
___💞💞___
"Emmphh...!"
"Abang?!"
Seketika mata yang sedang terpejam itu membola paksa.
Karena ada yang hangat dan basah mengganggu tidurnya.
"Maaf,ya...Adek jadi bangun,"sesal Rojali dengan meringis pelan.
Fatimah hanya mengulas senyum yang membuat wajah polos itu semakin menggoda.
Ia mengulurkan tangan memberanikan segenap hatinya untuk menyentuh wajah rupawan di hadapannya kini.
Di tengah cahaya yang temaram,siluet tubuh tegap itu begitu menggoda untuk di rengkuh.
Apa karena hawa kamarnya yang menjadi dingin sekarang?
Lagi pula,lelaki tampan di depannya ini sudah sah untuk nya bukan?
Jemari lentik dan ramping itu pun mulai menyusuri garis tegas di wajah itu.
(Kenapa hidungnya kayak pinokio?
Pasti enak kalo di tarik.)
"Aww...!"
Rojali mengaduh pelan ketika jemari lentik itu dengan jahilnya mencapit.
"Eh,maaf_"
(Kenapa malah narik beneran?
Sepertinya pikiranku mulai jalan-jalan.)
Sambil terkekeh pelan Fatimah mengelus hidung lancip itu.
Kini jemarinya tergoda untuk meraba alis yang tebal dan hitam.
Lalu turun ke pipi,hingga ibu jarinya menyentuh bibir yang tipis dan sensual itu.
Rojali mendiamkan jemari lentik itu memainkan seisi wajahnya.
Bahkan ia terlihat sangat menikmatinya,gerakan halus yang menyusuri setiap lekuk wajahnya.
Nafasnya mulai terdengar memburu.
Pertanda detak jantungnya yang bekerja lebih cepat dari biasanya.
Tubuhnya seketika memanas dan sesuatu di bawah sana terasa sesak.
Karena merasa merinding disco di sekujur bulu roma nya,dengan cepat ia mengecup ibu jari yang singgah di depan bibir nya.
Fatimah terkesiap mendapat perlakuan manis itu.
Tanpa di sadari ia menggigit bibir bagian bawahnya.
(Kenapa ia malah menggodaku?
Padahal aku sudah mati-matian menahan pasak yang menegang sedari tadi.
Dia malah mengalirkan listrik tegangan tinggi.)
Fatimah yang tersadar jika sudah membangunkan yang seharusnya tertidur.
Sontak menarik tangannya dari wajah yang kata empunya ganteng banget itu.
"Maaf,Bang_Adek gak maksud...,"
"Emhpt...!"
Ucapan Fatimah terjeda karena bibirnya sudah di bungkam oleh pagutan lembut yang tiba-tiba.
Pagutan mendadak yang semakin lama semakin menuntut.
Pertemuan bibir yang menagih menjadi lum*at*an,kemudian berubah menjadi sesapan dan gigitan-gigitan kecil.
Bergantian merasai atas dan bawah tak berkesudahan.
Hingga akhirnya dua tangan ramping itu mendorong tubuh kekar yang menekannya.
Kemudian,ia menghisap oksigen sebanyak-banyaknya.
"Adek si mancing-mancing,"ucap Rojali sambil menyapu bibir yang basah dan sedikit bengkak karena ulahnya itu.
Wajah yang merona itu menunduk,
malu...
Tangan yang di gunakan untuk mendorong dada bidang di hadapannya.
__ADS_1
Telah di genggam dengan erat oleh si pencuri ciuman tengah malam.
Bibir hangat nan basah itu mendarat lembut di keningnya.
Mengalirkan cinta yang dalam, menyiram sanubari dengan kesejukan yang mendamaikan.
Kini tangan yang menggenggam itu telah mendekap.
Tanpa penolakan dari wanitanya,bahkan jemari lentiknya telah terulur merengkuh pinggang perkasa itu.
Jadilah mereka teletubies...
Berpelukaaaan.
___💞___
*Fatimah POV*
_Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk_
_Yâ imâmal mujâhidîn yâ Rasûlallâh_
(Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
duhai pemimpin para pejuang, ya Rasulullah)
Sholawat tarhim yang biasa di sebut juga,sholawat subuh.
Sayup-sayup terdengar berkumandang dari kejauhan.
Alarm dari gawai ku pun nyaring terdengar.
Memaksa kesadaran itu kembali dari awang-awang.
Memerintah kepada raga,agar segera terjaga.
Karena hari menjelang subuh sudah tiba.
"Eugh..."
"Alhamdulillahilladzi ahyana ba'dama amatana wailaihinnusyur,"
(Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah Dia 'mematikan' kami, dan kepada-Nya lah kami dikembalikan)
Aku menggeliatkan raga ini,berusaha lepas dari dekapan lelaki yang kemarin mengikat janji denganku.
Janji kepada sang khalik,yang di saksikan oleh makhluk langit.
Ku usir paksa bisikan halus itu,yang hendak melenakan raga ini.
Ah,aku menatap guling hidupku sesaat.
Bersyukur atas pengikatan di atas ikrar dan bakti.
Bersyukur karena Allah telah mempertemukan kami.
Hingga sempurnalah agama ini,karena pernikahan yang di restui langit dan bumi.
Tak puas-puas hati memandangnya.
Sungguh mempesona bila sedang tenang begini rupanya.
Teringat kisah sepanjang malam tadi.
Setelah berbagi saliva dengan mesra,raganya terus memeluk hingga kami berdua tertidur dengan tetap menempel meski tanpa lem.
Karena secara tak langsung rindu dan gelora lah yang menjadi perekat alami.
Astagfirullah!
Bukannya bangunin malah mandangin terus.
Berkali-kali ku goyangkan tubuhnya tapi Abang gak bangun-bangun.
Ku tarik hidungnya,ku pencet,jewer kuping,tapi nihil.
Suami ku tak bergeming,masih dengan dengkuran halusnya.
Sampai aku berbicara di telinganya,keadaan tetap sama.
Masih ada satu cara,tapi_haruskah?
Aku_malu,
Eh_tapi dia kan suamiku,setiap sentuhan bernilai pahala bukan?
Apalagi, ini sebagai bakti ku padanya.
Haihh,baiklah.
Cup!
Aku pun melakukannya dengan cepat.
__ADS_1
Seketika wajahku memanas mengingat apa yang telah ku lakukan barusan.
Kenapa kau berani sekali Fatimah?
Akhirnya aku merutuki sendiri perbuatan ku.
Kenapa aku seperti pencuri ciuman?
Kalau begini,kesannya seperti pembalasan.
Aku pun hanya bisa menarik nafas dalam,menyesal juga percuma sudah ku lakukan.
"Kurang berasa Dek,sekali lagi dong,"lirih abang dengan suara khas bangun tidur.
" Hah_!"
Aku melongo melihatnya yang langsung terjaga hanya karena satu kecupan ringan.
"Ayo,dong morning kiss nya lagi," pinta abang dengan muka bantalnya.
"Adek mau mandi dulu,ih,"
ucapku sambil ingin beranjak dari tempat tidur.
Namun abang menarik lenganku hingga aku kembali jatuh menabrak dada bidangnya.
Yang terbalut kaus tipis berwarna hitam.
"Kiss dulu baru boleh pergi,"
ucapnya sambil menatapku sayu,mungkin masih mengantuk.
Aku berusaha meronta tapi dekapannya semakin erat.
"Kan Adek yang mulai duluan tadi,lho,"
"Ayo ih,"rengeknya macam balita yang minta gadget,eh.
Aku berusaha kabur dari situasi yang akan berakhir membuatku terlena.
Namun setelah mendapatkan apa yang ia mau.
Diri ini bukannya terlepas,justru semakin terkungkung oleh gelora di pagi buta ini.
Berawal dari niatan membangunkan suamiku.
Malah berdampak terikat oleh penyatuan kedua bibir yang sama-sama masih orisinil.
Belum pernah terjamah dan di jamah.
Tapi,kenapa abang begitu faham dan menghanyutkan?
Aku yang sedari awal hanya menerima permainannya tanpa bisa membalas.
Pagi ini aku mulai mengikuti alur,membalas tiap sesapannya.
Hingga suara decapan halus itu terdengar.
Dan suara merdu dari ku pun mengalun ketika sesapannya beralih ke leherku.
Hingga aku pun tersadar akan niat awal tadi.
Aku berusaha mendorong tubuhnya,tapi nihil.
Abang tetap tidak mau melepas tautan kami.
Bahkan ketika ku cubit pinggangnya sekalipun,ia tak berhenti.
Hingga,dengan terpaksa aku menggigit bibirnya lumayan keras.
"Asshh...!"
Akhirnya lepas juga.
Abang pun melirikku tajam sambil memegangi ujung bibirnya yang sepertinya memerah.
Wajahnya seakan mengancam"Awas kamu".
Aku tak peduli,aku beranjak turun dari kasur kami.
Lalu berlari keluar kamar sambil terkekeh pelan.
Salah sendiri kan.
*Pov end*
Maapkeun kalo gak jelas yaa😚
Mak chibi mau ngumpet dulu,malu_
Hihi...
Terimakasih yang masih mendukung chibi hingga hari ini.
__ADS_1
Sehat selalu buat kita semua.
Kechup jauhhh💋💋💋