Tukang Ojek Itu Jodohku

Tukang Ojek Itu Jodohku
Menjemput di toko roti


__ADS_3

πŸ’¦Tetaplah berbuat baik tanpa berharap balasan baik.


Tetaplah jadi orang yang tulus.


Jangan menyerah dengan kesabaranmu.


Semua akan berbuah manis nanti.


πŸ’¦


***~~~***


*Masih flashback*


Jihan menghubunginya lagi, ketika Rojali sedang berada di jalan.


Kebetulan, ia tidak sedang membawa customer ataupun barang.


Rojali pun mencari tempat yang teduh dan jauh dari keramaian, hiruk pikuk lalu lintas.


Rojali berdiri di bawah sebuah pohon besar.


Rindang dan teduh.


Melindunginya dari sorotan tajam matahari pagi menjelang siang.


Rojali kembali mendial panggilan Jihan yang terputus barusan.


Tuut


πŸ“±"Assalamu alaikum, "


terdengar suara bergetar seorang perempuan di seberang sana.


πŸ“±"Abang? "


mama Mirna membekap mulutnya menahan isakan yang akan keluar.


πŸ“±"Wa, alaikum, salam, Ma..., "


Rojali mengatupkan rahangnya, menahan sesuatu yang membuncah dan siap meledak.


Hening, tiada satupun dari keduanya yang berbicara.


Sepertinya kedua manusia yang mempunyai hubungan darah sebagai ibu dan anak ini.


Sedang menguasai endapan emosi mereka.


Rindu yang mencipta sesak membuat nafas seakan tercekat.


Hingga suara tak mampu terucap oleh lidah yang seketika kelu.


Rojali hanya memejamkan matanya, sambil memegangi dada dengan satu tangannya.


Ia berusaha menetralkan udara yang terasa sulit mengisi paru-parunya.


Sedangkan di seberang sana.


Seorang ibu yang merindukan anaknya.


Mirna, ia terus membekap mulutnya dengan derai air mata yang menganak sungai di pipinya.


Dengan anak perempuan yang setia merangkulnya dari samping.


Mereka,sedang berusaha melebur rindu dari jauh.


Situasi yang menambah tekanan udara hingga menghimpit dada.


Tatkala mereka harus sembunyi-sembunyi, hingga kini mereka berdua berada di dalam ruangan toilet sebuah pusat perbelanjaan.


πŸ“±"Mama, gimana kabarnya? "


Rojali memutuskan memulai percakapan mereka lebih dulu.

__ADS_1


Setelah ia berhasil mengontrol luapan rindu yang hampir meledak.


πŸ“±"Mama, baik, Abang gimana? "


"Maafin, Mama...! "


Mirna kembali terisak.


πŸ“±"Abang kan jagoan, Ma, "


"Jangan kuatirin Abang, "


Rojali menjeda ucapannya sesaat, demi menyuplai kembali pasokan udara yang mencekat tenggorokannya.


πŸ“±"Em, Ma..., "


"Abang, mau minta izin, "


"Abang..., mau melamar perempuan, Ma, "


lanjut Rojali.


πŸ“±"Masya Allah, Abang, "


"Alhamdulillah, "


"Kita harus ketemu ya? "


ucap Mirna dengan mata yang berbinar, karena selain akan mengakhiri kerinduannya dengan putra semata golek nya.


Ia juga akan bertemu calon menantunya.


Sudah sejak lama ia ingin agar putranya melepas masa bujang nya.


Dengan menemukan tambatan hati dan jantung .


Diseberang sana Rojali mengusap wajahnya dan menghela nafas lega.


Sang Mama ternyata sangat antusias dan mendukungnya.


πŸ“±"Siap, Ma, sampe ketemu ya, "


"Nanti Abang atur lagi, "


"Salam buat kinoy ya, Ma, "


Setelah saling memberi salam sambungan seluler itu pun akhirnya terputus.


Terputus,untuk menyambung sesuatu yang sekian tahun telah terpotong jarak.


Jarak yang tercipta karena kekerasan dan keegoisan hati.


Sebentar lagi rajutan kasih sayang dan pertalian darah yang sempat terkoyak itu.


Akan menyatu dan kembali utuh.


Semoga.


*Flashback of*


___πŸ’ž___


Rojali kini sudah sampai di depan toko roti.


Tempat dimana Fatimah bekerja sebagai kasir,selama dua bulan ini.


Ia, menunggu di parkiran, seperti hari biasa ia menjemput sang gadis pujaannya itu.


Sebentar lagi adalah jam pulang dan jam tutup toko.


Ia berniat akan mengajak makan Fatimah di sebuah cafe.


Sekali-sekali, makan di tempat bergengsi.

__ADS_1


Apalagi, mau ngungkapin isi hati.


Siapa tau bisa membuka hati,


yang sekian lama terkunci.


Di bawah pohon bunga nusa indah yang rimbun.


Ia menatap gadisnya yang beranjak keluar.


Belum apa-apa, tapi hati dan jantungnya sudah seperti hendak melompat keluar dari raga.


Udara di sekitarnya tiba-tiba saja menipis.


Membuat paru-paru nya seakan kembang-kempis.


(Kenapa jadi dag dig der gini dah,)


(Mana pake gemeter segala )


Rojali menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Memenuhi rongga dadanya dengan oksigen.


"Bang? "


Fatimah menyapa sambil menatap heran.


Kemudian ia memindai penampilan laki-laki yang selalu ada di saat ia terpuruk dan lemah.


"Rapi banget, mau kondangan? "


tanya Fatimah sambil mengernyitkan dahi nya.


(Ish, ni cewek, gue rapi gini demi dia juga)


(Malah di kira mau kondangan)


"Eh, kagak, cuma mau rapat ntar, "


jawab Rojali keki sambil berlalu ke arah motornya terparkir.


Sedangkan gadis yang tidak peka itu, hanya membulatkan mulutnya.


Hingga membentuk huruf "O".


(Rapat di mana , sekeren ini?)


(Kok, dia laen banget ya hari ini?


Wangi lagi)


Fatimah yang sudah menunggang di jok belakang, masih saja menautkan alisnya.


Tapi mulutnya enggan berucap untuk bertanya.


Padahal, begitu banyak pertanyaan di dalam benaknya saat ini.


Terkait penampilan Rojali yang biasanya selengean dan lusuh.


Kini begitu style, modis, dan wangi.


(Mau rapat apaan si dia?)


(Kok gayanya, kayak orang mau photo shot?)


"Dek, "


panggil Rojali hingga tiga kali, barulah ada sautan dari penumpang sepesial nya ini.


"Ah, eh,"


"Kenapa, Bang? "

__ADS_1


__ADS_2