Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Ngajak ngelenong


__ADS_3

🌳🌳Sebagus apapun jasad.


Suatu saat, akan di pendam kedalam liang lahat.


Di makan oleh belatung dan di kerubuti ulat.


Tapi, tidak dengan jiwa.


Karena ia akan di angkat ke langit untuk menghadap kepada Robb-NYA.


Lalu, apakah kita akan menghadap illahi dengan dengan jiwa yang buruk rupa?


🌳


***~~~***


"Kok sampe kaget gitu? "


"Bengong ya? "


tanya sang pengemudi yang mahir dalam mengendarai kendaraan beroda dua itu, meski kendaraan legend sekalipun.


Akan tetapi, payah dalam mengemudikan hati sang gadis pujaan.


Bahkan sudah hampir tiga bulan kebersamaan mereka.


Namun, tidak ada respon berlebihan. Bahkan,tanda-tanda atau sinyal yang mengisyaratkan dirinya untuk maju ataukah mundur.


Tapi, si hati kecil berkata:


Pantang pulang sebelum perang!


Jangan padam sebelum berkobar!


Hingga disinilah Rojali, mengeluarkan inti atau jurus terakhir dari perjuangannya.


Apapun hasilnya nanti.


Semoga sang hati siap untuk menerima.


"Eh, enggak si, "


"Cuma, lagi mikir ini kita mau kemana? "


"Kok, bukan lewat jalan biasa? "


Jawab Fatimah berusaha menutupi kegelisahannya.


"Abang, mau ngajak kamu makan, "


"Jangan nanya di mana, soalnya ini supres, hehe. "


Rojali terkekeh, sambil membayangkan raut kebingungan gadis yang di boncengnya ini.


"Dih, pake maen sepres-sepresan segala,"


protes Fatimah berpura merajuk.


Meski terlihat cuek, namun ujung bibirnya tetap melengkungkan senyum.


Dalam hatinya pun sebenarnya bersorak.


Karena, sifat perempuan itu memang paling senang kalau di beri kejutan.


Berasa kayak sepesial gituh.


Akhirnya Rojali melambatkan laju roda si Jambul.


Karena kini mereka memasuki latar parkir sebuah Cafe mungil.


Meski tak terlalu besar dan luas.


Hingga tidak menampung banyak pengunjung.


Namun, Cafe ini cukup menarik dengan arsitekturnya yang sederhana namun menciptakan kesan yang menenangkan dan romantis.


Dengan lampu yang teduh dan warna cat yang tidak terlalu mencolok.


Serta kursi dan meja yang berbentuk oval.


Fatimah mengedarkan pandangan nya pada sekeliling bangunan.

__ADS_1


Hingga pandangannya berhenti pada sebuah kursi yang di tarik oleh Rojali.


"Silahkan yang mulia Ratu, "


ucap pemuda tengil itu sambil menundukkan kepalanya.


Fatimah tekekeh pelan, kemudian memukul pelan pundak Rojali.


"Apaan si? "


"Mau ngajak aku makan apa maen drama? "


ucapnya setengah berbisik karena takut di dengar pengunjung lainnya.


Karena sikap Rojali barusan sudah mengundang beberapa mata kepo untuk sekilas melirik mereka berdua.


"Ngajak ngelenong, "


sarkas Rojali gemas, sambil menarik kursi untuknya.


Sepertinya,gadis di hadapannya ini tidak bisa di ajak romantis.


(Aish, bersikap manis malah di anggap maen drama)


(Percuma dong dua jam gue nonton drakor)


(Baru pembukaan aja gue udah di ketawain)


Kemudian seorang pelayan menghampiri mereka menyapa dengan ramah dan menyodorkan buku menu.


"Mau pesen apa? "


Serempak dua sejoli yang belom resmi ini berucap.


Rojali mengulum senyumnya.


Begitupun Fatimah, ia menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan senyumnya.


"Samain aja! "


Mereka berdua pun terperanjat dan akhirnya tertawa,karena sudah dua kali berucap secara berbarengan.


ucap sang pelayan wanita itu, menghentikan kekehan keduanya.


Sebelum menjawab mereka saling menatap.


Hingga pada akhirnya, Fatimah memilih menu soto daging betawi dan segelas jeruk peras hangat.


"Oke, soto betawi satu dan iga bakarnya satu ya, "


"Kemudian minumannya, jeruk peras hangat dan es teh manis. "


Sang pelayan mengulangi lagi pesanan yang di tulisnya di buku catatan menu.


"Mohon di tunggu ya! "


Pelayan wanita yang berpakaian sopan itu pun pamit undur diri.


Sepeninggal pelayan itu, tersisalah kecanggungan di antara mereka berdua.


Fatimah memutuskan untuk mengotak-atik gawainya.


Ia merasa deg-deg an bila duduk berhadap-hadapan dengan laki-laki tengil yang selalu membuatnya tertawa ini.


Dengan sangat sadar, ia tahu bahwa pria di hadapannya, sedang memperhatikannya dalam dan intens.


(Berenti napa si, merhatiin aku nya)


(Langsung keram ni pipi aku nahan grogi)


Meski netra nya menatap penuh ke layar enam inchi tersebut.


Tapi ekor matanya, memperhatikan gerak-gerik dan gestur pria yang duduk di seberang mejanya.


(Ni cewek ya, kok malah sibuk maenin hape si?)


(Gue udah keren kayak gini, masa gak di liat juga sama dia?)


"Dek, sebenernya..., "


"Maaf, Bang, aku ke toilet dulu ya, "

__ADS_1


pamit Fatimah dan segera berlalu dari tempat menegangkan itu.


"Huuhhh, mau ngomong malah di tinggal, "


Rojali menghela nafas dan merebahkan punggungnya sandaran kursi.


Ia mengusap wajahnya pelan.


(Apa dia punya perasaan yang sama?)


(Kenapa kesannya dia kayak menghindar)


Rojali menggaruk rambutnya, kemudian merapikannya lagi.


Ia merentangkan tangannya.


Menarik nafas dalam, dan menyemangati dirinya dengan mengepalkan tangannya di udara.


"Hamasah! "


(Tidak ada perjuangan yang mudah bukan?)


(Bahkan ini baru awal)


Senyum percaya diri itu pun kembali terlukis di paras rupawan nya itu.


Bahkan ia sempat di lirik beberapa perempuan di sana.


Bahkan bisik-bisik itu pun sempat tertangkap di indera pendengar Rojali.


"Kok kayak pernah liat si? "


"Ganteng banget beb! "


"Iya, artis bukan si dia? "


"Mirip suaminya Marsya and d'bear ya, eh, Marsya Timothy mkasudnya. "


Tiga perempuan itu pun mengikik bersamaan.


Rojali menolehkan pandangannya ke jendela luar.


Menatap langit sore yang hampir senja.


Ia menghembus nafas nya pelan.


(Malesnya gini nih, kalo gue dandan rapi)


Sementara itu di toilet khusus wanita.


Fatimah berkali-kali mengusap wajahnya dengan air dingin yang mengalir dari keran di wastafel.


Ia menatap pantulan wajahnya di cermin.


Untung saja, toilet Cafe tersebut sedang sepi.


"Fiuuhh, "


Ia menghembuskan nafasnya keras.


Membuang sesuatu yang sudah menghimpit dadanya sedari tadi.


Ia merapihkan pasmina lebarnya.


Mengeringkan wajahnya dengan tisu.


Kemudian sedikit memoleskan pelembab.


"Apa yang ingin di lakukannya? "


"Tidak mungkin seperti apa yang ada di isi kepalaku ini kan? "


"Tidak,tidak...,"


Fatimah menggeleng sambil memejamkan matanya.


"Tapi..., bagaimana kalau iya? "


Apa si neng, wkwkwkwk...


pencet like woi, jangan jadi readers ghoib napah😅

__ADS_1


__ADS_2