Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Pertolongan datang


__ADS_3

๐ŸŒต**Menangislah,


Karena kau memang makhluk yang berperasaan.


Dan juga membuktikan bahwa,kau memang makhluk yang lemah.


Sekuat apapun dirimu, hatimu adalah seonggok daging, bukan sepotong kayu**.


๐ŸŒต


***~~~***


"KAKAAKK...! "


Fatimah terjerembab, menghajar marmer yang dingin dengan tubuhnya.


Ketika si codet berhasil menangkis serangannya dan mendorong tubuhnya dengan kasar.


Hampir saja kepalanya membentur pot besar yang terpajang di pojok ruangan.


Nur memekik keras, setelah bekapan di mulutnya berhasil terbuka.


Itu adalah efek karena Nur menggigit telapak tangan yang membekap mulutnya dengan kencang.


Hampir saja ia bisa melepaskan diri.


Tapi, pria bertubuh besar itu kembali menariknya dan menghadiahkan sebuah tamparan yang cukup keras.


"Gadis yang nakal!"


"Ku pastikan, kau akan jadi milikku, hahaha...! "


Setelah mendaratkan telapak tangan kasarnya, di pipi mulus gadis 19 tahun itu,si pria berbadan besar itu terbahak dengan mata yang nyalang dan sebelah tangan yang masih mencekal kuat pergelangan Nur.


Mata Nur memerah menahan geram yang bergemuruh di dadanya, dan perih yang menjalarkan panas di area wajahnya.


(Bodyguard kurang ajar!


Bahkan kedua orangtuaku belum pernah mendaratkan tangannya di pipiku!)


Dengan segenap tenaga yang tersisa, bercampur baur dengan amarah yang berkobar. Seakan menyalakan kembali semangat untuk melancarkan serangan balasan.


Nur menggapai rambut si pria yang mencekal tangan sebelah kanannya, dengan tangan yang satunya lagi.


Setelah dapat,ia menariknya kebawah dengan kuat kemudian Nur menaikkan lututnya ke atas dengan kekuatan penuh.


"JEDUGH... "


"AAKHH...! "


Sang bodyguard berbadan besar itu pun seketika terhuyung kebelakang, sambil memegangi hidungnya yang mengucurkan cairan merah berbau anyir.

__ADS_1


Tidak hanya sampai di situ, Nur menghadiahkan sebuah jurus yang di beri nama"Tendangan Bayangan".


Membuat seketika tubuh sang pria berbadan besar itu terjengkang dan terkapar.


(Apakah si brengsek itu sudah pingsan?)


Nur mengecek keadaan sang bodyguard yang sudah roboh itu, dengan menendang kaki nya berkali-kali.


Tanpa respon, kiranya pria itu benar-benar kalah.


Kau salah sudah menganggap lemah lawan mu, bung! (author)


Nur menghela nafas lega.


Ketika ia menengok ke depan, kearah Fatimah berada.


Nafasnya seakan tercekat, bahkan ia seakan tak mampu mengeluarkan kata untuk berteriak.


Fatimah yang keadaannya sudah terjerembab, dengan luka lebam hampir di sekujur tubuhnya ia berusaha sekuat tenaga untuk kembali bangun.


Namun, dari arah belakang sang bodyguard berhasil mencekal kakinya, menariknya hingga terseret.


Pria berbadan besar itu baru saja menggapai ujung pasmina nya yang menjuntai.


Ia menariknya, namun Fatimah menahannya dengan sekuat tenaga.


(Lindungi aku Ya Allah, biarlah tubuhku hancur!


Ketika sang bodyguard jahara itu hendak mencekal tangan Fatimah yang menghalanginya ,untuk melepas pasmina yang menutupi kepala sang gadis yang menatapnya dengan tatapan nanar penuh permohonan.


Dari arah belakang sang bodyguard, sebuah tendangan menghujam berhasil membuatnya, terhuyung ke samping.


Pria itu menggelengkan kepalanya , mengusir rasa pusing dari serangan yang tiba-tiba datang itu.


Tapi lelaki di depannya yang terlihat merah padam pada air mukanya, bahkan rahangnya sangat mengeras.


Menciptakan tonjolan urat-urat di lehernya membesar.


Ia menatap tajam dan nyalang dengan netra yang memancarkan sorot penuh amarah.


Ia menguatkan buku-buku di jarinya, mengepalnya dan kembali menghantam tanpa ampun.


Lelaki itu memukul, menendang, dan terakhir memelintir satu tangan sang bodyguard.


Hingga menimbulkan bunyi nyaring,dari suara benda yang patah.


Seketika, suara memekik dari sang bodyguard pun memenuhi ruangan yang di penuhi meja dan bangku di tiap sudutnya itu.


Ia terkapar dengan keadaan babak belur dan tangan patah.


Dengan serangan yang bertubi-tubi dari lelaki yang memiliki ban hitam pada olahraga cabang pencak silat itu.

__ADS_1


Membuat keadaan pria berbadan besar yang sudah menyerang Fatimah, tak berdaya.


Bisa di pastikan pria itu akan koma beberapa hari kedepannya, bahkan beresiko gegar otak.


Sungguh mengerikan melihat pria yang sedang jatuh cinta, marah.


Apalagi, ini menyangkut dengan gadis pujaan hatinya.


(Centeng cemen!


Berani nya elu udah bikin gadis gue babak belur, SI*LAN!)


(Gue aja, enggak berani untuk sekedar megang tangannya!)


Lelaki berambut gondrong itu, terus saja mengumpat di dalam hatinya.


Ia bahkan melempar jaket lusuh berwarna hijau itu, ke wajah pria yang terkapar tanpa daya di lantai dingin cafe itu.


Emosinya seketika mereda, ketika suara lembut itu menyebut namanya.


"Cukup Bang! "


seru Fatimah, menghentikan tindakan yang bisa di lakukan lebih jauh lagi, oleh lelaki yang beberapa saat lalu di hubunginya, secara tak sengaja.


Flashback on*


Ketika Fatimah sedang berjalan menuju, ruangan privat.


Secara kebetulan ia memang sedang membalas pesan dari lelaki yang berprofesi sebagai ojek online itu.


Ketika Fatimah memasukkan benda tipis berlayar 6inchi tersebut, tanpa sengaja ia malah menekan tombol dial.


Sejak saat itu, lelaki yang hendak mengantar orderan go food yang sudah membuatnya mengantri,


selama lebih dari satu jam itu,


membelalakkan matanya.


Ketika ia mendapati setiap situasi berbahaya dan bahkan berpotensi besar,mengancam nyawa gadis yang selalu diselipkan namanya di dalam doa yang terpanjat,di sepertiga malam,beberapa waktu belakangan ini.


Spontan ia memutar balik kendaraan roda duanya.


Putar arah, tancap gas sekencang-kencangnya.


Untung saja, Fatimah sudah share lokasi dimana ia berada saat itu.


Flashback of*


Segini dulu ya kesayangannya aku...


Dukung author terus ya,

__ADS_1


Jangan lupa ritual dan sajennya... uhhuii


__ADS_2