Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Balada kecoa ngesot


__ADS_3

___πŸ’žπŸ’ž___


"Aakkhhh...!"


Kyaaakkkh...!"


"Pergi!"


"Pergi...!"


"Ihh...!"


Fatimah terus menjerit sambil mengibaskan tangannya dan menghentakkan kaki ke lantai.


Kemudian ia berlari ke ujung kamar hingga terjerembab karena tersandung gaunnya yang panjang.


BRUKK...!


"Aww...!"


"Astagfirullah,Dek!"


"Kamu sampe segitunya,"


Pekik Rojali dengan panik ia langsung berlari menghampiri Fatimah yang terjerembab di atas lantai.


Ia membangunkan sang istri yang kerepotan dengan segala pernak-pernik pengantin.


Yang masih melekat di gaun dan kepalanya.


"Kamu ngeliat apa sih?"


"Abang jadi parno nih?"tanya Rojali sambil melihat ke sekeliling kamar.


" I,itu...tadi Adek liat_"jawab Fatimah dengan suara tersendat.


Kemudian matanya membola lagi.


"Liat apa?"


Rojali ikutan panik melihat ekspresi Fatimah yang ketakutan.


"ITUU...!"


"AAA...!"


Pekik Fatimah menunjuk ke salah satu tembok kamar.


Kemudian dia beringsut naik ke atas tempat tidur.


Karena gaun yang panjang dan lumayan berat,belum lagi selendang yang melapisi kerudung juga panjang dan berpayet.


Alhasil,Fatimah pun dengan susah payah bergerak merangkak hingga ke pojokan.


Di sana ia melihat sang suami berusaha untuk menangkap makhluk menyebalkan yang sekaligus sangat menjijikkan bagi Fatimah.


Bahkan,ia merasakan merinding dari ujung kaki sampai kepalanya.


Terbayang kembali kejadian beberapa bulan lalu,ketika masih tinggal di kos-kosan sewaktu bekerja di pabrik.


Seketika ia menutup wajahnya,dan menggeleng keras.


Berusaha menghalau ingatan dan bayangan kejadian itu.


"Cepetan dong,Bang!"


"Nanti dia terbang kesini!"


"Akh...tu kan!"


Setelah menjerit kemudian Fatimah menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.


"Udah ketangkep,Dek,"


"Ini!" seru Rojali sambil mengangkat tangannya yang sedang memegang hewan kecil pengganggu itu.


Fatimah mengintip dari balik selimutnya.


"Ihh...buang,sanaaa!"


"Abang kudu cuci tangan yang bersih banget pokoknya,atau_"


"Jangan pernah balik ke kamar ini!"


Pekik Fatimah kemudian ia memasukkan kembali kepalanya ke dalam selimut.

__ADS_1


Di luar kamar Ayah dan Ummi serta si kembar ternyata sedang gusar.


"Lu berdua pade masuk kamar aje sono deh ye"usir Ayah pada si kembar.


" Gak ah,"


"Iya,Yah gak mau,"


"Kita mau tau itu Kakak kenapa?"


ucap mereka berdua tak terima di usir ke kamar.


"Ih,anak kecil gak boleh kepo!"


"Hus sana masuk kamar!"


Kali ini ummi yang mengusir dan mereka pun menurut meski dengan bibir yang mencebik dan muka yang di tekuk.


Bahkan mereka sempat menoleh sebentar menatap nanar pintu kamar sang kakak tersebut.


"Kira-kira Kakak Fatimah kenapa ya Far?"tanya Fadlan ke saudara kembar nya yang hanya selisih 7 menit itu.


"Tauk!"jawab Farhan singkat sambil mengangkat kedua bahunya.


Mereka pun melangkah masuk kedalam kamar dengan lunglai.


"Dobrak aja deh,Yah,"


"Rojali gak boleh maksa Kakak kayak gitu dong," ucap ummi gusar mendengar teriakan melengking dari dalam kamar putrinya itu.


"Iye,Mi,"


"Ayah juga kagak terima kalo Rojali maen kasar ame, Fatimah,"seru ayah dengan rahang yang sudah mengeras.


Kemudian Ayah Rojak memasang kuda-kuda untuk mendobrak pintu.


Baru saja ayah akan menabrakkan bahunya,tiba-tiba...


Krekk,


" Allahu Akbar!"


"Astagfirullahal adzim!"


"Ayah sama Ummi?"


"A,ada apa ya?"tanya Rojali kikuk dengan melihat bergantian pada kedua orang di hadapannya itu.


" Ah,itu tadi Ayah denger Fatimah ngejerit,kenape?"


jawab ayah setelah kagetnya sirna.


"Iya,Nak kalo Fatimah belom siap jangan di paksa ye," lirih ummi memohon kepada sang menantu padahal tidak tau kejadian yang sebenarnya.


"Di paksa?"


"Oh,Ya Allah,"


ucap Rojali lirih sambil mengelus keningnya, setelah tau maksud yang di pikirkan kedua orang tua dari istrinya itu.


"Gak ada adegan pemaksaan kok,Yah,Mi_"


"Cuma ada adegan kabur-kaburan ama nyungsep doang," jelas Rojali dengan terkekeh geli,membayang kan sang istri yang nyungsep tanpa ampun hingga susah untuk berdiri.


"Tuh,kan!"


"Berarti di paksa namanye,ampe kabur gitu!"


"Ampe nyungsep pula!"seru ayah tak terima membayangkan apa yang terjadi kepada putrinya.


" Itu namanya KDRT Nak,kok kamu gitu si sama putrinya Ummi?"lirih ummi hampir menangis.


"Eh,eh...,"


"Ma,maksud Rojali bukan begitu,aduh,"


"Gi,gini,Yah,Mi...Fatimah tu kabur gara-gara ini," jelas Rojali agak terbata karena panik melihat wajah kemarahan dari keduanya.


Karena tak ingin kesalahpahaman ini berlanjut tak tentu arah.


Rojali pun mengangkat tangannya,menunjukkan siapa tersangka utama dan penyebab kegaduhan di sore menjelang maghrib ini.


"Ini nih,yang bikin Fatimah kalang kabut tadi," jelasnya sambil menunjukkan hewan itu ke depan kedua mertuanya yang sudah emosi barusan.


"Ihh,geli...buang sana!" Pekik ummi kemudian menyembunyikan wajahnya di belakang bahu ayah.

__ADS_1


"Ya Salam,pantesan aje gaduh bener,"


"Fatimah ketemu musuh bebuyutannye!"


"Kirain kenape,"


Kekeh ayah kemudian tertawa geli.


Sebenarnya ayah menertawakan pikiran yang sudah berkelana di otaknya tadi kan?


Ish,makanya jangan su'udzon aje...


Rojali pun ikut terkekeh,kemudian berlalu dari keduanya.


Ummi pun masuk ke dalam kamar hendak melihat keadaan putrinya itu.


Karena ia tau pasti Fatimah sedang kurang baik setelah bertemu musuhnya itu.


"Ya Karim,sampek kerebongan gitu si Kakak!"pekik ayah melihat seluruh tubuh putrinya terbungkus oleh selimut tebal.


Kemudian ayah segera menarik selimut itu.


" Kamu bisa kelagepan Kak,"ucap Ayah lembut setelah berada disisi tempat tidur.


"Iya,kan udah di buang sama suami kamu tuh,"


"Udah yuk bangun,buka dulu ini pretelan di baju kamu,"


"Sampek keringetan gini,Ya Allah,"ucap ummi lembut membangunkan putrinya pelan.


Fatimah malah terisak,kemudian ia berkata.


" Kenapa bisa ada kecoa si di kamar Kakak?"


"Huaa...padahal kan udah rapi gini,"


pekiknya,akhirnya tangis itu keluar juga setelah ia tahan sekian lama tadi.


"Duh,Ayah gak tau juga deh,"


"Padahal udah Ayah semprot-semprot kan semalem,"


"Darimane tu binatang datengnye?"sesal ayah berkata lirih melihat putri seperti itu ia sungguh tak tega.


" Ude,Kakak tenang yang penting sekarang gak ada kan,"


"Tu suami kamu,"


"Sekarang ganti bajunya dulu,abis itu bersih-bersih,sebentar lagi maghrib."


Setelah menenangkan sang putri,ummi pun beranjak pergi.


Fatimah hanya mengangguk sekilas kemudian melirik suaminya.


Ayah berlalu melewati Rojali kemudian menepuk pundaknya pelan sambil menatap penuh arti.


Setelah mengunci pintu kamar,Rojali menghampiri wanita cantik miliknya itu.


Matanya berkaca-kaca,dan wajah merona nya sedikit pucat.


"Udah ya,tenang,"


"Sekarang,Abang bantu kamu ganti baju ya,"ucap Rojali lembut sambil mengusap kepala yang masih berbalut kerudung itu.


Fatimah lagi-lagi hanya bisa mengangguk pasrah.


Tenaganya seakan luruh akibat kejadian yang tak diinginkannya sesaat tadi.


" Permisi istri cantik nya Abang ganteng,"ocehnya sambil mempreteli aksesoris yang menempel di kepala Fatimah.


Fatimah hanya melirik sekilas dan tersenyum tipis.


"Nah,gitu dong!"


"Senyum Adek kan manis bener,"goda Rojali sambil mencuil buah plum yang menggoda itu.


Fatimah sontak tersenyum malu.


Dirinya pasrah kini,membiarkan lelaki asing yang kini sudah sah melihat apapun yang ada pada dirinya.


Ia membiarkan tangan kokoh itu melepas satu persatu benda yang melekat pada tubuhnya.


Dukung chibi terus ya sayangku semuaaa...


Biar semangat nih belah duren nya,wkwkwkwk.

__ADS_1


__ADS_2