
🌾Orang tua tidaklah selalu benar.
Anak tidaklah selalu salah.
Bukankah ada pepatah yang mengatakan,
"**Ambillah kebaikan, meskipun ia keluar dari pantat ayam. "
🌾**
***~~~***
"Yaah, lonyot kan mie gue, ah! "
pekiknya, seketika ia mematikan kompor,kemudian menatap nanar makanan instan yang tadi bentuk nya keriting itu, tapi sekarang sudah tidak terlalu keriting.
Kemudian Rojali menuangkannya dengan terpaksa ke dalam mangkuk yang sudah siap dengan bumbunya.
Mau di buang sayang, mubazir namanya.
Tapi diliat juga bikin gak berselera.
Rojali beranjak dari dapur menuju ruang tamu, dimana di situ terletak sofa panjang dan meja.
Kemudian dia meletakkan mangkuk yang berisi makan malamnya itu di atas meja.
Setelah ia meletakkan bokongnya di sofa yang sudah nampak usang itu, kepalanya pun menoleh ke kanan dan ke kiri.
Setelah ia menemukan benda yang di cari, ia pun menekannya dan menyala lah, sebuah kotak persegi 19 inchi di hadapan pemuda itu.
"Sambil nonton bola ah,
biar rada sedep, "gumamnya sambil memencet tombol-tombol yang kecil itu pada remote dalam genggamannya.
Setelah puas menggonta-ganti channel televisi sekian detik, yang pada kenyataannya membuat mi dalam mangkuknya semakin mekar dan kuahnya pun menyusut.
Entah bagaimana lagi rupanya, sangat sulit bagi author untuk menjabarkannya.
Pemuda yang rambut gondrong nya hanya diikat separuh, dan hanya mengenakan kaos oblong dan kain sarung itu.
Kemudian mengangkat kedua kakinya ke atas sofa dan melipatnya.
Ia pun mulai menyantap makan malamnya dengan syahdu, sambil sesekali netra nya yang sendu itu menatap siaran kesukaannya, di layar cembung tersebut.
Sesekali ia nampak menghentikan suapannya, karena terpaku adegan kejar-kejaran dan sengkat menyengkat,karena sebuah benda bulat yang menggelinding di tengah lapangan hijau tersebut.
Lama sekali ia terlihat terpekur, pandangannya kosong kini.
Kemudian terlihat ia mengerjap beberapa kali.
Dan menyeka ujung matanya dengan punggung tangan.
Ia memandangi mangkuk yang isinya hampir habis itu.
Kemudian meletakkannya begitu saja di meja dengan agak kasar.
Ia nampak mengusap kasar wajahnya, kemudian memegangi kepala nya dengan kedua tangan.
"Kenapa ini yang ku dapat,dari mendalami ajaran nabi MU ya Allah?"
lirih nya begitu pelan dan sedikit tercekat.
"Rindu ini menyiksa Ali mak! "
"Ali kangen masakan emak, "
"Ali kangen di jewer sama emak,"
"Ali kangen emak yang cerewet, yang kalo lagi ngomel,ocehannya melebihi seribu kata, "
__ADS_1
lirihnya dengan isakan kecil.
(Ehm, bisa jadi penulis tu si emak.)
(Sstt, diem deh, lagi sedih juga! )
Kini matanya menerawang pada kilas balik, kejadian lima tahun yang lalu.
Dimana ia melihat air mata dan isakan dari seorang perempuan, yang sudah mengeluarkan dia dari rahimnya.
Dengan penuh perjuangan.
Karena, tiga puluh tahun yang lalu, Rojali terlahir dalam keadaan sungsang.
Alias bokong duluan.
Bagaimana ia bisa faham akan perjuangan sang emak?
Karena ketika emak melahirkan adik perempuan Rojali, keadaannya sama persis, dan kebetulan Rojali menemani emaknya, menggantikan posisi sang bapak yang bekerja di luar kota.
Saat itu usia Rojali, sekitar sebelas tahun.
Rojali ingat bagaimana perempuan itu membelanya, dari amukan sang bapak.
Hanya karena ia tak mau meneruskan usaha yang dirintis sejak Rojali masih bayi.
"Dasar anak tak tau balas budi! "
"Lu di besarin sampe segini gede, bukannya buat ngelawan gua! "
hardik seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun.
"Maafin Ali Pak, "
"Tapi Ali..., "
"BUG! "
Belum sempat anak muda itu memberi penjelasan kepada sang bapak yang sedang terbakar api amarah, tapi sebuah tamparan dan pukulan, sudah mendarat di wajah dan juga perut sang anak.
Seorang perempuan berambut ikal pendek berlari sambil berteriak, melihat anak lelaki satu-satunya jatuh tersungkur.
Dengan darah yang mengalir dari hidung dan juga bibir.
"Apa bapak mau membunuh anak kita, hah?! "
teriaknya dengan mata yang melotot tajam kearah suaminya, yang masih berusaha mengontrol deru nafas nya yang memburu.
"Seharusnya jangan kau lahirkan anak pembangkang seperti dia! "
"Sadarkah kau, perjuanganmu melahirkannya sia-sia? "
"Lihatlah dia, coba kau lihat! "
Teriak laki-laki paruh baya itu di wajah sang istri yang berlutut sambil memeluk sang anak.
"Aku tidak pernah sekalipun menyesal telah melahirkannya, "
"Tidak akan pernah, "parau nya menahan isak yang terganjal di ujung tenggorokan, sambil menatap sang anak yang tengah mengusap darah yang tak henti mengalir dari hidungnya.
Mungkin tulangnya patah.
Netra keduanya saling bertemu, menatap dengan sendu,mengiris,menembus hingga ke relung hati terdalam.
Perempuan paruh baya yang masih nampak guratan-guratan kecantikannya, meski usianya sudah kepala lima itu.
Kini,ia bangkit dan menghampiri suaminya, yang masih berdiri mematung dengan sorot mata tajam dan tangan mengepal.
Ia genggam lembut kepalan tangan tersebut, dan satu tangannya lagi, di gunakan untuk mengelus bahu suaminya itu.
__ADS_1
"Bicarakanlah baik-baik, Pak, "
"Jangan biarkan emosi menguasai mu, kelak akan membuatmu menyesal nanti nya, "
bujuknya penuh kelembutan.
Betapa sakit dan terluka hatinya, menyaksikan dua laki-laki kebanggaannya saling beradu argumen .
Hingga berakhir menjadi saling menyakiti seperti saat ini.
Meski terlihat secara lahir, sang bapak lah yang menyakiti sang anak dengan memukulinya, tapi jauh di dalam batinnya, sang bapak juga merasakan sakit hati yang teramat sangat.
Hatinya sakit karena harapannya terhadap anak diluar ekspektasinya.
Ia sakit, karena harus berakhir dengan melukai sang anak sebagai pelampiasan emosi atas kekecewaannya.
Karena itu alangkah baiknya ia mengusir sang anak, ketimbang menyakitinya lagi.
Meski keputusan di tentang keras sang istri dan juga anak perempuan satu-satunya.
Tapi mereka tidak bisa berbuat banyak, karena mereka masih bergantung kepada laki-laki arogan tersebut.
**
Jam di dinding ruang tamu, menunjukkan angka 2,30 wib.
Terlihat seorang pemuda yang tertidur di sofa, dengan memeluk erat tubuhnya sendiri.
Terdengar suara sayup-sayup dari benda yang menyala di hadapan nya.
Penampakkan yang sering terjadi, kebiasaan anak muda satu ini,yang sudah tidak bisa di bilang muda lagi sebenarnya,yang tertidur sambil di tonton televisi.
Ia menggeliatkan badannya, berbalik ke kiri, kemudian berbalik lagi ke kanan.
Berusaha mencari posisi ternyaman, hingga...,
"Bruggh"
"Ough, "
"Pinggang gue, "
Rojali mendesis sambil meraba-raba pinggang dan bokongnya yang ngilu, karena tiba-tiba mendarat di tempat yang keras.
"Kenape segala ketiduran di sofa dah ah, "
Ia berusaha bangun dan kembali duduk di sofa, mengumpulkan sisa nyawanya yang masih beterbangan.
Rojali pun menengadah ke atas, melihat benda bulat dengan lingkaran angka dan jarum.
"Alhamdulillah, gue jatoh dari sofa pas banget jam segini, "monolognya seraya bangkit, mengambil mangkuk dan gelas yang berserakan di meja dan beranjak dengan perlahan ke dapur.
Ia melupakan pergolakan batinnya semalam.
Beranjak ke kamar mandi, thaharah dan istinja kemudian berwudhu.
(Dalam ilmu fiqih, istinja adalah membersihkan sesuatu (najis) yang keluar dari qubul atau ***** menggunakan air atau batu dan benda sejenisnya yang bersih dan suci)
(Sedangkan thaharah adalah bersuci untuk menghilangkan segala kotoran baik dibadan, pakaian ataupun tempat ibadah agar sholat serta ibadah seorang muslim menjadi sah.)
Rojali berniat melaksanakan solat sunnah di sepertiga malam atau biasa di sebut juga tahajjud.
Ia akan mengadukan segalanya kepada sang pemberi kebahagiaan.
Hai...!!
Dukung otor remahan ini terus ya ☺!
Apalah aku tanpa kalian.
__ADS_1