Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Kenyataan


__ADS_3

___πŸ‚πŸ‚___


"Suster!"


Rojali berteriak sambil mengejar para perawat berseragam serba putih itu.


"Maaf, kami ingin mengambil alat dan stok darah." Para perawat itu seketika berlalu,menyisakan pertanyaan yang terasa perih di ulu hati.


Membuat pikiran buruk seketika berkelebat menghujam nalar.


Fatimah merangkul tubuh yang seketika limbung itu.


Bodyguard kedua berniat menghampiri, tapi seketika langkahnya tertahan oleh gelengan halus dari menantu majikannya itu.


"Mama,Insyaallah baik-baik aja,Abang jangan mikir yang macem-macem dulu,"


"Berpikirlah yang positif,karena itu bisa jadi do'a buat mama,"


"Kita susul Jihan ke musholla yuk,melakukan hal yang berguna bagi kesembuhan mama." Ucapan lembut dari Fatimah terdengar menancap di tengah kalbu.


Menyeret kesadaran yang sempat terombang-ambing oleh keputusasaan.


Sesungguhnya setan itu memang senang jika kau terpuruk dan meratap.


Hingga hatimu tertutup kemungkinan dari kuasa besar Illahi.


Fatimah menggandeng sang suami melewati lorong rumah sakit yang sepi.


Sepasang iris hitam Rojali seketika membesar, tatkala pintu lift terbuka dan menampilkan sosok yang sedari tadi dipertanyakan olehnya.


Sepasang netra tajam itu beradu pandang sepersekian detik.Hingga tatapan seorang pria setengah abad itu beralih,kepada sosok anggun yang mencuri perhatiannya.


Buku-buku tangan dari Rojali terlihat mengepal,rahang tegas itu mengeras.


Namun,genggaman disertai usapan lembut dari perempuan di sampingnya,mampu meluluhkan emosi itu untuk sesaat.


Kejadian itu pun tak luput dari pengamatan Adiguna.


Ia melihat sekilas perempuan di sisi putra yang sesungguhnya amat di rindukannya itu.


Tatapan itu seakan menyiratkan rasa yang terpendam dan menyiksa.


Ya,Fatimah seperti bisa menduga,siapa pria yang baru saja keluar dari lift ini.Bahkan dari tatapannya saja,ia dapat merasakan luka dan kerinduan itu.


Adiguna beserta beberapa pengawalnya berjalan dengan tegap,melewati sepasang pasutri yang membeku,tanpa menoleh tanpa sepatah kata.


Seperti tak saling kenal,wajah itu tanpa ekspresi.


Tapi,siapa yang tahu akan isi hati manusia?


Rojali memejamkan matanya,berusaha mengusir rasa yang berkecamuk tak karuan di hatinya.

__ADS_1


Ingin rasanya ia menjerit sekencangnya,memaki di depan wajah sang papa.


Karena untuk menyakitinya,seujung kuku pun Rojali takkan tega.


Kenapa papa nya begitu keras hati?


Kapankah ia akan menyadari,bahwa semua yang ia pertahankan akan menghabisi semua yang ia miliki.


*Flash back on*


Di sebuah bangunan tinggi pencakar langit,seorang pria paruh baya menggenggam pinggiran jendela.Terlihat ia meremasnya kuat,demi menahan gejolak hebat di dalam hatinya.


Seandainya ini kantor pribadinya,sungguh ia takkan segan menghancurkan kaca jendela ini sekalipun.


Ia yang baru saja sampai dan hendak bertemu langsung dengan koleganya.Kini harus bertolak kembali ke negara asalnya.


Kebetulan cuaca di negara gajah putih itu sedang tidak bersahabat,sehingga menganggu landasan penerbangan.


Mengakibatkan kepulangannya di tunda hingga beberapa jam ke depan.Padahal jelas,ia sudah menunda semua agenda nya hari ini.


Meskipun ia sudah menyewa jasa jet pribadi,tetap saja akan sangat beresiko bila memaksakan melakukan penerbangan di saat pandangan terbatas oleh kabut di atas sana.


"Dirga Mahesa!Aku tidak akan mengampuni mu."


Adiguna mengeratkan gigi-giginya,wajahnya terlihat mengeras dan kaku.


Wajah dingin itu semakin terlihat beku dengan ekspresi yang tidak terbaca.


Yang kemudian di jawab dengan disertai anggukan kepala.


Adiguna berbalik,dan kini ia terlihat melepas jasnya kemudian berjalan ke balkon di ujung kamarnya.


Ia butuh udara segar untuk mengisi oksigen yang hampir mencekik paru-parunya saat ini.


Meskipun udara serasa sejuk,namun ia merasa dadanya kian sesak seakan terhimpit benda yang keras dan berat.


Ia takkan sanggup, bila harus kehilangan wanita yang dicintainya itu dengan cara yang seperti ini.


*Flashback off*


___###___


Sementara itu di suatu tempat.


"Bagaimana?"tanya seorang lelaki berkulit sawo matang,dengan bekas luka yang memanjang di pipi sebelah kirinya.Serta tato yang menjalar dari lengan kanan hingga ke bahunya.


Ukiran naga berwarna hijau tua dan merah,terlukis dengan estetik diatas kulitnya yang eksotis.


Air menetes dari sekujur tubuhnya yang baru saja naik dari kolam renang luas di mansion mewah itu.


Kemudian ia mengenakan jubah handuk yang di berikan oleh pengawal setianya,yang sedari tadi berdiri menunggunya.

__ADS_1


"Dia belum mati,Tuan." jawab pria yang berpakaian preman itu.


Dengan anting kecil yang tersemat di cuping telinga kirinya.


Rambut kucai berantakkan dengan keringat yang membanjiri pelipisnya.


Mungkin karena sudah sejam lebih ia berdiri di bawah terik matahari.


"Dan,ini laporan lengkap tempat kejadian perkara." Pengawal berbadan kekar itu meletakkan amplop coklat di atas meja bundar di tepi kolam.


Sedangkan tuannya yang berusia tak lagi muda itu,namun masih menjaga kebugaran tubuhnya.


Hingga bentuk tubuhnya masih gagah dan tidak berkeriput.


Santai saja menyeruput minuman dingin berwarna orange itu.


"Aku percaya dengan cara kerja mu,Jo!"


"Kurasa,wanita bodoh itu sedang meregang nyawa saat ini,dan aku tinggal menunggu kehancuran dari pria yang sok pintar dan sok jagoan itu.Hahahaha!" Tawa lelaki yang berusia kurang lebih setengah abad itu,menggema ke seluruh mansion mewah,yang sengaja di bangunnya di atas bukit.


"Tetapi Tuan,ada berita buruk yang baru saja saya terima," jelas pengawal itu hati-hati sembari menyalakan pemantik ke batang rokok hitam yang di hisap oleh lelaki bertato naga tersebut.


Lelaki berumur dengan bekas luka di wajahnya itu mengernyit,kemudian tatapan tajamnya yang seakan pedang menghunus ke dalam mata sang pengawal.


"Kau tau, aku paling tidak suka menerima kabar buruk bukan?"


"Ta,tapi_Tuan,ini mengenai putra Adiguna Brotoseno," dengan terbata dan sedikit gemetar sang pengawal berbicara.


Pranggg....


"Jangan sebut nama pencuri sialan itu!" hardik lelaki bertato itu sambil melempar apa saja yang ada dihadapannya.


Sang pengawal menyesal,ia pikir ini adalah waktu yang tepat mengabarkan berita itu.Ternyata ia salah,namun tuannya tetap harus tahu.


"Maaf,Tuan,tapi anda harus tahu berita ini,bahwa putra nya Adiguna ternyata masih hidup," jelas nya dengan memberanikan diri meski agak gemetar.Karena si pengawal sangat hafal tabiat sang tuan bila sudah marah.


"Ternyata kau mencoba mempermainkan ku,Adiguna." Lelaki itu menggeram,tangan besarnya mengepal kuat,hingga rokok hitam besar yang berada di genggamannya hancur tak berbentuk.


"Kau tau apa harus kau lakukan,Jo!Dan,aku tidak menerima kegagalan.Buat si pencuri tengik itu menyerahkan semua harta dan jabatannya padaku."


Lelaki bertato naga itu berlalu setelah sebelumnya menginjak-injak isi dari amplop coklat,yang sudah berserakan di bawah kakinya.


Sang pengawal menundukkan kepalanya pelan.


Setelah ia mengangkat wajah garang nya itu,terlihat bibirnya menyunggingkan sebuah seringai mematikan.


Haaa...


Pasti pada nebak-nebak buah manggis kan🀣🀣


chibi kabooorr dulu...mo ngejar si ilham yang minggat gak bilang-bilang.

__ADS_1


BayyπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈ


__ADS_2