Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Kemarahan Rojali


__ADS_3

___๐Ÿƒ๐Ÿƒ___


"Abang...!!" pekik dua orang wanita berkerudung itu secara bersamaan.


Fatimah yang baru saja tiba,seketika membulatkan matanya melihat suaminya itu sedang memukul dengan membabi buta.


Rojali menghajar tanpa ampun para bodyguard sang mama,ia menumpahkan kecewa dan amarah nya pada dua orang penjaga yang sudah di percaya sejak lama.


"Apa saja kerja kalian ,hah!"


"Bagaimana mama bisa celaka?"


"Lawan gua,lemah!"


Bodyguard kedua sudah tersungkur dengan darah di pelipis dan ujung bibirnya.


Sedang bodyguard kedua terhimpit di dinding.


Ia sedang menjadi samsak hidup di tangan Rojali.


Fatimah sontak memegangi salah satu lengan yang tengah mencekik batang leher pria berjaket hitam.


Hingga terlihat wajahnya memucat dengan nafas yang tercekat.


Begitupula Jihan,gadis itu sudah berlinang air mata,ia berusaha menarik lengan yang menahan tubuh sang bodyguard.


Namun,tenaga kedua wanita itu tak sebanding,bahkan se inchi pun lelaki yang sedang di kuasai amarah itu tak bergeming pada tempatnya berdiri.


"Istighfar Bang!"


"Jangan mau di kuasai amarah!"


"Dia bisa mati!"teriak Fatimah berusaha menyadarkan Rojali yang sedang terbakar emosi.


" Please,Bang_jangan gelap mata,semua bukan salah nya,"lirih Jihan sambil terisak dan memukul lengan yang di buat menekan bahu sang bodyguard malang.


"Salah mereka Jihan!Salah mereka!"


Rojali terlihat semakin menekan leher itu.


Bodyguard yang satunya lagi hanya bisa diam mematung melihat sang kawan hampir kehabisan nafas.


Ia tau benar bagaimana temperamen asli sang putra Adiguna itu.


Ia yang sudah bekerja sekian lama di rumah besar itu.


Bahkan tau,sabuk apa saja yang di kuasai putra dari Mirna itu.


Ia hanya menunduk tatkala kedua netra basah Jihan memohon padanya.


" Lepasin,atau jangan pernah berharap melihat aku lagi!"ancam Fatimah dengan suara pelan penuh penekanan di samping telinga Rojali.


Sontak Rojali tersadar kemudian mengendurkan cekikan nya.


Ia menoleh ke samping menatap raut ketakutan campur sedih,dari wajah wanita yang teramat di cintai nya itu.Kemudian berbalik melihat pria berjaket kulit yang terbatuk-batuk karena ulahnya.


Rojali seketika memundurkan tubuhnya kebelakang.


Meminta maaf dan berulang kali melirihkan istighfar.


Sepasang netra tajam itu memandang nanar pada kedua telapak tangannya.

__ADS_1


(Aku hampir membunuhnya)


Lelaki yang hampir di kuasai emosi itu menjambak rambutnya,ia menabrakkan punggungnya ke dinding yang membisu.


Fatimah dan Jihan menubruk tubuh tegap itu bersamaan.


Lelaki yang gagah itu tampak sangat rapuh sekarang.Akhirnya kedua wanita itu menangis sesenggukkan.


Ini bukan kali pertama bagi Fatimah,melihat kemarahan brutal dari pria,yang baru sehari semalam menjadi suaminya itu.


Ia pernah menyaksikan kedua tangan itu hampir saja menghabisi nyawa seorang lelaki yang hampir melecehkan nya.


Apalagi ini menyangkut nyawa sang mama,seorang wanita yang berarti lebih dari apapun di dunia ini.


Bodyguard kedua memapah tubuh bodyguard pertama yang masih berusaha menetralkan kembali nafasnya.


Mengajaknya duduk di kursi tunggu, agak jauh dari tempat eksekusi kawannya tadi.


"Lu gapapa kan,Bro?"tanya bodyguard kedua.


" Gua gapapa,gilak juga tenaganya,"


"Tatapannya lebih menyeramkan dari tuan Adiguna," ucapnya seraya bergidik ngeri.


Ya,bagaimanapun juga genetik berandal telah mengalir di tubuh Rojali.


Ia tidak menyangkalnya,hanya saja ia harus berupaya mengolahnya agar tidak menjadi boomerang dan kerugian bagi dirinya juga orang lain.


"Jihan,sebaiknya bersihkan dirimu,biar Kakak yang disini sama Abang,"ucap Fatimah sambil mengelus bahu yang terus terguncang itu.


Tentunya,setelah ia pun dapat mengontrol emosinya.


Mata sembab itu begitu sendu,hidung yang memerah karena terus saja menangis.


"Pergilah ke musholla,hanya do'a yang di butuhkan mama saat ini,"


"Serahkan semuanya kepada Allah." Fatimah melerai pelukan itu,mengusap kedua pipi basah gadis cantik di hadapannya.


Kemudian ia tersenyum menyemangati hati yang rapuh dan terluka itu.


Ia saja begitu terpukul,entah bagaimana gamangnya suasana hati kakak beradik ini?


Jihan meraih tangan sang kakak ipar,menggenggamnya,kemudian mengangguk dan berlalu dengan langkah pasti.


Body guard pertama memutuskan untuk mengikuti anak gadis satu-satunya,dari majikannya yang tengah terkapar tak berdaya di ruang berbau pekat obat-obatan itu.


Fatimah menengok pintu kaca yang tertutup rapat,dalam hatinya berdoa lirih.


Menyematkan sebait nama kepada Tuhannya.


Berharap semua yang terbaik di perkenankan kembali kepada keluarga suaminya.


Seorang wanita baik yang baru dua kali di pertemukan dengannya.


Namun,kasih sayangnya dapat ia rasakan tulus dan menghangatkan.


Senyum dari bibir tipisnya yang menenangkan.


Sifat bersahajanya yang selalu menghargai orang lain.


Meskipun Mirna adalah wanita sosialita tapi ia menghibahkan dana itu untuk kegiatan sosialnya.

__ADS_1


Sepasang mata bulat yang kini sendu, beralih menatap sosok yang terpekur di kursi tunggu.


Tak kuasa hatinya,begitu teriris melihat sosok yang di kenalnya tak pernah meninggalkan senyumnya.


Kini wajah jenaka itu muram,tak ada gairah.


Bagai rembulan yang kehilangan cahayanya karena gerhana.



Pandangan lelaki itu kosong,meski terlihat ia menatap benda persegi dingin di bawah kakinya.


Lantai itu seakan melukiskan kenangan bersama sang mama.Gambar -gambar itu seakan memutar bergantian,dari tiap-tiap kejadian manis dan lucu.


Tak dapat di tahan lagi,bulir bening itu jatuh menghujam marmer yang beku.


Wajar bila ia takut,mengingat kejadian yang di ceritakan oleh sang adik teramat hebat dan menyisakan kisah yang sangat mengerikan.


Bahkan sang pengemudi yang lebih mahir dari pembalap sekalipun,harus menerjang maut terlebih dulu.



Hatinya begitu teriris,melihat penampakan bangkai sebuah mobil mewah yang membawa mamanya itu.


Bagaimana bisa?


Kenapa hal yang paling di takutkan nya terjadi juga?


Di mana sosok lelaki yang sudah membuangnya?di saat sang mama berjuang untuk lepas dari cekalan maut?


Inilah hal yang selalu ia khawatirkan,ketika sang ayah tak mau melepas dunia hitamnya.


Kehilangan orang-orang yang dicintainya dengan cara yang konyol.


Sebuah sentuhan hangat dari jemari nan halus,mengusap lembut setiap helai rambut yang jatuh sebahu itu.


Dekapan hangat nya lantas membenamkan wajah yang sedari tadi terpekur menatap lantai marmer.


Rojali sontak melingkarkan tangannya di pinggang ramping berbalut gamis itu.


Menyatukan keningnya di atas perut rata yang tertutup ujung pasmina dan cardigan.


Rojali mendongak,seketika netra nya beradu dengan sepasang iris pekat .Fatimah menunduk dan bibirnya melengkung indah,perlahan ia melabuhkan kecupan hangat di kening pria yang matanya sembab itu.Lama dan dalam,seakan menyalurkan rasa bahwa kau tidak sakit sendirian.


Aku selalu ada disini untukmu dan yakinlah,semua akan baik-baik saja.


Beberapa perawat keluar,dari pintu kaca yang tembus pandang itu,padahal lampu ruang operasi masih berwarna merah.


Sontak,sepasang pasutri baru itu saling beradu tatap kemudian menoleh kilat.


Apa yang terjadi?


Kenapa para wanita yang berpakaian serba putih itu nampak tergesa-gesa sekali?


"Suster!"


Lanjutt...?


Lanjutlah masa enggak๐Ÿ˜œ


Jempol nya dulu woy!๐Ÿ˜‰

__ADS_1


__ADS_2