Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Hijrah(kehidupan baru)


__ADS_3

___๐Ÿ’–๐Ÿ’–___


"Sepi ya Pa,gak ada anak-anak...," lirih Mirna setelah mereka berdua sampai di meja makan.


Adiguna merapatkan kursi roda sang istri agar dekat dengan dengan nya.


"Biarlah kita menghabiskan waktu berdua,bukankah sudah lama aku tidak menemanimu?" ucap Adiguna dengan senyum tipisnya.


Blush,kedua pipi Mirna sepertinya merona.


Tentu ia sangat senang,ia sangat merindukan sosok gagah ini bersikap hangat kepadanya.


"Mama,hanya merindukan mereka,"


"Baru dua hari anak dan menantu kita menginap,tapi Papa malah mengusir mereka," rajuk Mirna.


"Hei,aku tidak mengusir anak dan menantu mu sayang,"


"Kau tau,semenjak menikah mereka berdua belum pernah malam pertama,"kekeh Adiguna sembari membalik piring di atas meja.


Adiguna mengusir halus dua orang pelayan yang hendak melayani mereka.


"Kalian boleh pergi,dan kabarkan kepada seluruh pekerja di sini,bahwa pada jam 9 malam,berkumpulah di ruang kerja ku," titah Adiguna kepada kepala pelayan di rumah megah bak istana itu.


Dan kepala pelayan pun mengangguk pelan seraya undur diri.


"Papa,hanya memberi mereka berdua tiket bulan madu,itu pun ku ambil dari uang restoran,"


"Karena hanya uang mu yang halal sayang,"ucapnya lagi kali ini dengan mimik wajah yang sendu.


" Maaf,bila aku telah menggunakan uang mu,tanpa memberi tahu,"sesal nya.


"Bukan masalah Pa,gunakanlah,"


"Justru,aku senang mendengarnya,kenapa Mama malah tidak kepikiran ya,"


"Mama jadi merasa bersalah sama mereka," tutur Mirna kembali menerawang.


"Sudahlah sayang,semoga mereka pulang nanti membawa kabar baik,"ucap Adiguna berusaha menenangkan hati Mirna.


" Aamiin,"sahut Mirna sumringah,karena ia sedang membayangkan akan segera menimang cucu.


"Sayang,sini biar aku yang ambilkan,kamu mau makan apa?"

__ADS_1


"Disini ada,semur kambing,sop iga domba muda,sambal goreng baby cumi,dan...," ucapan Adiguna terpotong karena sepasang mata indah di sampingnya telah berkaca-kaca bahkan sebentar lagi bendungannya akan jebol.


"Aku menawarkan mu menu,kenapa kau malah menangis,sayang?"


tanya nya lagi dengan raut wajah bingung.


"Aku,berjanji akan segera sembuh,agar kau tak perlu melayani ku seperti ini,"lirih Mirna berusaha menahan bendungannya agar tak jebol,atau banjir bandang air mata takkan terelakkan lagi.


" Kau pasti sembuh,dan pada saat itu pun aku akan tetap melayani mu."Adiguna berucap seraya mengambilkan nasi serta lauk,lalu meletakkannya di piring.


Ia menyendok makanan di atas piring keramik itu,kemudian ketika hendak menyuapkannya ke mulut Mirna,wanita itu menahan tangannya.


Mata mereka pun beradu pandang."Izinkan aku menebus dosa-dosaku,beri aku kesempatan untuk menjadi suami yang baik,dan terbaik untukmu,"ucap Adiguna serak karena rasa akan sesal itu masih tersisa,rasa yang akan terus menghantui nya seumur hidup.


Meskipun nanti Mirna dapat berjalan lagi,bayangan kejadian yang membuat istrinya tersiksa itu tidak akan pernah sanggup di lupakan olehnya.


Mirna baru saja hendak membuka suara tapi terjegal oleh ucapan lain dari pria arrogan yang mendadak lembut di hadapannya ini.


"Jadikanlah kehadiran ku memiliki arti untukmu,setidaknya aku akan merasa berguna."


tambahnya lagi dengan suara bergetar kini.


"Kehadiranmu sangat berarti Pa,meski kau tak melakukan apapun,"


"Cukup berada di sisiku,dan jangan membuatku cemas,itu saja." Kemudian Mirna meraih tangan yang tengah memegang sendok,dan mengarahkan ke mulutnya.


*******


Waktu telah menunjukkan tepat jam sembilan malam.


Dan para pekerja di rumah mewah berlantai tiga itu,telah berkumpul di ruang kerja bernuansa abu-abu itu.


Tak ada satupun yang bersuara diantara mereka,bahkan ketika bernafas pun mereka sangat berhati-hati.


Mereka yang telah lama bekerja pada keluarga Adiguna Brotoseno,telah hafal bagaimana tabiat sang majikan.


Bahkan,terselip kebingungan yang hakiki di dalam hati masing-masing pekerja yang terdiri dari;dua orang tukang kebun,tujuh orang pengawal/penjaga yang juga suka merangkap sebagai sopir,satu lagi sudah meninggal karena kecelakaan tempo hari.Tiga orang koki atau juru masak,empat orang yang bertugas membersihkan seisi rumah serta mencuci,serta satu kepala pelayan yang menangani dan mengatur rumah tangga.Sehingga mereka yang berjumlah tujuh orang perempuan dan sepuluh orang laki-laki,telah mengatur posisi menjadi dua kubu,sebelah kanan yang bekerja di luar dan sebelah kiri yang bekerja di dalam.


"Norma!" panggil Adiguna kepada kepala pekerja yang berusia tak jauh darinya itu.


Wanita paruh baya yang bertugas mengatur semua,mulai dari pekerjaan,keuangan rumah tangga,hingga gaji para pekerja.


Ia juga memiliki ilmu bela diri meskipun tugasnya di dalam rumah.

__ADS_1


Wanita itu menghampiri tuannya yang duduk bertumpu dengan kedua siku di atas meja kerja nya.


"Ada apa Tuan?"tanya Norma dengan kepala menunduk tanpa berani menatap langsung sang majikan.


" Jangan panggil seperti itu lagi,karena mulai malam ini aku bukanlah tuan mu,"ucap Adiguna tidak sekaku biasanya.


"Tapi,Tuan_kenapa dan apa salah saya?" tanya Norma terkesiap,pikirnya ia tak melakukan kesalahan apapun.


"Kalian semua sudah bekerja dengan baik," Adiguna menjeda sebentar ucapannya kemudian membuka lacinya,lalu mengambil beberapa amplop coklat berukuran sedang.


Semakin bertanya-tanyalah si Norma,ia benar-benar tak mengerti,kalau memang ini waktunya gajian,tentu tuannya tidak akan memberikannya secara manual.


Karena tuannya itu telah memberikan kartu ATM khusus untuk keperluan rumah tangga dan gaji semua pekerja.


"Berikan padaku,kartu ATM yang kau pegang selama ini," pinta Adiguna kepada wanita paruh baya yang ada di sebelah mejanya ini.


Norma pun meletakkan kartu yang berwarna gold itu.


"Baiklah,terimakasih kalian sudah berkumpul di sini,sebelumnya saya Adiguna Brotoseno ingin meminta maaf kepada kalian semua_" Adiguna menjeda ucapannya sesaat,kemudian ia menunduk dan menghela nafas.


Para pengawal yang sudah mengetahui semuanya hanya bisa menunduk dalam,sedangkan para pekerja di rumah saling tatap satu sama lain bergantian karena bingung.


Bagaimana mereka tidak merasa aneh,selama bertahun mereka bekerja bersama sang tuan,tak sekalipun mereka mendengar kata keramat itu.


"Maaf,karena hari ini adalah hari terakhir kalian bekerja di sini,dan ini gaji beserta bonus untuk kalian,"


Begitulah satu persatu Adiguna memanggil pekerjanya sambil menyerahkan gaji mereka,berjabat tangan sambil meminta maaf dan mengucapkan terimakasih secara langsung.


Karena ia selalu bersikap dan bertindak seenaknya terhadap para pekerjanya.


Di mulai dari pekerja di rumah,kemudian para pengawal setia nya.


Mereka terharu,tersentuh dan sangat bersyukur atas perubahan yang terjadi kepada tuan mereka.


"Kami akan pindah dari sini besok,mungkin lebih tepat bila di katakan hijrah ke kehidupan yang lebih baik dan benar.Saya mohon doa dari kalian semua,karena kami akan mengganti semua identitas."


"Kalian bisa mengemasi barang-barang kalian,setelah itu beristirahatlah.Kepulangan kalian ke kampung halaman sudah di atur dan di persiapkan oleh asisten sekaligus pengawal pribadiku,Wiryo.


Saya berjanji kalian akan aman dan terlindungi."


"Hiduplah dengan layak dan bahagiakan lah keluarga kalian." Adiguna lantas berdiri,maju ke depan meja.Kemudian ia menatap satu persatu para pekerjanya,lalu terlihat ia membungkukkan sedikit tubuhnya.


Semua yang ada di ruangan itu terkesiap kemudian,mereka menirukan hal yang sama.

__ADS_1


Udah ah melow nya,besok kita ngintipin yang lagi bulan madu๐Ÿ˜‰


jempol dulu dong biar mak semangattt.


__ADS_2