
π
Jangan sibukkan dirimu dengan mengejar cinta.
Karena bila nanti datang masanya, ia akan berlabuh di hati yang semestinya.
Sibukkan saja dirimu dengan merayu Sang pemilik hati, Sang penguasa cinta
π
***~~~***
Kami hanya saling bertatap, dengan netra yang saling mengunci.
Entah terkesima, atau tak percaya dengan cara jalan pertemuan kedua kami.
Wajahnya begitu pucat, matanya yang teduh semakin sayu.
Tangannya di pasangi selang infus.
Dia yang selengean dan tengil, kini terbaring lemah di atas ranjang kecil rumah sakit.
Aku pun mengerjapkan mataku, ketika kesadaran kembali menguasai ku.
Dia juga sepertinya tersadar, bahwa sedari tadi aku memperhatikannya.
Tidak ada satupun dari kami yang mampu berucap, meski sepatah kata pun.
Seketika aura kecanggungan itu merebak, memenuhi ruang di antara kami berdua.
Entah kenapa bibir dan lidah ku ini kelu seketika.
Aku pun sempat melirik sekilas, dia yang hendak membuka suara tapi lekas menutupnya kembali.
(Aih, kenapa jadi begini)
(Tinggal nanya aja apa kabar)
(Hei, ngapain nanya, kan itu dah liat kalo dia lagi celentang di ranjang rumah sakit dengan selang infus ditangan)
(Terus, gimana? Aku harus ngomong apa dong?)
Capek mendengar hati dan otakku yang terus saja berdebat, aku pun memutuskan akan mulai menyapanya lebih dulu.
"Kamu, "
Serentak kami berdua bicara berbarengan.
Dan suasana canggung itu pun semakin menjadi.
Ku remas -remas tali tas selempang ku, demi mengusir malu.
Kulirik dia pun sama salah tingkah juga sepertiku.
(Haish, kenapa kita jadi kayak bocah baru mangkat gede si?)
Aku menghela nafas pelan, mengusir grogi yang bertengger di atas hidungku.
Karena sejak tadi aku tidak berani mengangkat wajahku.
"Emm, kok Dek Fatimah bisa ada disini? " tanya Rojali pelan dengan suara yang agak lemah dan lebih serak dari biasanya.
(Akhirnya dia nanya juga)
(Kirain mau maen malu-malu meong ampe sore?)
"Hah, i, itu... Aku mau besuk sodara ku di lantai atas gedung ini, "
jawabku sedikit terbata, sepertinya aku sedikit syok dengan kenyataan di hadapanku sekarang.
Tidak ada dalam angan ku, bertemu kembali dengannya, dalam keadaannya yang seperti ini.
(Hah, angan?)
(Apa aku mengakui bahwa selama ini aku sering memikirkan cara pertemuan kami?)
(Eh, maksudku bukan begitu, tolong readers jangan salah faham dulu!)
"Jadi begitu?"
"Hmm, maaf ya kalau pertemuan kita malah dalam keadaan saya yang kayak gini? "
__ADS_1
"He, saya sempet kaget aja tadi, "
"Saya fikir saya udah ada di alam lain, soalnya..., "
Rojali bukannya meneruskan kata-katanya, tapi malah menatapku dalam.
"Soalnya apa, apa? "
tanyaku heran sekaligus khawatir, dan seketika aku merasa merinding.
"Soalnya ada bidadari, "
ucap Rojali dengan seulas senyum tipis, dan jangan lupakan matanya yang masih menatapku intens.
Seketika kedua pipiku menghangat, mungkin sudah tercipta semburat merah,kuning,hijau,biru,ungu di sana.
(Kenapa hatiku seperti ada kupu-kupu nya? )
(Kenapa rasanya semenyenangkan ini,hanya karena mendapat gombalan receh dari pemuda seperti dia. )
(Huh, aku harus bertahan)
(Keluarkan jurus kebal rayuan maut mu Fatimah)
Aku berusaha menetralkan kembali degup jantung, dan rona di wajahku.
Semoga dia tidak menyadari perubahan warna di wajahku sesaat tadi.
"Lagi terkapar juga, masih aja gombal, "
ucapku berlagak biasa saja.
Ia pun terkekeh cukup lama, entah apa yang lucu?
Ia kembali menatapku,dengan senyum smirk nya.
(Ni cewek, udah jelas tadi dia tersipu, sampe setengah mateng gitu mukanya)
(Sekarang pake sok kebal )
(Oke, eneng jual abang beli!)
(Sandiwara dikit kagak dosa kali yak?)
"Ekhm, Saya emang kagak bisa gombal ke cewek, maap dah kalo garing, "ucapnya setelah ia menghentikan tawanya.
" Makanya belajar dulu sama Denny cagur si raja gombal, "
ucapku dengan sedikit kekehan, karena merasa lucu sendiri dengan saran yang ku berikan secara asal itu.
"Oh, kalo saya udah belajar sama kang Denny, berarti saya boleh gombalin Adek gitu? " tanya Rojali dengan senyum yang sedari tadi tak lepas dari bibirnya.
(Sebahagia itukah dia ketemu aku?)
(Dih, sendirinya juga seneng,)
(Iya sih, eh)
Ingin rasanya aku mencubit hati ku.
Karena beraninya dia menghianatiku.
"Coba aja, "tantangku sambil bersidekap.
" Okelah, oke, sehat nanti saya akan langsung berguru sama kang Denny, "
"Saya jamin Adek bakalan klepek-klepek deh, "
Sahut Rojali dengan yakin sambil memainkan alis nya naik turun.
"Kita liat aja nanti, "
Ucapku,sambil tersenyum miring menyepelekannya.
"Adek gak pegel apa berdiri terus?"
"Itu ada bangku, duduk gih, "
tunjuknya pada kursi di sebelah ranjangnya.
"Ah, enggak Bang, aku mau pamit besuk sodara aku dulu ya, udah di tungguin juga, "
__ADS_1
"Nanti mereka kira aku nyasar lagi di rumah sakit ini, " tolak ku sambil sesekali melihat angka pada jam yang melingkar manis di pergelangan tangan kiri ku.
"Tapi nanti adek masih mau nemuin Abang kan? " tanya Rojali dengan ekspresi memelas.
(Jadi dia ngarep aku temuin dia lagi, kirain cuma sampai di sini aja kebetulannya bang?)
(Gak usah masang muka melas gitu juga, kalo boleh milih, aku lebih baik di sini aja , nemenin abang, eh)
"Ehm, insyaallah ya, " hanya itu kata yang bisa ku keluarkan dari bibirku.
"Yaudah, kan sebentar lagi Abang mau di pindah ke kamar perawatan, "
"Jadi, Adek ketik aja nih nomer nya di hape ini, biar nanti bisa Abang hubungin, "
(Sejak kapan sih kita punya panggilan abang-adek?)
(Sok akrab deh)
Hati dan mulut yang tidak pernah akur.
Padahal seneng aja di panggil gitu.
Eh,
Mau gak mau, aku pun mengetik nomer hape ku.
Kemudian aku berlalu, meski kulihat dia berat melepasku.
Ciee...
Takut ilang ya bang adek nya?
Sampai di luar aku pun berpamitan dengan dua orang tetangga Rojali itu.
Aku bergegas ke lantai atas, dengan naik lift.
Ku tekan lantai 3,setelah keluar dari lift,aku segera mencari kamar melati nomer 128.
Ketemu,
Ku buka pintunya,
"Klekk"
"Assalamu alaikum! "
Ucapku memberi salam, kemudian menghampiri bibi ku yang sedang duduk di samping ranjang.
"Waalaikum salam! "
Jawab penghuni ruangan itu ruangan itu serempak.
Karena Diana di rawat di kamar kelas lll, sehingga ada beberapa ranjang saling berhadapan di dalam ruangan ini.
Sudah ku duga, tidak hanya ada bibi di sana.
Tapi ada juga adik dari ummi satu nya lagi.
Beserta anak gadisnya yang usianya setahun di bawahku.
Mereka menatap ku dengan senyuman, tapi, entahlah...
Aku merasa aura diskriminatif sebentar lagi akan menyeruak.
Aku menghampiri mereka dan menyalaminya satu persatu.
"Kamu dateng Fatimah? "tanya bibi ibunya Nadia.
" Iya Bi, Ummi gak bisa kesini soalnya Ayah juga lagi pemulihan, "
ujarku memberi alasan yang logis.
"Gimana keadaan Nadia,Bi?"
tanyaku sambil melihat ke atas ranjang dimana seorang perempuan muda sedang tertidur, dengan selang oksigen yang melingkari hidungnya.
Bibi pun menghela nafas sesaat sebelum menjawab pertanyaanku.
Terlihat aura sedih dan kecewa nampak dari raut wajah nya.
Terus dukung author dengan pencet like, komen dan sajenπ
__ADS_1
Aku sayang kaliaaann...π