
✨Hidup itu sederhana.
Apabila sesuatu yang kau senangi tidak terjadi.
Maka senangilah apa yang terjadi.
✨
***~~~***
Kakaaakk...!! "
"Astagfirullah, Allahu Akbar! "
Pekikku, terlonjak kaget,sambil memegang dada dengan kedua tangan, aku pun lantas menoleh.
"Farhan! "
"Bikin orang jantungan aja, " omelku kemudian ku satukan jempol dan telunjukku untuk mencapit hidungnya yang mancung sepertiku.
"Aw, aw, aw..., sa... kit! " pekiknya sambil menghempas tanganku dari hidungnya.
"Itu hukumannya bikin orang kaget,"
"Untung jantung Kakak bukan buatan cina, "
"Kalo iya udah mental noh, gelinding ke halaman, " geramku pada si Farhan.
"Makanya jangan bengong, kalo kesambet gimana? "kilah Farhan sambil mengusap wajahnya yang basah karena air hujan.
" Dih, ni bocah, malah nyumpahin Kakaknya kesambet, "geramku kali ini aku menarik kedua pipinya yang basah dan dingin.
"Kakak nih, orang keujanan malah diomelin aja, bantuin kek, " keluhnya seraya memanyunkan bibirnya.
Aku pun menghela nafasku , menormalkan kembali detak jantung yang sempat terkejut tadi.
"Unch kacian nye Adek Akak ni, "ejekku sambil memonyongkan sedikit bibirku.
Yang membuat Farhan kemudian memasang muka jutek dan dinginnya.
" Iya, iya, sini mana kantong belanjaannya, "ucapku sambil menadahkan tangan.
Kemudian kusambar kantong kresek hitam berukuran sedang itu.
" Pelan-pelan Kak, itu ada telornya, "
"Mana aku sampe keliling, nyari warung yang jual itu, " tegur Farhan masih dengan wajah kusutnya.
"Oh, iya deh maaf, he, "
"Yaudah,kamu buka tu jas ujannya, trus gantung di situ, "
"Kakak ambillin anduk dulu di dalem, " ujarku seraya berlalu kedalam rumah.
Hujan sudah agak reda, menyisakan gerimis dan angin yang berhembus lumayan kencang.
Suasana di petang hari ini semakin redup karena senja tertutup oleh awan mendung yang masih belum lelah mencurahkan air langit.
Dingin semakin lama semakin menusuk, bau tanah kering yang tiba-tiba basah terguyur air, menciptakan aroma khas.
Daun-daun kini tak lagi layu, tanah tak lagi kerontang, sumur-sumur lumayan memiliki endapan air.
Hujan yang begitu deras meskipun tidak sampai dua jam, tapi sudah benar-benar memulihkan dahaga pada bumi yang gersang.
Karena kemarau tahun ini lumayan panjang.
Cuaca begini memang sangat nikmat, bila di padu padankan dengan kasur dan selimut.
Tapi, jangan sampai terkena buaian suasana.
__ADS_1
Karena tidur di jam-jam seperti ini bisa membuat orang linglung.
Lebih baik segarkan tubuh dengan minuman yang hangat-hangat.
Dan, manjakan lidah dengan makanan nikmat yang merakyat.
Seperti yang sedang di nikmati keluarga yang satu ini.
"Makan dulu sini Bang, pulangnya nanti aja abis magrib, tanggung juga, " tawar ummi pada pemuda yang kusebut urakan.
(Tapi kenapa sekarang keliatan lebih rapi, apa karena habis mandi terus solat, jadi auranya keluar)
Tanpa sengaja netraku terpaku menatap penampilan si abang ojol yang tiba-tiba bergabung di tengah-tengah keluarga kecilku.
(Sebenernya dia lumayan juga ya kalo rapih begini)
Tanpa sadar segaris senyum telah terlukis di wajahku.
"Kak, itu tolong kasih piringnya ke si Abang, malah senyum-senyum, "
sergah ummi seketika membuyarkan lamunanku.
(Aih, bikin malu saja, dia liat enggak ya)
"Jangan-jangan Kakak beneran kesambet deh, tadi bengong, sekarang senyum-senyum sendiri gak jelas, "duga Farhan sambil bergidik pelan.
" Sembarangan aja kalo ngomong! "pekikku sambil menggetok pelan jidatnya dengan centong sayur.
" Ish, "desisnya
" Punya Kakak, suka banget kdrt sama Adeknya, "gerutu Farhan pelan namun dapat di dengar semua orang yang sedang lesehan di ruang tamu.
Fadlan pun terkikik geli melihat perdebatanku dengan kembarannya, Ummi cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, dan pria yang di ujung sana, ternyata sedang memperhatikanku tanpa kedip.
Aku pun segera mengalihkan tatapanku, yang sempat bertabrakan dengannya selama beberapa detik tadi.
"Begini juga udah nikmat banget, Bu, pas sama timingnya, " jawabnya dengan sopan dan lembut.
(Ck, paling juga pencitraan)
Aku pun menatap makanan yang tersaji di hadapan kami, menu instan yang kumasak hanya dalam waktu kurang lebih setengah jam saja.
Mie rebus, campur sawi, telor dan cabe rawit.
Sungguh makanan andalan rakyat jelata bukan?!
Melihat uap panasnya yang masih mengepul, membuat para cacing pita dalam perutku meronta-ronta.
(Aku tuh gak bisa gemuk, makanya kata si kembar aku tuh cacingan)
(Emang dasar adek gak ada akhlak, body peragawati gini dibilang kurus karena cacingan)
Sesi makan pun berakhir, menyisakan peluh di dahi kami masing-masing.
"Pedesnya nampol Kak, " ucap Fadlan sambil mengusap keringat yang sudah membanjiri pelipisnya.
(Dasar gembuy)
Sesaat kemudian adzan magrib berkumandang dari Masjid yang jaraknya tidak jauh dari rumahku.
Si kembar pun mengajak teman baru mereka, Bahkan Fadlan tidak segan untuk merangkul bahu pemuda itu.
Mereka bertiga pun berjalan beriringan.
(Tumben tu anak pada, biasanya susah akrab ama orang baru. Apalagi Farhan, dia termasuk introvet selain denganku dan sodara satu ari-arinya itu.)
Aku menatap punggung mereka bertiga sampai menghilang di belokan gang.
"Kakak ngeliatin siapa sih, magrib lho ini Kak, " tukas ummi lagi-lagi membuyarkan gejolak didalam fikiranku.
__ADS_1
"Ya si kembar nya aku dong Ummiku yang ca'em, "
godaku sambil mengedipkan sebelah mataku padanya.
"Duh, ni anak gadis Ummi beneran gak lagi kesambet kan? " ejeknya membalas godaanku padanya barusan.
"Pulang kekosan aja ah, daripada di bully mulu daritadi, " rajukku sambil membawa peralatan bekas kami makan tadi ke dapur.
"Uhuii... anak perawan merajuk, " kekeh ummi pelan,kemudian menutup pintu.
Sebelumnya ummi membaca tiga Al Ikhlas3x, Al Falaq 1x dan Annas 1x.
Itu yang ayah ajarkan pada kami, untuk menghindari gangguan jin,manusia yang dzolim dan sihir.
Aku hanya duduk bersandar di kasur busaku.
Tiba-tiba saja tamu bulananku mampir.
Aku pun akhirnya mengisi waktuku dengan membaca sholawat Nariah.
اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا
Allohumma sholli shollatan Kaamilatan wa sallim salaman
تَامًّا عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ
Taman 'ala sayyidina muhammadiladzi
تُنْحَلُ بِهَ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ
Tanhallu bihil 'uqodu wa tanfariju bihil kurobu
وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ
Wa tuqdhobihil hawa iju wa tunna lu bihiro go'ibu
وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ
Wa husnul khowatim wa yustaqol ghomawu
بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ
Biwaj hihil kariim wa 'ala aalihi
وَصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ
Washosbihi fii kulli lamhatin wa hafasim
بِعَدَدَ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ
bi'adadi kulli ma'luu mi laka
Ada yang bilang kalau kita memperbanyak solawat ini, kita bisa mimpi ketemu Rosulullah.
Lagi enak-enaknya bersenandung, hape di atas kasurku bergetar.
Memang hape masih dalam mode silent semenjak aku sampai di rumah ini.
(Siapa sih yang nelpon magrib-magrib begini?)
"Sumi! " pekikku girang, karena aku sangat merindukan salah satu sobat kentalku ini.
Aku pun menggeser tombol hijau di aplikasi yang bergambar gagang telepon itu.
"Assalamu alaikum, Kakaaaakk...! " Teriak wanita yang berlogat jawa di seberang sana.
Lagi eling nih, upload dua bab😁
Semoga serru yak... hohoo
__ADS_1