
___®®___
"Ma, aaff..., "
Mirna terus merengkuh bahu sang putra sembari terisak.
Dan, dengan lirih ia terus berucap.
Meluapkan penyesalannya.
Mengakui khilafnya.
Tak seharusnya ia mendukung keputusan suaminya.
Rojali tak mengerti.
Ia tak memikirkan racauan wanita di dalam dekapannya ini.
Ia hanya ingin puas meluapkan rindu kepada pintu surganya itu.
Mencium hangat dan bau khas mamanya.
Merasakan lagi sentuhan lembut di bahu dan tengkuknya.
Betapa selama ini, hampir setiap malam ia memimpikan moment seperti ini.
Hingga, tak luput untaian doa ia panjatkan kepada sang pemilik hidup.
"Apa kalian belum selesai? "
"Udah 20 menit lho ini, "
Rengek Jihan, yang tak sabar ingin meluapkan kangennya juga.
Mirna pun melepaskan pelukan possesif pada putranya itu.
Kemudian ia menoleh kepada anak gadis nya, dan tersenyum.
"Eh, Abang lupa deh klo ada si kinoy? "
ledek Rojali yang masih merangkul sang mama dari samping.
Mirna terus menerus, memainkan rambut gondrong putra nya itu.
Ia mengelus, memulir bahkan menariknya gemas.
"Ish, segala lupa, "
Jihan sudah mengerucutkan bibirnya menjadi lancip sekali.
Dan itu membuat Rojali gemas dan berniat mengerjai adik perempuan satu-satunya itu.
"Kalo sama Mama,kan Abang kangen, "
__ADS_1
"Udah lama gak meluk, udah lama gak ngerasain kehangatan Mama, "
ucap Rojali bermaksud meledek sang adik tapi malah bikin Mirna melow lagi.
Hatinya serasa tercubit, betapa menyedihkannya hari-hari sang putra.
Hidup tanpa keluarga di tengah himpitan ekonomi yang serba pas-pasan.
Penyesalan itu semakin menghimpit dadanya.
Membuat sesak yang serasa mencekiknya.
Hingga netra indahnya kembali menggulirkan tetesan bening ke pipinya yang tirus.
"Jadi, kalo sama aku gak kangen gitu? "
Pekik Jihan sambil berkacak pinggang.
Dan jangan lupakan ekspresinya yang seperti anak paud yang sedang merajuk.
"Kangen gak ya?"
"Apa yang di kangenin juga dari adek yang cengeng dan ingusan kayak kamu? "
ledek Rojali tapi kaki nya melangkah mendekati sang gadis yang matanya sudah mengembun itu.
"Abang ih, huaaa.. ! "
"Hei..., sudah sebesar ini, masih aja cengeng, "
cibir pria selengean itu, meski mulutnya meledek tapi tangannya terjulur merengkuh tubuh tinggi semampai sang adik.
Jihan semakin terisak di dalam pelukan Abangnya yang sejak ia kecil.
Selalu saja menjahilinya, sampai ia teriak dan menangis.
Walaupun begitu, baginya Bang Ali adalah superhero nya.
Yang selalu melindunginya di manapun dan kapanpun.
Ia pun sangat merindukan abangnya ini.
Ia yang juga selalu khawatir memikirkan nasib saudara satu-satunya itu.
Hidup diluar sana tanpa sepeserpun uang, dan hanya satu stel pakaian yang melekat di badan.
Ia bersyukur, sangat bersyukur.
Abangnya bisa hidup dengan baik dan sehat.
Bahkan, terlihat semakin macho dan keren di matanya.
Rojali masih terus mengelus rambut panjang yang berwarna coklat gelap itu.
__ADS_1
Adik kecilnya sudah menjadi wanita dewasa dan sangat cantik.
(Maafin abang, yang gak ada di masa peralihan kamu)
(Pasti kamu mengalami masa yang sulit)
(Mulai sekarang, abang akan jagain kamu lagi)
(Kamu permata indah yang harus dilindungi dan di sembunyikan)
Pria bermata sendu itu melerai pelukannya.
Sang adik masih terisak kecil.
Segukannya menciptakan gerakan kecil naik dan turun pada bahunya yang terbuka.
"Udah ah, malu tu diliatin kang baso! "
ledek Rojali lagi sambil mengusap pipi sang adik yang basah.
"Abang, ih! "
Jihan menghentakkan kakinya, dan kembali mengerucutkan bibirnya.
"Lucu banget si, adeknya sapa dah ini. "
Kali ini Rojali menarik kedua pipi Jihan dan memainkannya dengan menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri.
"Abang!! "
"Sakiitt!! "
Jihan pun mencubit pinggang sang abang.
Membuat Rojali mengaduh kesakitan.
Mirna membekap mulutnya dengan satu tangannya.
Ia tak dapat menahan haru yang menyeruak.
Melihat pemandangan yang sudah bertahun-tahun tidak di lihatnya.
Momen di mana kedua buah hatinya bercanda riang.
Saling meledek dan melempar candaan.
Meski kadang bertengkar dan berdebat.
Tetapi, sesungguhnya mereka saling menyayangi satu sama lain.
___®®____
Jangan lupa jempolnya... sayangkuhhh💞
__ADS_1