Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Bertemu Mama dan Jihan


__ADS_3

___ยฎยฎยฎ____


Seorang resepsionis sempat menghentikannya tadi di bawah.


Namun, setelah ia menerima penjelasan dari lelaki di hadapannya itu.


Ia berulang kali meminta maaf, meski seribu tanya mulai bersarang di otaknya.


(Mirip sama anaknya Bu Bos,tapi kok pake jaket ojol ya?)


Resepsionis wanita itu pun, hanya menggaruk-garuk kepalanya.


(Tapi dekil dan gak ke urus gitu, ah mirip doang kali, ah!)


(Lagian anaknya Bu Bos kan udah Isdet lama.)


Wanita itu kembali ke meja nya sambil terus bergumam tak jelas.


Rojali sudah sampai di lantai atas, ia pun mengedarkan pandangannya.


Tatapannya berhenti mengedar tepat di ujung sebelah kanan.


Ketika netra nya menangkap senyum sumringah seorang gadis yang di ketahui periang dan manja itu.


Seketika gadis berkulit putih itu melambaikan tangannya dengan antusias.


Seorang wanita paruh baya berpenampilan elegan,yang duduk di depannya.


Sontak menoleh hingga memutar tubuhnya.


Dengan cepat ia menutup mulutnya, menyisir penampilan sang anak sulung dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"I, i, ini..., "


"A, Abang..., anak Mama! "


pekik wanita dengan rambut ikal sebahu itu tertahan.


Meski sudah berusia setengah abad, namun garis-garis kecantikannya masih kentara jelas di wajah dan juga bentuk tubuhnya yang masih langsing semampai.


Tak kuasa menahan gejolak rindu itu.


Mirna menundukkan kepala dan memeluk tubuhnya sendiri.


Ia menggigit bibirnya guna menahan isak yang tercekat itu agar tidak keluar.


Ia sudah berusaha mengendalikan dirinya.


Tapi perasaannya tak bisa di ajak kompromi.


Hatinya begitu perih teriris melihat kenyataan yang nampak di hadapannya saat ini.


Hal yang serupa juga di rasakan oleh si sulung dan si bungsu.


Bahkan, Jihan sudah berkali-kali menyapu derai air matanya dengan tisu.


Rojali menyatukan gerahamnya kuat-kuat.


Ia menengadahkan wajahnya ke atas.


Guna, menahan guliran bening itu.

__ADS_1


Bila saja,tidak mesti begini keadaannya.


Sungguh ia akan mencium dan memeluk surganya itu.


Tuhan, permainan apakah ini?


Mereka keluarga,tapi...,berpelukan pun tak bisa.


Rojali pun duduk.


Ia menatap dalam wanita di hadapannya.


Bahkan, Mirna sudah mengangkat kepalanya kini.


Matanya berkilat, menatap kedua darah daging yang ia keluarkan dari rahimnya sendiri.


"Kita pergi dari sini, Mama sudah tidak perduli lagi! "


ucapnya lirih sambil menengok ke suatu sudut.


Sepertinya Mirna sudah tidak tahan dengan keadaan yang menyiksa batinnya ini.


"Setidaknya kita minum dulu, Mah, "


tahan Jihan sambil menggenggam tangan sang mama.


"Jihan akan membawa Abang dan Mama ke suatu tempat, "


"Akan tetapi, bersabarlah sedikit lagi, "


"Kita harus bermain cerdik, "


"Abang, rambutnya di gerai aja ya, "


Kalo perlu poninya di kedepanin deh, "


"Ada untungnya Abang jadi rebel gini, "


kekeh Jihan pelan sambil menutup mulutnya.


"Lagi, tegang aja kamu bisa ngeledek ya? "


"Udah lama gak di bikin nangis, ni anak! "


gemas Rojali hampir saja ia melayangkan jitakan nya ke kepala gadis cantik di sampingnya ini.


"Meskipun Mama merindukan moment berantem kalian berdua, "


"Tapi, kalian harus tahan, jangan sampai ada yang curiga melihat interaksi kalian ini, "


ucap Mama Mirna tenang sambil menyeruput jus di hadapannya.


Rojali menyerahkan sesuatu, kepada Jihan.


Sebuah amplop coklat kecil layaknya sebuah paket.


"Semoga ini dapat memuluskan rencana kita, dan dapat mengecoh mereka, "


ucap Rojali kemudian berdiri dan hendak beranjak.


"Okey, Makasi ya, Bang paketnya saya terima! "

__ADS_1


"Nih, ongkirnya! "


ucap Jihan sejelas mungkin, sambil menyerahkan beberapa lembar uang.


"Terimakasih ya, Mbak, jangan lupa bintang lima ya, like dan komen positif nya di tunggu, "


"Ini, tips nya saya terima ya. "


Pamit Rojali kemudian berlalu tanpa menoleh ke sang Mama.


Begitu pun Mirna, ia bersikap seolah santai dengan menyeruput dan sesekali mengaduk minumannya.


Sekuat tenaga ia menahan keinginan nya itu.


Untuk tidak menatap anak lelakinya.


Meski sebenarnya matanya sudah panas dan perih.


Begitu pelik takdir mempermainkan mereka.


Semua karena dosa dirinya dan pria yang kini menjadi suaminya.


"Mama yang sabar ya, "


"Sekarang kita ke butik aja dulu,nanti siangan kita jalanin rencana kedua kita, "


"Katanya, Mama mau beliin baju buat calon mantu, "


goda Jihan, sambil menaik-naikkan alis nya.


Seketika, Mirna pun bersemangat lagi.


Ia pun tersenyum tipis.


"Yaudah yuk, kita cari baju buat calon kakak ipar kamu, "


semangat Mirna terlihat dari pancaran matanya yang berbinar.


"Kita isi perut dulu ya, Adek laper, Ma, "


rajuk Jihan sambil memegangi perutnya.


"Ih, kamu tuh ya, bikin semangat Mama buyar dan ambyar...! "


cebik Mirna sambil memukul kecil tangan anak gadisnya itu.


๐Ÿ’Ayah adalah sosok lelaki yang mencintai kita dalam diam.


Sesosok lelaki yang tak pandai menangis.


Ia juga sesosok lelaki yang mengerti akan hati, ketika yang lain tidak memahami.


(Selamat hari Ayah)


(Untuk seluruh Ayah terhebat)


๐Ÿ’


Dukung otor mu terus ya,


Wahai, sayang-sayangkuh... ๐Ÿ’‹๐Ÿ’ž

__ADS_1


__ADS_2