
__®®__
Setelah melakukan adegan adu jurus dengan gerakan yang indah bagai tarian,namun bertenaga dan bermakna.
Pria dengan pangsi merah beradegan seakan kalah,kemudian mempersilahkan rombongan besan untuk masuk ke ruangan yang sudah di persiapkan.
Halaman depan yang sudah di pasang tenda yang sederhana namun terkesan indah dengan warna putih gading dan aksen renda serta hiasan bunga hidup.
Beberapa kursi sudah berjajar dengan renda putih,tertata rapi untuk para tamu yang di bawa oleh rombongan Rojali,sang mempelai laki-laki.
Di teras rumah Fatimah yang tidak terlalu luas,juga telah di tata sedemikian rupa.
Terdapat meja panjang dan enam buah kursi.
Empat kursi berhadapan untuk pasangan pengantin,penghulu dan wali nikah.
Juga dua kursi di samping kanan dan kiri untuk masing-masing saksi nikah dari kedua belah pihak.
Warna putih mendominasi semua ruangan.
Terlihat sederhana namun berkesan.
Harum bunga melati dan krisan menguarkan semerbak.
Merasuki indera penciuman membuat hati siapapun ikut bahagia dan senang.
Mirna terpukau dengan pihak WO yang di sewa nya.
Menjadikan kesederhanaan ini terkesan memukau namun tidaklah berlebihan.
Menyulap rumah kecil sederhana ini begitu indah,sehingga menjadi tempat bersejarah yang akan di kenang seumur hidup oleh seluruh pihak yang terkait.
Terutama oleh kedua keluarga dan kedua mempelai.
Mirna tak sengaja melihat sosok pria nan gagah di samping sang putra.
Karena sejak tadi matanya telah berkeliling.
Hingga baru kini ia menyadari ada sosok yang di kenalnya berada di samping putranya.
Namun,apa iya?
Mirna heran bagaimana Rojali mengenalnya?
Karena kalau ia tidak salah mengenali pria itu adalah...
"Bang,pindah ke depan sana gih!"
seru Mirna menyuruh Rojali pindah ke meja tempat ijab qobul nanti.
"Nanti aja Mah,kalo pak penghulu nya udah dateng"
"Barusan lagi di jemput sama temen Abang,"
"Soalnya bocor ban motornya,di tengah jalan,"
jelas Rojali kepada sang Mama.
"Innalillahi,ya Allah!"
"Semoga temen kamu gak dapet kendala ya,"
ucap Mirna penuh harap.
"Aamiin,iya Mama tenang aja,temen Abang bawa mobil kok,barusan chat katanya udah ketemu sama penghulunya,cuma mau nitipin motornya dulu ke bengkel terdekat biar aman,"
jelas Rojali menenangkan sang mama yang terlihat khawatir.
"Alhamdulillah,ya udah kita harus sabar,terutama kamu Bang,"
ujar Mirna sembari mengelus tangan sang putra yang berkeringat dingin.
"Ah,Mama tau aja kalo Abang udah gak sabaran,"
canda Rojali dengan sedikit kekehan menutupi segala kegugupannya.
"Ih,gayanya gak sabaran,padahal grogi setengah idup kan,ni tangan kamu dingin gini,"
__ADS_1
ledek Mirna sambil menggenggam telapak tangan Rojali yang dingin dan sedikit gemetar.
"Tenang,Bro ambil nafas buang nafas,"
Bisik lelaki di sebelah Rojali.
"Kalo udah berdua di kamar juga udah ilang nanti groginya,hehehe..."
selorohnya membuat mata teduh Rojali seketika memicing ke arah lelaki di sebelahnya ini.
"Iya dah yang pengalaman,"
ledek Rojali balik kepada duda tampan itu.
"Sue,kena skak gue!"
lelaki itu pun melengos membuang muka nya,karena statusnya secara tak sengaja sudah terungkap.
"Firman!"
Seketika yang di panggil pun menengok.
"Eh,iya...!"
lelaki yang bernama Firman pun lantas berdiri kemudian menghampiri wanita yang memanggilnya itu.
"Lho,ini jadi beneran Ibu Mirna?"
"Ya Allah,maaf Bu,saya gak ngenalin beneran,saya tadi mau negur ya takut salah Bu,soalnya Bu Mirna yang saya kenal kan...?"
ucap lelaki itu penuh sesal dan rasa sungkan,sambil menjabat tangan Mirna.
"Iya ,saya juga baru ngeh kalo ini beneran kamu,"
"Ya udah,gapapa,doain saya ya biar istiqomah,"
ujar Mirna kemudian memasang senyum di bibir tipisnya.
"Aamiin,Bu,Ibu jadi makin cantik ,kalo udah soleha gini,"
"Eh,Bos!berani godain emak gue,gue batalin nih kerja sama kita,"
ujar Rojali dengan memasang wajah gaharnya.
"Ealah,Bro...selow,gue cuma ngasih semangat ini,ke Bu Bos gue,"
"Eh,tapi kalo Bu Mirna Bos gue,berarti elu...?"
ucap Firman dengan wajah bingungnya melihat bergantian ke arah Mirna dan Rojali.
Begitu pun dengan Rojali dan Mirna mereka juga sedang bingung dengan pikirannya masing-masing.
"Firman adalah manager di resto cabang cianjur,resto Mama yang baru rintis dua tahun belakangan ini,"jelasnya kepada sang putra yang tak henti menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya itu.
"Terus gimana kamu bisa kenal anak saya,Man?"tanya Mirna ke lelaki tampan nan gagah namun pernah gagal dalam pernikahannya itu.
" Rojali ini salah satu supplier lobster di resto kita Bu,"
"Saya gak nyangka kalo dia ternyata anak dari Bu Mirna,"
"Maaf ya Bu,maaf ya Bro,eh_"
ucapnya kikuk setelah mengetahui siapa kawan sekaligus mitra bisnisnya ini.
"Selow aja Bos,jangan rubah pandangan lu terhadap gue,"
"Kita partner bukan?"ucap calon pengantin itu sambil menepuk pelan pundak Firman.
" Kebetulan yang Masyaallah,"
"Jadi,partner bisnis resto Mama tak lain adalah sang putra pewaris,"
"Allahu Akbar!"seru Mirna sambil menyeka air matanya dan menunduk.
" Ma,ini kuasa Allah,"
"Allah yang menuntun langkah Abang,sehingga secara tak langsung kita saling terhubung,"
__ADS_1
"Iya,Bu,usaha Rojali sekarang lagi maju pesat,udah mulai eksport ke luar negeri dia,"
"Ternyata kehebatan dan kejeliannya melihat pangsa pasar,menurun dari sang Ibu rupanya," puji Firman kagum kepada dua orang di hadapannya ini.
Yang satu Bos pemilik resto tempat ia bekerja,dan yang satu adalah partner bisnis dari resto tersebut.
Yang ternyata adalah anak dari pemilik rumah makan tempat nya mengais rezeki.
Ah,hidup memang misteri dan takdir itu tak terbaca.
"Kita akan membahas ini lagi nanti,tolong jangan ceritakan ini dulu pada Jihan,"
"Biarlah ia sungguh-sungguh dengan pendidikannya,"
"Karena Mama menyiapkan usaha ini untuknya,sedangkan resto pusat Mama serahkan pada Abang nanti,"
"Tolong,jangan membantah!"
"Abang bisa cek nanti,bahwa semua usaha Mama bebas dari RIBA insyaallah,"
ucap Mirna memohon dengan sungguh-sungguh kepada sang putra.
Rojali kehabisan kata-kata,matanya bahkan tidak lagi kuat menampung linangan itu.
Ia pasrah,dan membiarkannya mengalir meluapkan bahagia dan syukur atas kenyataan indah yang Tuhan hadirkan untuk keluarganya.
Sang Mama sudah meraih hidayah Allah entah sejak kapan.
Ia hanya bisa meraih tubuh yang kini tertutup sempurna itu ke dalam dekapannya.
Jihan terlihat keluar dari dalam sambil mengandeng mempelai wanita.
Yang mengenakan baju pengantin warna putih yang berkilau karena pantulan cahaya lampu.
Ia menuntun calon kakak iparnya itu duduk.
Merapikan gaun bagian bawahnya yang mengembang dan panjang menyapu lantai.
Kemudian ia menengok abangnya sedang berpelukan dengan sang mama.
Jihan pun berpamitan untuk meninggalkan Fatimah demi menghampiri abangnya itu.
"Aku tinggal Kakak sebentar ya,mau manggil Abang kesini,"ucapnya kepada sang calon kakak ipar cantiknya itu.
Fatimah hanya mengangguk dengan seulas senyum.
Dadanya berdentum ketika ia melihat suasana di teras dan halaman rumahnya ini.
Bahagia itu membuncah,memancar hingga rasa hangat itu memenuhi rongga dadanya.
" Bang_Ma_"seru Jihan pelan ketika sudah dekat dengan kedua orang kesayangannya itu.
"Gitu ya,pelukan gak ngajak-ngajak aku,"
protes Jihan sambil bersedekap dan manyun.
Mirna dan Rojali lantas menoleh dan tertawa pelan.
Firman pun segera undur diri kembali ke kursinya,setelah sebelumnya pamit dengan menundukkan sedikit kepalanya.
(Aje gile!kok anak sultan mau idup susah jadi tukang ojek?)
(Bahkan merintis usaha dari nol?)
Keluarga yang penuh misteri.
Mungkin itulah yang kini ada di benak duda keren berusia 35 tahun itu.
Terima kasih buat pembaca setia Tukang ojek itu jodohku.
Yakinlah bahwa yang pergi biarlah pergi,akan ada saatnya pengganti itu datang.
Bagai pepatah:
Mati satu tumbuh seribu.
Sayang kalian semuaaaahhh💋💋💋
__ADS_1