
___®®__
Bila mengingat kejadian dua hari yang lalu di rumah mewah nan megah itu.
Rasa tak percaya itu seakan menampik realita yang akan terpampang di hadapan.
Ada sedih,emosi dan juga lucu yang membaur jadi satu.
Secepat itu doa-doa nya di kabulkan sang khalik.
Secepat itu restu dan izin ia dapatkan.
Meski ia kini hanya bisa pasrah menerima kenyataan.
Kini ikhlas itu di jalankan,karena keadaan tak patut di sesalkan.
Keterpurukan dan penolakan hanya akan memperburuk keadaan.
Biarlah semua akan menjadi pelajaran dan hikmah di ujung pengalaman.
Ternyata,memang benar janji Tuhan.
Bahwa,tiada usaha yang sia-sia.
Tiada doa yang tidak diijabah.
Hanya satu kunci dari itu semua.
Ikhtiar
Sabar
Dan_ tawakkal.
Ikhtiar dengan segala usaha dan kesungguhan.
Yakin bahwa segala kesusahan dan kesulitan di dunia pasti ada akhirnya.
Berdoa tak kenal waktu pagi siang atau malam.
Berserah hanya kepada illah sang pemilik jalan keluar.
Yang terakhir,ikhlas lah dengan takdir dan jalan cerita dari kehidupan.
Jangan meratapi,tapi jadikanlah cambuk yang akan memecut dirimu untuk memperbaiki diri.
__ADS_1
Karena setiap uji,berguna menempa jiwa.
Setiap rasa sakit dan kecewa,akan membuahkan luka menganga yang siap melebur bulir-bulir dosa.
Karena tiada rasa sakit yang di rasa dan menimpa manusia,selain Allah akan lebur dosa-dosanya.
Meski penolakan yang hampir berakhir kembali dengan pengusiran.
Namun,Rojali ingat pesan Abi Fatih.
Berilah nasihat dengan cara yang baik.
Yang lemah lembut penuh santun.
Karena manusia hanya sebatas menyampaikan kepada manusia lainnya.
Karena soal hidayah,itu urusan Allah.
Allah yang akan menetapkan,kapan hati itu di lembut kan hingga mampu menerima setiap nasihat dan ajakan kebaikan.
Ataukah akan selamanya Allah jadikan keras,sehingga tiada ajakan dan nasihat yang mampu melunakkan nya.
Karenanya,jika hatimu mudah tersinggung akan nasihat dan sindiran.
Bersyukurlah.
Semua itu karena watak keras sang papa dan juga ideologi di dalam kepalanya.
Yang tidaklah mudah patah oleh petuah anak muda yang baginya belumlah makan asam garamnya kehidupan.
Egonya yang tinggi dan sifat arrogan nya.
Membuatnya merasa paling benar dan tidak ada siapapun yang pantas mendikte nya apalagi menasehati nya.
*Flasback*
"Kau_!"
Adiguna tak habis fikir,
bisa-bisanya ia di kelabui benih keturunannya sendiri.
"Temui ku di ruang kerja!"
Setelah mengedarkan netra nya kepada tiga orang di hadapannya.
__ADS_1
Adiguna lantas berbalik dan meninggalkan teras belakang.
Mereka bertiga saling pandang dan terkekeh bersamaan.
Ketika bayangan Adiguna sudah tak terlihat tentunya.
"Huss,"
"Udah yuk,kita susul papa kalian,"
ucap Mirna kepada kedua manusia yang saling menggelitik dan tertawa itu.
"Jadi artis aja gih,sonoh!"
Seloroh Jihan meledek pria tua yang terus merangkul sang mama.
Mereka main lempar tangkap blangkon di belakang Mirna.
"Bisa diem gak sih kalian berdua!"
"Kok gak ada tegang-tegangnya?"
"Kita mau di sidang tau gak?"
"Aku kan cuma mau minta izin,Ma,"
"Tenang aja,"
ucap suara dengan khas serak -serak basah itu.
Mirna hanya bisa menarik nafas kemudian menghembuskan nya kasar.
Sebelum ia mengetuk pintu besar ber cat hitam itu.
Adiguna yang sedang menatap sebuah pigura besar seketika berbalik.
Ia mendaratkan bokongnya di salah satu sofa.
Mirna yang merasa harus memberi dukungan atau rayuan.
Menghempaskan sesaat kesalnya,kemudian ia menghampiri untuk menemani di sisi sang suami kaku dan tak peka itu.
Entah mengapa ia bisa jatuh cinta pada manusia berhati besi itu.
__ADS_1
Papa Adi jangan galak-galak donk.
Nanti di jitak onlen lho sama readers...