Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Negosiasi sebelum perang


__ADS_3

🌿🌿


Mencari pasangan hidup sejatinya bukanlah hanya untuk sekedar memenuhi segala kebutuhan biologismu.


Makna pernikahan itu, lebih dari sekedar memenuhi kepuasan.


Menikah adalah ibadah yang bernilai luar biasa.


Karenanya, isinya tak melulu yang indah-indah saja, disana akan ada banyak rintangan yang menuntut kerjasama kalian sebagai pasutri.


Lalui dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab.


🌿🌿


~°°°°°~


Aku pun mengajak Mas Aji ke dalam.


"Langsung masuk kamar ae yo Dek. "Lirih Mas Aji berbisik di telingaku, membuat bulu-bulu halus ditubuhku berdiri semua seketika.


(Siang-siang ngajak ngamar, mau opo to Mas iki) fikiranku sudah melanglang buana kemana-mana.


"Mas capek, mau bobok ciang."Bujuknya lagi sembari berbisik, seperti tau saja apa yang sedang aku fikirkan.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum, padahal kondisi jantung sudah tak karuan. Semoga saja,ndak ada sing denger bunyi detak jantungku,yang bunyi nya seperti rebana ,yang di tabuh oleh pemain marawis.


"Pak, Buk,kami permisi ke kamar dulu ya. "Pamitnya kepada ibuk dan bapak


"Mari Bude, Pakde. "


Pamitnya lagi ke sodara-sodara yang masih ada dirumahku.


Setelah kami berada di dalam kamarku yang cuma seluas 2x3 m² itu.


Dengan ranjang ukuran sedang,pas-pasan lah kalau untuk tidur berdua.


Dengan lemari kecil di pojok kamar, dan meja nakas kecil di sebelah ranjang.


Inilah penampakan kamar dirumah sederhanaku.


Mas Aji segera mengunci pintu, dan kemudian meraih tanganku menggiringku mendekati ranjang.


("Deg..! ")


" Duduk sini Dek, kita ngobrol dulu sini. "Perintahnya lembut.


"Kamu, yo ndak usah tegang ngono toh. "


Ucap Mas Aji sambil menarik tanganku agar ikut duduk di sampingnya.


Dan disinilah kami duduk di atas ranjang yang sudah tidak empuk lagi karena kasurnya sudah puluhan tahun tidak di ganti, mungkin seumuran aku.


(Untung seprai nya sudah di ganti sama Ibuk, dan di pakaikan bad cover, pemberian(seserahan) dari mas Aji, jadi lumayan kelihatan apik.)


"Ih siapa yang tegang, Adek cuma bingung harus apa," kilahku


(Padahal emang tegang, sok ngeles)


"Em,kalau begitu Mas akan jelaskan sedikit, tentang peran atau tanggung-jawab,serta hak dan juga kewajiban suami-istri. "Ucap Mas Aji dengan lembut,sambil menggenggam hangat kedua tanganku, tatapan matanya yang teduh tak pernah sekalipun beralih dariku.


" Jadi,gini lho Dek,Mas ini kan, sekarang yang akan bertanggung jawab kepadamu, baik di dunia dan di akhirat nanti. "


"Mas wajib menafkahi mu, baik nafkah lahir yang mencakupi;sandang,pangan dan papan,sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan Mas."


"Maupun nafkah batin yaitu; menggauli mu dengan baik,sesuai aturan agama islam,dengan penuh kelembutan,tidak dengan memaksakan kehendak."


" Mas juga wajib membahagiakanmu, menjadi lawan bicara yang menyenangkan,tempat mu bersandar dan mencurahkan segala kegundahan,tugas Mas juga melindungi jiwa-raga dan kehormatan mu."


"Itu semua tanggung jawab Mas kepadamu,secara tidak langsung itu semua menjelaskan hak-hak mu sebagai istri Mas. "


"Sekarang Mas akan menjelaskan tanggung jawab mu sebagai seorang istri,yang juga berkaitan dengan hak-hak Mas sebagai suami. " Jelas Mas Aji dengan penuh kelembutan, tak ada kesan menggurui, ibu jarinya sesekali mengelus lembut tanganku.


"Tugas Adek itu adalah; menyiapkan segala keperluan suami,selalu menyenangkan ketika dipandang, selalu mengulas senyum,bersolek didepan suami,menjaga pandangan dan batasan dengan lawan jenis yang bukan mahrom."


"Menjaga harta dan mengatur nafkah pemberian suami,selalu meminta izin ketika keluar rumah,tidak menerima tamu tanpa seizin suami."


" Selalu siap kapanpun suami butuh di sayang-sayang."Bisik Mas Aji sambil menjawil hidungku,aku pun hanya menunduk dan tersenyum malu.


"Tu kan,tugas Adek ndak susah, sing penting adek harus taat dan manut karo suami gantengmu iki,"kelakarnya sambil mengelus kepalaku yang masih terbungkus kerudung dengan senyum lembutnya yang tak pernah lepas sedari tadi.

__ADS_1


" Nggih Mas, Adek mohon bimbingannya."


"Kata ibuk syurga adek sekarang ada di suami, udah bukan di Ibuk lagi,"


ucapku dengan lirih,sambil menggenggam erat tangannya.


Mataku pun berkaca-kaca.


"Ajari Adek agar menjadi istri yang solihah yo Mas. "Pintaku dengan suara yang agak serak.


"Ingatkan adek dengan lembut dan baik-baik, dengan ketegasan bukan kekerasan,"


imbuhku lagi


"Tentu saja Istriku yang manis,karena kan,Adek dari tulang rusuk Mas." Rayu Mas Aji dengan kerlingan mata.


(Duh,Mas, jangan godain terus,Adek ndak kuat,eh.")


"Karena kamu adalah tulang rusukku, maka,kamu harus selalu ada disisi Mas,untuk mendampingi,di kala senang dan susah. "


"Menasehati Mas dikala salah, mengingatkan Mas disaat lupa."


Netra nya tak lepas menyisir wajahku,sembari jarinya mengelus lembut pipiku.


Mas Aji menatapku sangat dalam kali ini, aku pun terhanyut.


Aku bahkan terbawa arus, entah kemana.


Pikiranku seketika kosong, melompong.


Ah, tidak, sepertinya sekarang aku tenggelam, dalam pesonanya, sentuhannya.


Tanpa ku duga, ada sesuatu yang basah dan kenyal menempel di bibirku.


(Huaaa... Mas Aji menciumku!)


(A...aku, aku harus bagaimana...?)


Mungkin karena aku pasif, Mas Aji melepas tautannya.


"Emh, manis...! "


Aku hanya tersipu dan menunduk, karena ini jelas pengalaman pertama untukku.


" Maaf yo, yen rasane biasa aja ini 'First Kiss' nya Mas,bisik nya dengan malu-malu.


(Padahal kan kita dikamar, ngapain juga pake bisik-bisik. )


" Sama Mas, Adek juga,"


gumamku namun rasanya dapat didengar dengan jelas oleh laki-laki di hadapanku ini, buktinya, dia mesem-mesem.


" Mas beruntung, bisa mendapatkan istri yang pandai menjaga diri dan kehormatannya. "


Pujinya kepadaku.


"Jangankan diriku Mas, hatiku saja, aku jaga dengan baik, sampai tak ada yang bisa masuk selain kamu, Mas. "Balasku yang kini sudah berani menatapnya lagi.


" Terima kasih, Istriku sayang. "


Sanjungnya sambil mencapit ujung hidungku dengan kedua jarinya.


"Iih, sakit tau, Mas!"


gerutu ku dengan kedua bibir yang mengerucut, setelah Mas Aji melepaskan capitannya.


" Uhh, dasar cumi-cumi, bikin orang gemes ajaa....! "


Seru Mas Aji sambil menangkup kedua pipiku, kemudian kembali menabrakkan benda kenyal hangat nan basah itu.


Sontak mataku membola, detak jantung jangan di tanya lagi.


Rasanya dada ini meletup-letup macam popcorn yang sedang di masak.


Karena kali ini lebih dari hanya sekedar kecupan.


Tautannya semakin dekat, menempel dan dalam, dengan penjelajahan yang semakin jauh, hingga terjadilah pertukaran saliva.


" Makanya jangan dimanyun-manyunin, Mas jadi ndak tahan, "

__ADS_1


ejeknya setelah ia melepas tautan kami.


Aku pun tertawa kecil sambil memukul lengannya pelan.


Tangannya masih menempel dikedua pipiku.


" Mas boleh kok lepas jilbabnya Adek,"


izinku padanya, karena aku faham tatapan matanya.


Kemudian ia menurunkan tangannya, menyentuh ujung bawah jilbabku, perlahan Mas Aji menaikkannya sampai keatas dan terbukalah sempurna dengan menampakkan rambut yang ku cepol rendah.


Aku pun membuka cepolan nya. Dan, terpampang lah dengan nyata, rambut hitam yang masih agak lembab, ikal, dan panjang sebahu.


Aku pun hanya bisa menunduk dengan jemari yang saling meremat.


"Masyaallah, cantiknya cumi-cumiku! "ucap Mas Aji dengan candaannya.


Seketika aku mengangkat wajahku dan mendelikkan mataku yang memang agak besar.


" Aah...sebel, deh! "


"Muji yo muji ae toh, ndak udah ada embel-embel nya," protesku dengan sedikit merajuk, sambil menyedekapkan tanganku di depan dada.


Ia terkekeh kemudian menarik tanganku, membuat wajahku seketika menabrak dada nya yang lumayan bidang.


(Ah, nyamannya, akhirnya... bisa ngerasain dipeluk.)


Mas Aji menciumi ujung kepalaku, berkali-kali. Sepertinya ia menyukai aroma shampo ku, untung aku keramas dengan double sachet tadi pagi.


Pastinya masih wangi,walau sudah siang begini.


Ia memelukku semakin erat, dan mengelus punggungku perlahan, membuat tubuhku seketika meremang.


Perlahan Mas Aji mendorong tubuhku dari dekapannya, ia menatapku dengan matanya yang sayu dan berkabut.


"Dek, bolehkah...? "Tanyanya dengan lirih.


Aku mengangguk perlahan, mengizinkannya melakukan apapun keinginannya, bukankah aku adalah haknya.


Setelah mendapat persetujuan dariku, Mas Aji membimbingku membaca doa sebelum melakukan ibadah suami istri.


Aku membuka mataku, setelah aku menurunkan tangan dari wajahku, yang sebelumnya ku usapkan setelah pembacaan doa.


Seketika mata kami saling menatap, dalam, penuh cinta dan kerinduan yang terpendam.


Seolah-olah kami akan mengeluarkan semua nya, gelora yang selama ini hanya bisa kami pendam.


Perasaan yang kian membuncah, disaat tak ada lagi tabir yang menghalangi, karena satu kata "SAH" telah terucap.


Membuat apa yang akan terjadi menjadi halal dan ladang pahala untuk kami.


Sebuah genggaman tangan yang semakin mengikat perasaan, setiap sentuhan yang akan meluruhkan dosa-dosa.


Setiap *******,


Setiap lenguhan,


Bagaikan syair yang mengalun merdu.


Mendayu-dayu mengikis sedikit demi sedikit gumpalan rindu.


Nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan?.


Ketika,kenikmatan laksana surga dunia yang kau rasakan, menjadi lahan ibadah yang akan menumbuhkan ladang pahala.


Maka... terjadilah yang harusnya terjadi.


Bukan malam pertama tapi siang pertama😂😂


Yang penting mah udah berlabel "HALAL" dari "KUA"...🤣


Karena penjebolan gawang tidak terikat oleh waktu.


Aaihh...!


Maafkanlah daku yang hanya bisa melampirkan kiasan saja, tanpa detailnya🤗


Otor takut gak kuku.... 😁

__ADS_1


__ADS_2