Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Ampun bang jago!(21+)


__ADS_3

___πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯__


Dua insan itu terlihat mengatur napasnya, yang seperti habis melakukan lari maraton. Fatimah menengok ke arah lelaki yang telah memasukinya, sebanyak dua kali pagi ini. Sensasi luar biasa yang dapat ia rasakan kini. Berbeda,dengan ketika pertama kali, karena penyatuan barusan tidak menyisakan sakit dan perih lagi. Justru, ia seakan mabuk di buatnya. Hingga suara-suara aneh, yang belum pernah tercipta dari pita suaranya, bisa keluar sebebas itu dari kedua bibir nya. Menyisakan semburat malu, di wajah betawi campuran arab itu.


"Kenapa kau tidak menahannya tadi, bikin malu saja...aaaaa!"


Alhasil, gadis yang akhirnya sudah tidak gadis lagi itu, menutupi seluruh wajahnya dengan kain selimut.


"Kenapa di tutupin." Rojali menarik kain itu kebawah, hingga melewati dada Fatimah. Membuatnya reflek menjerit.


"Aaaakk...! Iih, Abang apa-apaan sih!" sungutnya karena tubuh polos bagian atasnya terekspos lagi.


"Abang, kan udah liat juga, ngapain teriak coba?" goda Rojali coba menurunkan lagi, ujung selimut yang di pegang dengan erat oleh istri menggemaskannya itu.


"Auk,ah! Abang ih...sana deh, udah dua kali kan, sekarang bebasin aku!" protes Fatimah dengan gaya merajuknya yang semakin menggemaskan bagi lelaki yang ada di atasnya itu.


Rojali hanya melengkungkan senyum manisnya, yang ternyata senyum itu, telah berhasil membuat rona kemerahan itu merekah dari kedua pipi Fatimah.


"Emang ada bates nya ya? hmm." goda lelaki gondrong itu, malah sekarang di tambah dengan sentuhan di sekitar pipi.


"Bang, ih... Adek mau mandi," lirih Fatimah yang sudah mulai terbawa suasana. Terdengar dari nada suaranya.


"Iya, abis ini, Abang janji deh, kita bakalan mandi," rayu Rojali kepada sosok elok nan molek yang kini berada di bawah kungkungan nya.


"Hah, si abang udah minta lagi aja, kenapa dia gak ada capeknya sih? tubuhku udah mau remuk ini, huhu..."


"Adek mau nya mandi sekarang, aku juga udah laper! Dari tadi kerja terus tapi gak di kasi makan," omel Fatimah dengan bibir yang di majukan, sungguh lucu di mata Rojali.


"Iya, abis ini,Cup! Abang kasih makanan yang enak-enak buat kamu,Cup!" rayu Rojali di sela-sela kecupan curiannya.


"Emang, gak bisa gitu, nanti lagi aja, ini badan udah lengket semua....," usul Fatimah, mencoba negosiasi dengan suami perkasanya ini. Meski hatinya menolak, namun respon tubuh telah mengkhianatinya. Meskipun ia juga menginginkannya, akan tetapi tubuhnya juga butuh asupan, demi mengganti seluruh energi nya yang sudah terkuras sejak subuh tadi. Itu logikanya.

__ADS_1


Akan tetapi, kenapa tubuhnya malah macam cacing di tabur garam. Heran?


Hingga kini matahari sudah merangkak naik, mereka masih saja bergulat di atas ranjang yang sudah tak berbentuk ini.


"Tapi si doi sudah berdiri sejak tadi. Adek tega, hemm?" Rojali terus melancarkan serangan demi serangan meskipun kalimat penolakan itu terus keluar dari bibir seksi sang istri. Perutnya juga lapar, tapi tenaganya seakan tidak ada habisnya, ia ingin terus merasakan sensasi nikmat yang baru dia rasakan seumur hidupnya. Ia begitu gila dan rakus akan tubuh sang istri. Setelah ia merasakan pusat intinya tertanam pertama kali. Ia tidak bisa menahan gelora yang kini datang lagi, dengan membawa sengatan panas ke setiap sendi tubuhnya.


Tubuh molek di bawah nya ini menggeliat tak karuan, ketika jemari nya terus menari memainkan sesuatu yang empuk dan pas dalam genggaman tangannya. Sesekali ia mengelus pelan pucuk yang berwarna coklat muda itu, bentuknya kecil dan lucu. Menarik hasrat nya untuk membenamkan diri di sana. Kini lidahnya ikut bermain-main, membuat sang empunya me racau dan semakin bergerak dengan liar. Fatimah menjambak rambut gondrong yang terurai bebas itu, tatkala bibir sensualnya menyesap hingga meninggalkan jejak, yang tidak akan hilang dalam beberapa hari ke depan. Rojali mengangkat kepalanya, menyambar bibir yang sedari tadi mengeluarkan desah dan erang yang membuat gelora hasratnya semakin menggebu.


Di awali dengan kecupan ringan, namun, Fatimah yang sudah di selimuti hawa panas di sekujur tubuhnya, membalas serangannya itu dengan liar, bahkan ia sudah lihai dalam membelit dan mengisap.


Rojali melepaskan tautannya, membuat si pemilik buah plum yang merona alami itu, mengeram.


"Abaaang..., ekhmm...," desah itu lolos keluar dari bibir Fatimah tanpa sensor. Ia sungguh tak sanggup menahannya. Lagipula, dinding kamar ini kedap suara bukan?


Yah, mereka bebas untuk berteriak bahkan melengking.


Rojali turun dan menyesap leher yang putih dan mulus. Tadinya, karena sekarang sudah banyak jejak merah kehitaman yang ia ciptakan di sana.


Lantas, ia segera memposisikan serdadu di hadapan benteng musuh. Fatimah yang masih belum terbiasa melihat sang serdadu tegak berdiri dengan gagah perkasa, hingga timbul urat-urat di sepanjang tubuhnya. Ia lantas memejamkan matanya, dan menarik nafasnya ketika kepala si serdadu itu menabrak benteng pertahanannya, meskipun sudah koyak tapi tetap saja agak susah. Hingga, membutuhkan beberapa kali dorongan, akhirnya kepala dan tubuh si serdadu gagah, terbenam sempurna.


Alunan desah nan merdu sukses terucap dari Fatimah, ketika Rojali memompa dirinya perlahan. Ketika gelora itu semakin tinggi, hingga suhu tubuh naik, dan menciptakan bulir-bulir keringat, bersatu padu pada raga yang menempel tanpa celah. Gerakan naik turun itu pun semakin cepat.


Rojali merasa sudah di ujung batasnya, begitu juga pada wanita di bawah kuasanya itu.


" Bareng ya, sayaaaangg...!"


"Ough...!"


Lelaki berambut gondrong itu, mengeram nikmat, hingga tubuhnya melenting bak serigala yang sedang melolong. Aaa...uuuu...!


"Makasih ya... Cup!" Sebuah kecupan singkat mendarat dengan mulus di kening yang juga mulus dan licin itu. Rojali yang puas pun, melepaskan intinya, kemudian beranjak bangkit dari ranjang yang menjadi saksi bisu percintaan panasnya.

__ADS_1


Ia menutupi tubuh polos itu dengan selimut, karena sang empunya badan sudah terkapar tak berdaya. Bagaimana tidak, sejak subuh tadi hingga hari beranjak siang, istrinya itu terus di gempur oleh nya.


(Keterlaluan kau, Bang!)


******


Setelah pasangan pengantin itu membersihkan diri mereka.


Kini saat mereka mengisi lambung yang kosong sejak subuh tadi.


Mengembalikan energi dan stamina yang sudah terkuras habis.



Disinilah, pasutri itu menghabiskan sisa siang mereka.Merecharge asupan protein serta karbohidrat. Sarapan yang di rapel sekalian dengan makan siang itu, berjalan dengan damai dan syahdu. Hingga hanya terdengar dentingan sendok yang beradu dengan piring saja. Fatimah sempat melirik singkat pada lelaki di hadapannya, yang sedang memasang wajah tengil tanpa dosanya.


Sungguh menyebalkan!


Kenapa aku tidak mampu menolak pesona nya sih?


Ahh...Bang Rojali!


Adek senut-senut ini...,


Jangan ada minta pertanggung jawaban, mak mao kaboorr....!!


Sekedar info,cerita ini mau end ya.


Besok bab terakhir.


Yok ah! Like yang banyakkkk!

__ADS_1


__ADS_2