Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Menjalankan misi


__ADS_3

🌴Sampaikan bahwa yang benar itu adalah benar.


Meskipun akhirnya kau akan di musuhi.


Jangan mengenakan topeng untuk mencari teman, tunjukkanlah diri mu apa adanya.


🌴


***~~~***


Pagi kali ini di sambut dengan warna kuning keemasan di ufuk timur.


Sang mentari sedikit demi sedikit mencuatkan dirinya melalui celah awan.


Suara burung yang berkicau senang,di sela kegiatan mereka membuat sarang di dahan pohon atau di lubang angin rumah-rumah warga.


Burung-burung mini itu yang biasa di sebut burung gereja.


Seakan riang karena beberapa hari kemarin mungkin mereka tak sebebas ini.


Ya, karena intensitas hujan yang lumayan padat mengguyur beberapa kota dan daerah serentak.


Bahkan menyebabkan beberapa daerah terkena banjir dan tanah longsor.


Bersyukur, daerah sini tidak banjir, entahlah kalau yang kawasannya sekitar bantaran kali.


Sampai kapan para warga akan mengerti, agar tak membuang sampah di aliran sungai itu.


Padahal, setiap tahunnya bukan hanya mereka yang susah karena terkena dampaknya.


Tapi juga beberapa tetangga kampung sekitar mereka.


Nampaknya kesadaran itu susah di dapati.


Selagi pola fikir masih mengedepankan ego dan kepentingan sendiri.


___®®___


Suara motor bergaung memekakkan telinga.


Untung saja jarak rumah nya dengan tetangga agak berjauhan.


Sehingga, tidak ada yang terganggu dengan aktifitas rutin dari seorang tukang ojek online itu.


Lelaki yang rambut gondrongnya di kuncir separuh ke belakang.


Terlihat sedang memainkan stang motornya.


Sesekali matanya mengawasi asap yang keluar dari knalpot motor tua nya itu.


Inilah rutinitasnya, seminggu sekali untuk mengecek keadaan dan stabilitas motornya.


Karena, meskipun motornya sudah legendaris.


Asalkan terawat, maka tenaga dan eksistensi nya masih bisa bersaing dengan motor-motor keluaran terbaru.


Yang konon katanya,hanya menang di body tapi larinya macam keong saja.

__ADS_1


(Sok tempe lu thor#timpukpakebusi)


Lelaki berkaus oblong hitam longgar itu, segera menyambar jaket hijaunya.


Warnanya lebih terang dari jaket yang biasanya di pakai.


Ternyata, itu jaket yang baru saja di ambil kemarin sore di kantor operasional yang bertempat di daerah kemang.


Para pengemudi itu tak perlu membayar, hanya saja perusahaan akan memotongnya dari saldo para driver setiap harinya sampai harga jaket atau helm itu lunas.


Lelaki berhidung mancung itu menyeruput sisa kopi hitamnya.


Kemudian ia mengembalikan gelasnya ke dapur dan meletakkannya di dalam wastafel tempat pencucian piring.


Baru saja ia hendak mengunci pintu rumahnya, yang bergaya rumah panggung betawi tersebut.


Handphone di dalam saku jaketnya berdering.


(Jihan?)


📱"Iya,nih Abang mau otewe, "


📱"Iya, iya, Kinoy bawel! "


Rojali kembali meletakkan handphone nya ke dalam saku.


Kemudian ia menstarter si Jambul dan menjauh dari kampung yang asri itu.


Hari ini ia libur lagi untuk mengangkut para customer yang mungkin membutuhkan jalur cepat sampai ke tujuan.


Karena misinya saat ini, adalah meminta restu dari kedua orangtuanya, sebelum ia lanjut pada step berikutnya.


Dan, memuluskan rencananya.


Ia melajukan si roda empat ke lokasi di mana ia dan sang mama akan bertemu setelah lima tahun di pisah oleh keadaan.


Rasa tak sabar dan ingin cepat sampai, tentu saja.


Rindu itu sudah membuncah dan meluber kemana-mana.


Ia juga tak sabar ingin meminta restu secara langsung dan menceritakan tentang bidadari yang telah mencuri hati nya itu.


Tapi, apa mau di kata...


Jalanan ibukota, selalu tersendat-sendat, macam metode pembayaran hutang si tetangga sebelah.


Bikin esmosi jiwa merontah-rontah.


(Eh, kok curhat)


Akhirnya,sampailah si Jambul membawa sang tuan ke tempat tujuannya.


Sebuah restoran mewah yang menyajikan makanan khas indonesia dan western.


Rojali memarkirkan motornya.


Di tempat yang sudah di sediakan pemilik resto dan di jaga oleh pria berseragam khusus.

__ADS_1


Penjaga itu melongo sesaat,setelah memperhatikan secara seksama. Ia kemudian bertanya.


"Eh,Bang,Bang,sebentar..."


"Perasaan resto ini, gak ada kerjasama


gopud. "tanya si penjaga parkir menghentikan langkah Rojali.


" Lha emang? "ucap Rojali tenang sambil menaikkan sebelah alisnya.


" Ya, si Abang ngapain kemari kalo


gitu? "


tanya si penjaga parkir lagi.


"Saya mao sarapan, "


"Emangnya, saya gak boleh makan di sini? "


tanya balik Rojali dengan bersidekap.


"Oohh, "


"Eh, ya boleh, boleh, silahkan, "


"Tapi, jaketnya...? "


Kikuk si penjaga sambil menggaruk-garuk tengkuknya.


"Ya, saya pake dong, kan pasti di dalem dingin tuh, "


"Saya takut masuk angin kalo kena AC, soalnya perut saya kosong, "


lirih Rojali sambil memasang wajah polosnya.


"Oh, gitu ya? "


"Yaudah, masuk aja dah, silahkan. "


Si penjaga parkir itu pun menggelangkan kepalanya,kemudian meninggalkan Rojali untuk mengecek beberapa kendaraan yang terparkir di sana.


(Cih,gak bisa kena AC tapi sarapan di resto mewah, harusnya di warteg aja sonoh!)


Si penjaga parkir sekilas melirik, sambil tersenyum miring ke arah Rojali yang sudah nampak punggungnya.


Dengan santai dan tenang, lelaki tersebut melangkah ke dalam restaurant tersebut.


Seperti orang yang sudah sering dan biasa datang ke tempat eksklusif.


Ia terus melangkahkan kaki nya ke depan.


Meski beberapa mata tak lepas memperhatikannya.


Sejak dari pintu masuk pertama, hingga ia menaiki tangga.


Kangen gak, otor aja kangen...

__ADS_1


Map ye baru nongol lagi.


Plis tetep dukung dan kawal Bang Ali sama Fatimah sampe halal ye🥳


__ADS_2