bangun dari duduknya tertahan oleh genggaman pada telapak tangannya.
Sebuah tangan yang kokoh dan hangat.
"Sama-sama aja ya cantik."
Kemudian Rojali bangun dan berjalan sembari menggandeng erat Fatimah yang sedang menyembunyikan senyumnya.
Fatimah hanya bisa menurut tanpa membantah.
(Sejak kapan aku jadi baper gini?)
"Cie...ciee,"
"Switswiit...!"
"Gandengan bae ude kayak tronton,hahaha...!"
Tiga orang pemuda sepantaran si Endin,anak pak haji Duloh,yang juga di juluki si juragan kontrakan di kampung kecapi itu.
Sambil menikmati makan,mereka terus saja menertawakan sepasang pasutri yang sedang memasukkan berbagai menu ke dalam piring mereka.
Hingga tiba-tiba...
"Wekk...hek...hek...!"
"Kasih minum Din,minum!"
"Aer mana aer...?"
"Nih!"
"Elu,si Meng lagi ngelebok juga masih aje ngeledekin Jali,"
"Ketula kan,lu!"
(ketula\=kualat)
"Lu gak kenapa-napa kan Meng?"
tanya nya sambil menepuk agak keras pundak pemuda yang di panggil Komeng oleh kedua kawan mereka.
"Uhukk,kagak Bang,"
"Ini_jengkolnye ade tulang nye kali makanye gue keselek,"
jawab pemuda itu dengan melempar kesalahan pada makanan.
"Sejak kapan jengkol bertulang?"
"Lu aje,makan kagak pake bismillah udah gitu ngunyah sambil ketawa,"
sindir Rojali sambil geleng kepala.
"Udeh,makan biar kenyang,"
"Abis itu pade pulang,"
"Jangan lupa,besok anterin Jambul kesini!"
Setelah memberikan pesan kepada kawannya,Rojali segera beranjak menghampiri Fatimah yang sedari tadi senyum-senyum melihat interaksi mereka.
Ada-ada saja ulah kawan suaminya itu.
Ah,suami_bahkan menyebutnya saja bisa membuat wajahnya merah kuning hijau.
"Lha...kite diusir,"
"Udeh kagak sabaran palingan,"
"Kagak sabaran napah,maksud lu?"
"Ye,sok polos lu pada'an!"
"Apaan si maksud lu,Meng?"
"Auk ah,tanya noh ame Endin,"
__ADS_1
"Apaan si Ndin maksudnye Komeng?"
"Ye mane gue tau,pan gue jomblo!"
"Ah,kagak jelas lu bedua!"
"Dah,ah,nyok kite bakil!"
kesal pemuda gembul yang tidak mendapat penjelasan dari kedua kawannya itu.
Singkat cerita semua manusia-manusia lapar dan heboh itu sudah kembali ke habitatnya masing-masing.
Mirna dan Jihan sudah pulang lebih dahulu.
Karena ada urusan katanya.
Teman sekaligus tim usaha kecil Rojali dalam mengurus tambak gurame dan lobster itu pun,sudah izin pulang sedari tadi.
Tinggallah Sumi dan Aji yang izin beristirahat di rumah yang sudah di siapkan oleh Fatimah.
Ia faham sahabatnya itu sedang hamil muda sehingga mudah lelah.
"Ya udah istirahat deh,udah mau magrib juga,"
"Nanti biar Farhan yang anter peralatan mandi buat kalian ya," ucap Fatimah kepada sahabatnya yang perutnya telah membuncit. a
Akibat ulah lelaki yang tak lain dan tak bukan adalah si Aji,suami sahabatnya itu.
"Ga usah,kita udah bawa,"
"Udah,Kakak tenang aja,siap-siap aja entar malem,"
"Ga usah mikirin kita,iya gak Mas?"
ledek Sumi sambil nyengir dan menaik turunkan alisnya menggoda Fatimah.
"Ish,Kaka lagi lampu merah tauk,"
bisik Fatimah dengan semu yang mencuat malu-malu di kedua pipinya.
"Duh,kasian banget ya si Abang ganteng di anggurin
Aji pun menyambung pembicaraan mereka berdua.
" Apaan si Mas bejo,nyamber aja ih!"
cebik Fatimah menangkis malu.
"Tauk nih,Mas Aji,jangan nguping dong!"
omel Sumi sambil mencubit gemas pinggang lelaki yang memiliki berewok tipis itu.
"Siapa yang nguping?"
"Lha,kalian berdua bisik-bisik di samping aku,ya denger lah,"
tangkis Aji membela diri.
Padahal emang nguping tadi mak chibi liat kok.
"Udah deh,ah,sonoh!"
"Istirahat,kasian itu si utun,"
"Sebentar,Kakak panggil Farhan dulu buat anter kamu."
Fatimah pun berlalu dari keduanya,berjalan dengan perlahan karena gaun yang di kenakan nya amatlah panjang menjuntai hingga menyapu lantai.
Setelah Sumi dan sang suami pergi.
Fatimah hendak masuk ke kamar namun Nur memanggilnya.
"Kak!"
Pekiknya padahal jarak mereka sudah dekat.
Dengan menggandeng pria tampan berbadan tegap.
Nur menghampiri Fatimah dengan senyum yang terkembang.
Udah ya,udah up tuh...
Sekarang Mak chibi mau rehat dulu...biar cepet Fit lagi.๐
Makasih buat yang udah setia๐
__ADS_1
lope_lope sekebon jengkol dan pete...