
___💞💞___
Fatimah lagi-lagi hanya bisa mengangguk pasrah.
Tenaganya seakan luruh akibat kejadian yang tak diinginkannya sesaat tadi.
" Permisi istri cantik nya Abang ganteng,"ocehnya sambil mempreteli aksesoris yang menempel di kepala Fatimah.
Fatimah hanya melirik sekilas dan tersenyum tipis.
"Nah,gitu dong!"
"Senyum Adek kan manis bener,"goda Rojali sambil mencuil buah plum yang menggoda itu.
Fatimah sontak tersenyum malu.
Dirinya pasrah kini,membiarkan lelaki asing yang kini sudah sah melihat apapun yang ada pada dirinya itu.
Ia membiarkan tangan kokoh itu melepas satu persatu yang melekat di tubuhnya.
Karena ia akan kesusahan kalau ingin membuka semua ini sendirian.
Sehingga ia membiarkan saja rasa malu itu menguar sedikit demi sedikit.
Membuat wajahnya yang tadi pucat kembali berwarna.
Bagaimana perasaan lelaki tengil itu?
Yang seumur-umur belum pernah membantu wanita manapun membuka bajunya.
Tentu saja dengan jantung yang berdetak tak beraturan hingga nafasnya terasa sesak.
Dan tangannya yang sedikit gemetar tatkala jemarinya itu secara perlahan.
Membuka helai demi helai kain yang membalut tubuh ramping berisi di hadapannya.
Jiwa kelelakiannya meronta kini.
Tatkala tanpa sengaja atau memang sengaja menyentuh bagian-bagian indah dari tubuh itu.
Kerudung panjang beserta ciput nya dan selendang berpayet sudah luruh ke lantai.
Menampakkan rambut yang ter cepol rendah.
Kemudian Rojali membuka ikatan itu.
"Masyaallah_"
"Abang kalah saing dah nih,"
"Panjangan rambut kamu Dek,"ucap Rojali tersenyum gemas kemudian menarik helai itu dan menariknya ke depan hidung.
Ia membauinya perlahan,mengendus aroma shampo yang menguar,menusuk indera penciumannya,merasuk hingga memabukkan akalnya.
Rambut hitam panjang melewati punggung.
Dengan ujung yang ikal menjuntai.
" Terimakasih,kamu udah ngejaga ini,menutupnya dengan sempurna,"
"Hingga keindahannya tak sembarang mata boleh melihat,"ucap Rojali di samping telinga Fatimah.
Kini ia menangkup kedua pipi yang bersemu itu.
Memandang lekat sang pemiliknya.
Hingga netra mereka mengunci pada tatapan yang dalam.
"Sekarang Adek adalah tanggung jawab Abang,di dunia dan akhirat,"
"Yang artinya adalah,apa yang Abang ridho maka akan menjadi jalan ke surga untukmu,"
"Dan sebaliknya,bila Abang tidak ridho maka neraka lah tempat mu,"
"Tetaplah seperti ini,menjaga kehormatan mu demi suami,"
__ADS_1
"Karena Abang tidak ridho bila sejengkal saja dari tubuhmu,atau sehelai rambut mu ini terlihat oleh laki-laki lain selain mahrom mu,"jelas Rojali lembut namun penuh penekanan pada setiap kata.
Hingga tanpa di sadari oleh Fatimah,seluruh gaun nya sudah terlucuti.
Hingga kini hanya menyisakan inner wear saja.
Fatimah yang menyadari keadaannya sekarang seketika menunduk.Ia berusaha menutupi bagian depan dengan menyilang kan kedua tangannya.
"Masih ketutup kok,"
"Daleman nya kayak kaus gini,"
"Tangan panjang pula," gemas Rojali menurunkan kedua tangan yang menyilang itu.
Meski masih tertutup rapat,namun lekukan itu nampak jelas karena kaus yang ketat.
Bahkan bukit kembar itu menyembul indah. Membuat Rojali kesulitan lagi menelan saliva nya.
Menyadari di tatap sedemikian rupa oleh suami nya.
Fatimah merasa tegang bukan main.
Ingin menghindar tapi tangannya di genggam begitu erat.
Sungguh,jantungnya serasa hendak melompat keluar dari rongga dadanya.
"A,Adek atau abang yang_ mau mandi duluan?"
tanya Fatimah gugup setengah mati.
"Ah,iya_hampir aja,"ucap Rojali kemudian terkekeh.
" Adek istirahat aja dulu,sambil bersihin make up nya."
Kemudian Rojali membuka jasnya setelah sebelumnya memberi kecupan singkat di kening Fatimah.
Namun,Fatimah sontak menoleh.
Ketika pria yang sudah menjadi suaminya itu,dengan tak tau malu nya membuka celana di hadapannya.
Kenapa gak di kamar mandi aja si Bang,buka bajunya?
Gak kasian nih sama jantung dan hatiku!)
Fatimah menghela nafas panjang dan mulai membersihkan make up di wajahnya.
Ia melihat dari ekor matanya kalau sang suami terus memperhatikannya dengan tatapan ingin.
(Bagaimana cara bilangnya nanti ke Abang?)
Fatimah pun menghela nafas lagi,kali ini dengan berat dan lama.
Singkat cerita keluarga Ayah Rojak sudah berkumpul di ruang tamu.
Mereka bercengkerama hangat setelah makan malam dengan sate kambing bumbu kacang.
Dan lontong yang di bungkus daun pisang sebagai pengganti nasi.
Moment itu di manfaat kan Rojali untuk membicarakan rencananya memboyong sang istri untuk tinggal bersamanya.
Ayah Rojak adalah pribadi yang terbuka dan bijak dalam bersikap.
Ia telah siap melepas sang putri sejak lelaki gondrong ini mengucap ikrar di hadapannya pagi tadi.
Ia percaya sepenuhnya Rojali terbaik untuk putrinya.
Meski segurat kekhawatiran itu ada,apalagi melihat latar belakang dari keluarga menantunya itu.
Walaupun,ia sudah terusir dan di buang.
Darah tidak akan luntur bukan?
Sampai kapanpun mereka akan terhubung.
__ADS_1
Ayah Rojak yakin semua atas kehendak penciptanya.
Garis kisah dari sang Khalik tidak akan bisa di bantah.
Namun,kita bisa merubah rasanya dengan cara menerimanya dengan ikhlas dan qona'ah.
Qanaah adalah sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari dari rasa tidak puas dan perasaan kurang.
Orang yang memiliki sifat qana'ah memiliki pendirian bahwa apa yang diperoleh atau yang ada didirinya adalah kehendak Allah.
Ia yakin Rojali dapat membahagiakan putrinya yang selalu hidup di dalam kekurangan dan perjuangan.
Menantunya itu pasti akan melindungi putrinya.
Lebih dari perlindungan yang bisa ia berikan selama ini.
Didalam kamar pengantin yang serba putih itu.
Kini lampu sudah di matikan,berganti pendar dari cahaya yang terdapat dari lampu led di meja rias.
Suasana temaram itu ternyata mengusik hormon testosteron lelaki yang hanya memakai kaus oblong dan kain sarung.
Ia yang sedang duduk bersandar di kepala dipan menoleh ke samping.
Di mana sang istri sudah terlelap dalam selimutnya.
Ia memundurkan tubuhnya.
Memposisikan diri agar menghadap wajah cantik natural itu.
Tenang dan damai seperti tidurnya seorang bayi.
Pipi yang halus,hidung mancung tapi mungil.
Bibir plum yang merona asli tanpa pewarna.
Dagu yang bulat terbelah,oh Tuhan!
Amal apa dariku yang kau terima?
Hingga kau menganugerahkan seorang bidadari kepadaku?
Abang akan menunggumu,sayang.
Malam indah itu,di rumah kita.
Meski rumah sederhana,aku berjanji itu hanya untuk saat ini saja.
Bersabarlah,aku akan berusaha lebih keras lagi.
Untuk membahagiakanmu selamanya.
Insyallah perjuanganmu akan berakhir di sini.
Biarkan Abang yang menggantikan posisimu.
Rojali mengecup lembut dan dalam kening mulus itu.
Kemudian beralih ke hidung lalu kedua pipi.
Melihat sang empunya tetap terlelap tanpa terusik,maka ia pun melanjutkan kecupan itu ke area di bawah hidung.
Dimana buah plum segar itu menunggu untuk di sesap.
Awalnya hanyalah kecupan ringan dan sebentar.
Tapi,berkali-kali hingga sang empunya bibir menggeliat karena terganggu aksi basah itu.
"Emmphh...Abang?!"
Seketika mata yang sedang terpejam itu membola paksa.
Karena ada yang hangat dan basah mengganggu tidurnya.
__ADS_1